TANPA PENA
Anatomi Pualam yang Terbelenggu

Anatomi Pualam yang Terbelenggu

20 Menit Baca
0 Suka
22 Bab

Sinopsis

Kalya Nirwasita telah membangun reputasi sebagai Konservator Tekstil Kuno yang paling teliti di Jawa Timur, sebuah profesi yang menuntut kesabaran mutlak dan jarak emosional yang dingin dari objek yang disentuhnya. Baginya, serat kain kuno jauh lebih jujur daripada manusia, terutama setelah pengkhianatan masa lalu yang membuatnya bersumpah untuk tidak pernah membiarkan siapa pun mengendalikan hidupnya lagi. Namun, prinsip tersebut diuji ketika Pandu Mahardika, Direktur Utama Logistik Maritim yang angkuh dan terbiasa mendikte arus pelabuhan, menyewa jasanya untuk merestorasi pusaka keluarga yang rusak parah. Pandu adalah pria yang hidup dalam paradoks; ia membenci komitmen namun terobsesi pada kesempurnaan dan kontrol. Di balik kemudi korporasinya yang raksasa, ia terjebak dalam taruhan konyol dengan lingkaran sahabatnya untuk tetap melajang dan tanpa ikatan emosional selama satu tahun penuh. Ketertarikan Pandu pada Kalya bermula sebagai tantangan intelektual, namun dengan cepat berubah menjadi obsesi gelap yang mengancam akan menghancurkan tembok profesionalisme yang dibangun Kalya. Kalya menolak untuk tunduk, menciptakan dinamika tarik-ulur yang berbahaya di antara derit kontainer pelabuhan dan keheningan bengkel tekstil. Saat rahasia tentang taruhan tersebut mulai terkuak dan sosok dari masa lalu Pandu kembali untuk menuntut janji lama, dinamika kekuasaan di antara mereka bergeser secara drastis. Kalya harus memutuskan apakah ia akan mempertahankan kemandiriannya yang sepi atau membiarkan dirinya tenggelam dalam gairah yang menyesakkan. Sementara itu, Pandu dipaksa menghadapi ketakutan terbesarnya: mengakui bahwa kontrol sesungguhnya bukanlah tentang memimpin armada, melainkan tentang menyerahkan hati pada satu-satunya wanita yang berani menatapnya dengan penuh hinaan sekaligus keinginan.

Bab 1
published

Serat yang Menolak Putus

Kalya Nirwasita menimbang. Bukan emas, melainkan gumpalan benang sutra yang telah memudar warnanya, terasa ringan namun menyimpan beban sejarah ratusan tahun di telapak tangannya. Matanya yang tajam menelusuri setiap milimeter, mencari simpul paling rapuh di antara jalinan yang rumit. Di bengkelnya yang hening di Gresik, satu-satunya suara adalah dengung pelan dehumidifier dan sesekali gesekan kuas mikroskopis di atas kain. Udara dingin, kering, dan berbau antiseptik tipis yang menenangkan indranya.

Sebuah ketukan keras, berulang, di pintu kayu berukir jati miliknya, sontak memecah gelembung fokus Kalya. Bukan irama sopan tukang pos, atau sapaan ramah dari Fanya, sahabatnya. Ini ketukan yang tak sabar, mendesak, seolah mengklaim hak atas waktunya. Kalya meletakkan benang dengan hati-hati ke wadah steril, gerakan yang dipenuhi frustrasi tersembunyi. Siapa yang berani mengusik kedisiplinannya di hari Rabu siang?

Ia melangkah. Setiap langkahnya terukur, tidak terburu-buru, meski kesal merayapi benaknya. Di balik pintu, seorang pria bertubuh tegap berdiri. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak terlalu rapi untuk iklim tropis Gresik, dan tatapan matanya, di balik kacamata hitam, terasa congkak. Di tangannya, sebuah amplop tebal tanpa label pengirim yang jelas. Kalya menduga ini urusan korporat, sesuatu yang sudah ia tolak tiga kali minggu ini. Ia muak dengan tawaran 'proyek prestisius' yang hanya mementingkan keuntungan, bukan nilai.

"Nona Kalya Nirwasita?" Suara pria itu berat, terbiasa memberi perintah, tidak bertanya. Nada itu saja sudah membuat Kalya ingin menutup pintu.

"Ya, saya sendiri," jawab Kalya, suaranya dingin, mencerminkan tembok yang ia bangun di sekeliling dirinya. "Ada apa?"

Pria itu menyerahkan amplop tanpa basa-basi. "Dari Tuan Mahardika. Undangan pertemuan mendesak. Besok pagi, di kantor pusat."

Kalya menolak menerima amplop itu. "Saya tidak menerima klien baru, apalagi yang mengirim utusan tanpa membuat janji."

Pria itu tidak gentar. Ia membuka amplop itu sendiri, mengeluarkan sebuah kartu tebal berlogo mewah, dan di baliknya, sebuah foto. Bukan foto profil, melainkan sebuah bidikan makro yang buram, menampilkan fragmen kain. Hanya sepersekian detik, namun cukup bagi Kalya untuk menangkap detailnya: goresan retak pada lapisan patina, bekas hangus yang mengerikan, dan pola batik yang samar-samar, namun jelas-jelas usang. Kain itu terluka parah, nyaris tak bisa diselamatkan.

