TANPA PENA
Seni Perang Merebut Kembali Diri

Seni Perang Merebut Kembali Diri

34 Menit Baca
0 Suka
16 Bab

Sinopsis

Hana Gayatri percaya bahwa kata-kata adalah senjata paling mematikan; profesinya sebagai penyusun naskah pidato politik menuntutnya untuk selalu satu langkah di depan lawan bicara. Hidupnya terasa seperti naskah yang disusun sempurna hingga ia menemukan bahwa Adrian Pramono, konsultan citra sekaligus tunangannya, telah mengubah hubungan mereka menjadi sebuah kampanye penipuan demi menutupi skandal perselingkuhannya dengan seorang sosialita ambisius. Patah hati yang mendalam tidak membuat Hana menangis di pojok kamar, melainkan memicu insting taktisnya untuk meluncurkan serangan balik yang elegan namun menghancurkan. Dengan bantuan Riana Utami, seorang kurator arsip yang skeptis, Hana mulai menerapkan prinsip-prinsip Sun Tzu dalam naskah balas dendamnya: 'Kenali musuhmu dan kenali dirimu sendiri'. Ia mengumpulkan bukti-bukti manipulasi Adrian, memetakan kelemahan ego pria itu, dan menyusup ke lingkaran sosial elit Semarang untuk meruntuhkan kredibilitas Adrian dari dalam. Namun, di tengah misi sabotase emosional tersebut, Hana dipaksa berhadapan dengan cermin retak tentang harga dirinya yang selama ini ia gantungkan pada validasi orang lain. Perjalanan ini bukan sekadar tentang menjatuhkan seorang pria yang berkhianat, melainkan tentang Hana yang belajar untuk berhenti menyunting hidupnya demi kenyamanan orang lain. Saat rahasia gelap di balik karier Adrian mulai terkuak, Hana harus memilih apakah ia akan menjadi pemenang yang penuh kebencian atau melepaskan semua senjata emosionalnya demi menemukan kedamaian yang otentik. Sebuah kisah tentang bagaimana melepaskan dendam seringkali merupakan strategi kemenangan yang paling mutlak.

Bab 1
published

Naskah yang Tampak Sempurna

Kilau sampanye di gelas-gelas kristal bukanlah pantulan paling cemerlang di ruangan itu. Bagi Hana Gayatri, pantulan sejati ada di sorot mata Adrian Pramono, tunangannya, yang kini menatapnya seolah ia adalah satu-satunya naskah paling penting yang pernah ia tulis. Setiap kata dalam pidato Gubernur tadi telah meluncur sempurna dari bibir politikus itu, hasil dari berhari-hari kerjanya. Kini, giliran naskah pribadinya yang akan mencapai klimaks.

Hana menyesap sampanye di tangannya. Dingin, membelai lidah, seperti janji yang ia bisikkan pada dirinya sendiri. Gaun sutra birunya memeluk lekuk tubuhnya, terasa lembut dan licin di bawah sentuhan jarinya. Lampu gantung kristal di aula ballroom Hotel Anggrek Ungu memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan, memantul di setiap detail perjamuan: taplak meja brokat, piring-piring porselen berukir, dan senyum-senyum simpul dari para tamu elit yang memenuhi ruangan. Aroma bunga lily yang mahal bercampur dengan wangi truffle oil dari hidangan pembuka yang baru saja dihidangkan. Itu adalah simfoni kemewahan yang sempurna, panggung tempat ia merasa benar-benar berada di rumah.

Adrian menyunggingkan senyum padanya dari seberang meja bundar. Senyum yang selalu berhasil meredakan setiap kerutan dahi Hana, senyum yang menjanjikan stabilitas dan ambisi yang sama. Hana tahu, Adrian adalah bagian integral dari naskah hidupnya yang sudah ia tata dengan sangat rapi. Konsultan citra publik dengan reputasi cemerlang, Adrian adalah pasangan yang tidak hanya setara, tapi juga saling melengkapi. Mereka adalah definisi dari pasangan ideal di mata semua kolega politik mereka. Hana membalas senyum Adrian, merasakan debar hangat yang tidak pernah pudar sejak mereka pertama kali bertemu dua tahun lalu. Di benaknya, ia menguraikan struktur kalimat naskah hidupnya sendiri, alur yang ia susun rapi, klimaks yang berhasil ia sisipkan di setiap fase. Semua terlihat jelas, terencana, dan penuh harapan.

