
Garis Langit di Atap Rusun
Sinopsis
Nadine Zalianty adalah potret kesempurnaan yang membosankan; putri tunggal dari dinasti properti yang memiliki segalanya namun merasa tidak memiliki apa-apa. Di ulang tahunnya yang ke-19, kejenuhan mencapai puncaknya saat ia menyadari bahwa setiap senyuman di sekelilingnya adalah transaksi bisnis. Didorong oleh keinginan untuk menemukan percikan hidup yang otentik, Nadine melakukan taruhan gila dengan sahabatnya: ia akan menanggalkan seluruh identitas pualamnya dan hidup selama tiga bulan sebagai 'Dina', seorang mahasiwa magang biasa di lingkungan rumah susun Griya Pelangi yang padat dan berisik. Di sana, ia bertemu dengan Yusuf Ginanjar, seorang kurir logistik roda dua yang bekerja keras demi menghidupi dua adiknya dan biaya kuliah malamnya. Yusuf adalah antitesis dari semua pria yang pernah Nadine kenal; ia tulus, keras kepala dalam prinsip, dan memiliki kebanggaan yang tidak bisa dibeli. Di tengah aroma asap kendaraan dan riuh rendah anak-anak rusun, Nadine mulai belajar bahwa kebahagiaan bukan terletak pada nominal saldo, melainkan pada kehangatan sepiring nasi rames di warung Mak Odah dan kebebasan menerbangkan layang-layang di atap gedung. Namun, ketenangan penyamaran Nadine terancam oleh kehadiran Kevin Prasetyo, pemuda dari lingkaran sosial aslinya yang angkuh dan terobsesi untuk menaklukkan Nadine. Kevin yang menemukan keberadaan Nadine di rusun tersebut mulai melakukan intimidasi terhadap warga, terutama Yusuf. Puncaknya adalah sebuah kompetisi layang-layang tradisional yang menjadi ajang pertaruhan harga diri antara si kaya yang mengandalkan peralatan mahal dan si sederhana yang mengandalkan keahlian serta doa. Di atas langit Bandung yang biru, benang-benang nasib beradu, memaksa Nadine untuk memilih antara kembali ke menara kacanya atau berjuang di atas tanah yang kotor namun nyata.
Menara Kaca dan Hati yang Kosong
Gaun pesta biru laut itu mencekik. Bukan di leher, tapi di ulu hati Nadine Zalianty. Di balkon penthouse lantai 30, Bandung terhampar di bawah, sejauh mata memandang. Kilauan lampu kota, seperti taburan berlian di atas kanvas gelap, seharusnya memukau. Namun, bagi Nadine, pemandangan itu terasa hampa. Sebuah ilusi. Sama seperti senyum-senyum yang ia terima malam ini, di pesta ulang tahunnya yang ke-19.
Suara dentingan gelas kristal dan obrolan ramai dari dalam ruangan menembus pintu kaca yang sedikit terbuka. Musik jazz lembut berpadu dengan tawa renyah yang dibuat-buat. Semuanya terasa datar, tanpa resonansi. Setiap kalimat adalah transaksi. Setiap pelukan adalah investasi. Dia merasakannya di udara yang pengap, bau parfum mahal, dan asap cerutu impor yang membakar hidungnya. Rasanya seperti sebuah panggung sandiwara yang tak pernah usai.
Nadine meraih gelas sampanye di sampingnya. Gelembung-gelembung kecil itu menari, menyentuh bibirnya dengan sensasi dingin, namun rasanya tawar. Dia menatap pantulan dirinya di kaca balkon. Gaun desainer, rambut yang ditata sempurna, permata yang memantulkan cahaya. Sebuah patung pualam. Cantik. Mahal. Tapi kosong.
"Dina, sedang apa di sini sendirian?"
Suara Santi, sahabatnya, terdengar di belakangnya. Nadine tidak menoleh. "Hanya mencari udara segar," jawabnya, suaranya terdengar lebih lelah dari yang ia duga. Santi, dengan gaun merah yang menyala, dan Doni, dengan jas beludru hitamnya, berdiri di ambang pintu kaca. Mereka berdua adalah satu-satunya 'sahabat' yang tersisa dari lingkaran sosialnya yang sempit.
Santi mendekat, rambutnya yang di-blow sempurna berayun. "Oh, ayolah. Ini pesta ulang tahunmu. Jangan melow begitu. Kevin mencarimu."
Nama Kevin membuat Nadine bergidik samar. Kevin Prasetyo. Pewaris tunggal konglomerat manufaktur. Pria yang di mata orang lain adalah 'pasangan sempurna' untuknya. Di matanya, Kevin adalah simbol lain dari segala sesuatu yang membuatnya muak. Kekuasaan tanpa nurani. Harta tanpa hati.
"Biarkan saja dia mencari," kata Nadine, akhirnya menoleh. Sorot matanya kosong. "Aku bosan, San."
Doni, yang biasanya lebih kalem, menyilangkan tangan. "Bosan? Nadine, kau punya segalanya. Jet pribadi, apartemen di Paris, merek tas paling baru bahkan sebelum rilis. Apa yang membuatmu bosan?" Ada nada sinis yang terselip dalam suaranya.