Sesuatu dalam diri Kalya berdenyut. Bukan gairah, melainkan tantangan profesional yang mendalam. Ia membenci intrusi ini, namun kain itu... kain itu memanggil sisi terdalamnya. Ia melihat keaslian di balik kehancurannya, sebuah sejarah yang berteriak minta diselamatkan.

"Tuan Mahardika adalah Direktur Utama Mahardika Logistik. Ini bukan sembarang proyek," kata utusan itu, menyadari keraguan di mata Kalya. "Pusaka keluarga. Rusak parah. Hanya Anda yang ia inginkan."

Kalya merebut foto itu dari tangan pria tersebut. Jari-jarinya bersentuhan sejenak, terasa dingin di kulitnya. Kain itu. Nilai sejarahnya pasti tak ternilai. Tetapi tuntutan pria angkuh ini, yang bahkan tidak datang sendiri, mengganggunya. Ini pasti tentang kontrol. Kalya menarik napas. "Sampaikan pada Tuan Mahardika, saya akan datang. Tapi saya tidak suka didikte."

Pria itu tersenyum tipis, senyum kemenangan yang membuat Kalya ingin merobek foto di tangannya. "Baik, Nona. Sampai jumpa besok." Ia berbalik dan melangkah pergi, menyisakan Kalya yang berdiri di ambang pintu, menatap fragmen kain di tangannya. Sebuah jebakan, ia yakin. Tapi ia tidak pernah bisa menolak tantangan yang mengusik naluri konservatornya.

***

Jauh di jantung kota Surabaya, di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa diakses dengan keanggotaan tahunan puluhan juta rupiah, tawa Pandu Mahardika menggema. Bukan tawa riang, melainkan ledakan sinis yang diikuti dengusan meremehkan. Aroma wiski malt tunggal dan cerutu Kuba yang mahal memenuhi udara, berpadu dengan bisikan musik lounge yang merdu.

"Pernikahan?" Pandu menyesap wiskinya, menatap nyala api yang menari di perapian modern. "Itu seperti membelenggu diri sendiri dengan kontrak seumur hidup, hanya karena ada diskon awal."

Di depannya, Galang, salah satu sahabatnya sekaligus CFO perusahaan yang ia pimpin, menyeringai. "Bukan diskon, Bos. Lebih ke investasi jangka panjang. Tapi, untukmu, itu seperti investasi yang pasti merugi, kan?"

Pandu mendengus. "Tentu saja. Komitmen? Itu hanya ilusi yang dipakai orang lemah untuk merasa aman."

Galang meletakkan gelasnya. Matanya menantang. "Aku bertaruh. Satu miliar rupiah."

Ruangan, yang tadinya dipenuhi obrolan ringan antara mereka dan dua sahabat lain, mendadak hening. Satria, seorang pengembang properti terkemuka, menaikkan alis. Hadi, pemilik jaringan restoran mewah, tersenyum geli.

"Apa taruhannya?" tanya Pandu, tatapan matanya gelap, dipenuhi rasa ingin tahu yang berbahaya. Taruhan adalah hidupnya. Strategi. Kontrol.

"Aku bertaruh, kau tidak akan bisa bertahan selama satu tahun penuh, tanpa 'jatuh cinta' atau berkomitmen emosional pada wanita mana pun," Galang menjelaskan, menekankan kata 'jatuh cinta'. "Jika kau kalah, satu miliar itu untuk yayasan anak yatim yang kupilih. Jika kau menang, aku akan berhenti mengoceh soal pernikahan selama sisa hidupku."

Pandu tertawa, kali ini lebih keras, lebih mencemooh. "Satu miliar untuk membuktikan aku punya kendali penuh atas emosiku? Terlalu murah, Galang. Aku bisa melakukan itu sambil tidur." Ia meneguk habis wiskinya, merasakan sensasi terbakar yang menyenangkan di tenggorokannya. "Kalian semua adalah saksi. Taruhan diterima."

Satria dan Hadi saling bertatapan, senyum tipis di wajah mereka. Mereka tahu sifat Pandu. Arogan, terlalu percaya diri, tapi juga seorang pemenang sejati. Mereka penasaran, siapa yang akan bisa menggoyahkan pria pualam ini?

Pandu menatap api di perapian. Api itu menari, tidak terikat, bebas. Sama sepertinya. Ia yakin, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menembus benteng yang telah ia bangun. Terutama setelah semua yang ia saksikan dalam hidupnya. Cinta hanyalah sebuah konsep, alat, bukan kekuatan.

Ia memikirkan rencana besok. Si konservator tekstil itu. Wanita yang menolak proyek-proyek besar, yang sangat selektif. Seorang ahli yang keras kepala, jika laporannya benar. Tantangan yang menarik, bukan untuk hatinya, melainkan untuk egonya. Kalya Nirwasita. Ia akan melihat bagaimana wanita itu menolak kendali seorang Mahardika. Pandu tersenyum sinis. Permainan baru saja dimulai.

Memuat komentar...