
Vakum di Antara Dua Denyut
Sinopsis
Kezia Pramudita menghabiskan hari-harinya sebagai seorang Kurir Logistik Spesialis Barang Antik yang terbiasa menavigasi kemacetan Jakarta untuk mengantarkan benda-benda rapuh bernilai miliaran. Namun, rutinitasnya hancur saat sebuah kecelakaan di Jembatan Semanggi membawanya pada ambang kematian, hanya untuk terbangun dengan kemampuan melihat 'Etalase Jiwa'—sebuah dimensi antara di mana benda-benda mati memiliki nyawa dan memori. Kezia menyadari bahwa ia adalah pewaris 'Garis Nadir', sebuah mutasi genetik langka yang memungkinkannya memindahkan materi fisik ke alam astral melalui kontak kulit. Kehidupan ganda Kezia menjadi semakin berbahaya ketika ia ditarik ke dalam intrik politik Kerajaan Aetheria, sebuah peradaban supranatural yang tersembunyi di balik kabut Gunung Salak. Di sana, ia bertemu dengan Panglima Ezar, entitas abadi yang melihat Kezia bukan sebagai manusia, melainkan sebagai kunci untuk membuka segel energi yang telah lama hilang. Kezia terpaksa menggunakan kecakapan logistiknya di dunia nyata untuk membangun jaringan distribusi 'Batu Inti'—sumber kultivasi yang sangat dicari di dunia astral—sambil menyembunyikan eksistensi dunianya dari ancaman ras bayangan yang ingin menguasai gerbang dimensi. Di dunia nyata, Kezia bertransformasi menjadi pengusaha logistik digital yang ambisius, menggunakan pengetahuan dari alam astral untuk memprediksi pergerakan pasar. Namun, ambisi ini memaksanya membuat pilihan moral yang kelam: menggunakan metode 'Sumpah Nyawa' untuk menyelamatkan orang-orang terkasihnya atau membiarkan keseimbangan dimensi hancur. Di tengah perebutan kekuasaan dan pengkhianatan di dua dunia, Kezia harus menavigasi ikatan romantis yang kompleks dengan dua sosok dari dimensi yang berbeda, membangun fondasi kekuasaan yang tak tergoyahkan namun penuh dengan rahasia yang mengancam jiwanya.
Paket yang Tidak Pernah Sampai
Klason bersahutan memekakkan telinga. Aroma knalpot yang pekat menusuk hidung Kezia, bercampur tipis dengan bau keringatnya sendiri. Kezia Pramudita mengempit map di bawah ketiak kirinya, sementara tangan kanannya memegang erat setang motor yang bergetar. Jakarta, jam tiga sore di atas Jembatan Semanggi. Neraka yang akrab.
Di belakang jok motornya, tersimpan sebuah kotak kayu jati tua. Ukirannya halus, samar. Di dalamnya, sebuah keris kuno bersemayam, terbungkus kain beludru hitam. Harganya fantastis. Miliar rupiah untuk sebilah logam berkarat yang, kata bosnya, punya jiwa. Kezia tak pernah percaya hal semacam itu. Jiwa ada di manusia, bukan di benda mati. Tapi, pekerjaannya sebagai kurir spesialis barang antik memang menuntutnya untuk percaya pada keanehan. Atau pura-pura percaya.
Sebuah celah terbuka. Kezia segera tancap gas. Motornya menyelinap di antara mobil-mobil yang merayap. Ia menunduk sedikit, mengikuti naluri yang selama bertahun-tahun membawanya menembus labirin jalanan Jakarta. Tangannya terasa kebas. Jemarinya mencengkeram erat, bukan karena takut, melainkan karena kelelahan yang menggerogoti. Shift paginya sudah terlalu panjang. Sekarang, paket keris ini adalah pengantar tidurnya.
Tiba-tiba, suara derit ban memekakkan. Bau karet terbakar menyengat hidungnya. Sebuah bayangan hitam melesat dari sisi kanan. Cepat. Terlalu cepat untuk Kezia bereaksi. Motornya oleng. Bukan karena ia kehilangan keseimbangan, melainkan karena hantaman brutal dari samping. Setang lepas dari genggaman. Kepalanya membentur aspal. Pandangannya berputar. Semuanya menjadi kabur.