"Justru itu. Aku punya segalanya, tapi aku tidak merasa memiliki apa-apa," balas Nadine, nadanya tenang namun dingin. "Aku ingin merasakan hidup yang asli. Bukan simulasi."
Santi tertawa renyah. "Hidup asli? Nadine, hidup kita ini adalah realitas. Realitas yang lebih baik daripada kebanyakan orang."
"Apa kau pernah merasa lapar karena tidak punya uang untuk makan?" tanya Nadine, menatap Santi lurus. "Atau naik angkutan umum yang berdesakan, berbau keringat, dengan jendela yang tidak bisa ditutup?"
Santi terdiam, bibirnya sedikit terbuka. Doni mendengus. "Itu... itu namanya empati, Nadine. Kau sering membahasnya di klub debat sosialita. Tapi apakah kau benar-benar tahu apa itu? Atau hanya teori?"
Kata-kata Doni menusuk. Nadine mengepalkan tangannya. "Aku ingin membuktikannya."
"Bagaimana?" Doni menantang, matanya tajam. "Dengan pergi liburan ke desa terpencil lalu memposting foto bareng anak-anak kecil berlumur lumpur di Instagram? Itu bukan otentik, Nadine. Itu hanya validasi dari orang-orang sepertimu."
Nadine menatap Bandung di bawahnya, lampu-lampu yang berkedip. Sebuah ide gila tiba-tiba melintas di benaknya, sebuah percikan yang memecah kebosanan yang mencekiknya. "Aku akan pergi. Aku akan hidup sebagai orang biasa. Tanpa nama Zalianty. Tanpa kartu kredit. Tanpa sopir."
Santi dan Doni saling pandang, tawa mereka mereda. "Kau bercanda," kata Santi, nada suaranya berubah serius.
"Tidak," jawab Nadine tegas. "Aku akan hidup di lingkungan termiskin yang bisa kupikirkan. Di rusun. Tiga bulan. Jika aku gagal, aku akan pulang dan menurut pada setiap kemauan Ayah. Menikah dengan Kevin. Menjadi boneka sosialita yang kalian inginkan."
Doni menyeringai. "Dan jika berhasil?"
Nadine tersenyum samar, senyum pertama yang terasa asli malam itu. "Jika aku berhasil, Ayah harus mengizinkanku memilih jalur karierku sendiri. Di yayasan sosial. Bebas dari belenggu ini."
Santi masih ragu. "Ini gila, Dina. Itu terlalu berbahaya."
"Hidup ini yang berbahaya, Santi," kata Nadine, "hidup di dalam sangkar emas ini."
Pintu balkon terbuka lebih lebar. Udara malam yang sejuk, bercampur bau bunga melati dari taman vertikal, menyeruak masuk. Langkah berat terdengar mendekat. Ayahnya, Pak Zalianty, berdiri di sana, dihiasi senyum bangga yang selalu terasa seperti beban. Dia adalah representasi sempurna dari dinasti properti yang telah membangun separuh cakrawala kota ini.
"Anak gadisku! Sedang apa di sini? Ayo, Kevin mencarimu," kata Pak Zalianty, suaranya ramah namun penuh otoritas. "Ayah punya kejutan untukmu. Kunci Mercedes terbaru sudah menunggu di bawah. Warna champagne gold, seperti yang kau suka."
Nadine menatap kunci mobil berkilauan yang disodorkan ayahnya. Kilauan logam itu terasa dingin di tangannya, seperti es. Dia merasakan Doni dan Santi menahan napas di belakangnya. Ini adalah ujian pertamanya.
"Terima kasih, Ayah," kata Nadine, suaranya bergetar halus. Dia mengembalikan kunci itu. "Tapi... aku rasa aku tidak memerlukannya. Untuk saat ini."
Senyum Pak Zalianty memudar. Kerutan muncul di dahinya. "Tidak memerlukannya? Tapi kenapa, Sayang?" Ada kebingungan nyata di matanya. Baginya, penolakan ini adalah anomali terbesar. Sebuah mobil mewah selalu menjadi hadiah yang diterima tanpa banyak tanya. Ini adalah bagian dari tatanan dunianya.
"Aku... hanya ingin mencari sesuatu yang berbeda, Ayah," Nadine berbisik, menghindari tatapan mata ayahnya. Ia tidak bisa menjelaskan. Belum. Dia melihat bayangan kekecewaan melintas di wajah ayahnya, lalu digantikan oleh senyum paksa. Sebuah senyum yang terasa seperti tamparan tak terlihat.
"Baiklah, mungkin kau lelah. Tidur saja nanti setelah pesta. Kita bicarakan lagi besok," kata Pak Zalianty, lalu beralih kepada Santi dan Doni. "Tolong ajak Nadine bersosialisasi lagi. Dia terlalu sering melamun."
Pak Zalianty pergi, meninggalkan aroma parfum mahal dan gema kekuasaannya. Nadine merasa tegang. Dia baru saja menolak simbol status tertinggi. Sebuah gempa kecil. Doni menatapnya dengan tatapan campur aduk antara terkejut dan hormat. Santi hanya diam, wajahnya pucat. Nadine tahu. Rencana ini sudah dimulai. Sebuah benih pemberontakan yang baru saja ia tanam, sebuah pencarian jati diri yang akan membawanya jauh dari menara kacanya yang dingin.