Pandangannya menyapu sekeliling, menangkap fragmen-fragmen percakapan yang mengalir rendah. Pujian untuk pidato Gubernur, spekulasi tentang proyek-proyek mendatang, dan sesekali, tatapan kagum yang ditujukan kepadanya. Hana adalah otak di balik narasi-narasi penting ini. Ia adalah penentu arah opini publik. Sebuah kebanggaan yang selalu ia genggam erat. Ia memutar gelas sampanyenya, gelembung-gelembus kecil itu menari sebelum pecah di permukaan. Sebuah analogi yang sempurna untuk hidupnya saat ini: penuh kilau, bergerak, dan seolah tidak ada batas akhir.

Adrian bangkit dari kursinya, gerakannya menarik perhatian, namun tidak ada yang mengira akan ke mana arahnya. Hana mengangkat alis, sebuah kerutan kecil muncul di dahinya. Adrian mendekatinya, langkahnya tenang, percaya diri, seperti seorang orator yang sudah menghafal setiap jeda dan intonasi. Di tengah denting sendok dan garpu yang perlahan terhenti, Adrian berlutut di hadapan Hana. Ia melakukannya di tengah-tengah tatapan puluhan mata, di bawah lampu kristal yang memantulkan cahayanya pada kotak beludru merah marun di tangannya. Kotak itu, Hana tahu, berisi cincin tunangan yang sudah ia impikan: safir biru pekat, diapit berlian kecil, sederhana namun berkelas.

“Hana Gayatri,” suara Adrian bergetar, namun penuh keyakinan, “hidupku terasa seperti draf yang belum selesai sampai kau datang. Maukah kau menjadi naskah hidupku selamanya? Menjadi co-writer kisah kita hingga akhir hayat?”

Aula seketika hening. Lalu, riuh tepuk tangan pecah, menggelegar seperti guntur sukacita. Senyum Hana merekah, tulus, membiarkan pertahanan profesionalnya luruh. Air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Ini dia. Momen yang ia impikan. Momen yang ia tulis. Adrian Pramono, pria ambisius yang memahami setiap nuansa pemikirannya, yang mengapresiasi kecerdasannya, kini menawarkan babak baru. Ia mengulurkan tangannya, dan Adrian dengan lembut menyematkan cincin itu di jari manisnya. Dinginnya logam dan halus sentuhan safir terasa nyata, sebuah janji yang terukir di kulitnya.

Ia menatap mata Adrian, melihat pantulan dirinya yang bahagia, seorang wanita yang telah mencapai segalanya. Di saat itulah, di tengah puncak kebahagiaan yang semu, di antara derai tawa dan ucapan selamat, ia menangkap sesuatu yang ganjil. Sepasang mata lain. Dari meja seberang, seorang wanita muda bernama Clarissa, seorang pengusaha muda yang sedang naik daun di bidang properti, menatap Adrian. Tatapannya bukan tatapan kagum biasa, melainkan tatapan yang terlalu akrab, terlalu lama bertahan. Ada sesuatu yang melintas di sana, kilatan singkat yang Hana tidak bisa identifikasi, namun berhasil menciptakan riak kecil di kolam ketenangan hatinya.

Hana berkedip. Clarissa langsung mengalihkan pandangan, menyunggingkan senyum ramah yang terlalu cepat dan terlalu manis. Hana segera menepis pikiran itu. Kelelahan. Pasti hanya kelelahan dari menyusun pidato maraton seminggu terakhir. Atau mungkin, imajinasinya saja yang terlalu liar, terlalu terbiasa mencari celah dan subteks dalam setiap interaksi politik. Ia mencintai Adrian, dan Adrian mencintainya. Sesederhana itu. Tidak ada kerumitan di antara mereka. Atau setidaknya, itu yang selama ini ia yakini. Itu yang selama ini ia tulis di naskah hidupnya.

Adrian mendekapnya, ciuman manis, hangat, menenangkan setiap kecamuk kecil yang baru saja muncul. Aroma mint dari napasnya bercampur wangi parfum Adrian yang khas. Hana memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu. Ini yang ia impikan. Ini yang ia tulis. Sebuah 'akhir bahagia' yang nyata. Namun, di ujung indranya yang biasanya tajam, ada sesuatu yang samar. Seperti nada minor yang terlalu lembut untuk disadari, terlalu cepat menghilang untuk diidentifikasi. Aroma kebohongan. Hana menepisnya lagi, lebih kuat kali ini. Mungkin itu hanya sisa asap rokok dari tamu di meja sebelah, atau mungkin... hanya imajinasinya yang terlalu aktif. Ia membuka mata. Adrian tersenyum. Sempurna. Sama seperti naskah hidup yang telah ia susun. Tidak ada satu pun kata yang salah.

Memuat komentar...