Rasa panas menyengat pipinya. Darah. Ia bisa merasakan kehangatan lengket itu mengalir, membasahi kain hijabnya. Matanya terpejam. Sebuah suara, bukan klakson, bukan teriakan, tapi bisikan, mulai muncul. Samar. Dari mana? Dari aspal? Dari udara? Perutnya mual. Tulang-tulangnya seperti diremas. Rasa sakit yang tajam menembus seluruh tubuhnya.
Ia mencoba membuka mata. Dunia di sekelilingnya telah berubah. Warna-warna memudar, tergantikan nuansa abu-abu yang monoton. Abu-abu aspal, abu-abu gedung, abu-abu langit. Hanya satu hal yang menonjol: kotak kayu di dekatnya. Kotak itu terbuka. Keris kuno itu tergeletak di sampingnya, bilahnya mengilat. Dan di ujung bilah itu, darahnya menetes. Merah pekat. Mengalir. Menyerap ke dalam logam tua. Seperti tinta di kertas hisap.
Bisikan itu semakin jelas. Bukan lagi samar, tapi seperti ribuan suara yang menyanyi dalam paduan suara ganjil. Sebuah bahasa yang tidak ia mengerti, namun terasa familiar. Ia melihat ke tangannya. Jemarinya yang berlumuran darah kini memancarkan cahaya redup. Seperti bintang yang baru lahir di tengah kegelapan abu-abu. Ia tidak mengerti. Ia tidak bisa berpikir.
Dunia mulai berputar lagi. Kali ini lebih cepat. Abu-abu itu memudar, tergantikan oleh hitam pekat. Dingin menjalar. Bukan dingin yang menyengat, tapi dingin yang menelan. Dinginnya kematian. Bisikan-bisikan itu semakin kencang, berubah menjadi lolongan yang memilukan, seolah entitas tak terlihat sedang meratapinya. Kezia mencoba meraih keris itu. Jemarinya hanya menyentuh udara. Kekuatan terkuras habis. Lalu, kegelapan total.
Bau antiseptik. Bau yang akrab, namun kali ini terasa terlalu pekat. Menusuk hidungnya, membangunkan saraf-sarafnya. Kezia membuka mata. Plafon putih, lampu neon yang berkedip samar. Rumah sakit. Suara desis alat medis di samping ranjang. Detak jantungnya sendiri terdengar keras, memantul di gendang telinga. Sebuah irama yang stabil, pertanda ia masih hidup.
Kepalanya berdenyut. Perban melilit dahinya. Pipinya terasa nyeri, kaku. Ia menggerakkan jemarinya. Kaku, tapi bisa digerakkan. Lalu, ia melihat tangannya yang lain. Di pergelangan tangannya, ada gelang rumah sakit. Dan di balik kulitnya, samar, sebuah urat berwarna keunguan memancar, seperti jaring halus di bawah permukaan. Itu bukan urat biasa. Warnanya terlalu dalam, terlalu gelap.
Seorang perawat masuk, tersenyum tipis. "Sudah bangun, Bu Kezia? Syukurlah."
Kezia mencoba bicara. Suaranya serak. "Motor... keris..."
"Tenang, Bu. Semuanya sudah diurus polisi. Kerisnya ditemukan utuh. Beruntung sekali tidak ada yang hilang." Perawat itu menata botol infus, gerakannya cekatan. "Anda kehilangan banyak darah, tapi ajaibnya tidak ada patah tulang serius. Hanya gegar otak ringan dan beberapa luka gores."
Utuh? Keris itu. Kezia masih bisa merasakan tetesan darahnya di bilah keris. Cahaya redup dari jemarinya. Bisikan-bisikan itu. Apa itu nyata?
Setelah perawat pergi, Kezia mencoba bangkit. Lututnya gemetar. Ia melirik nakas di samping ranjang. Ada gelas air, dan sebuah buku. Sebuah novel kuno yang ia baca sebelum kecelakaan. Kezia meraihnya. Jemarinya menyentuh sampul usang. Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh menjalar. Bukan dingin, bukan panas. Lebih seperti sebuah 'pintu' yang terbuka di benaknya. Ia melihat sebuah visi. Singkat. Jelas. Gambar seorang wanita paruh baya, duduk di kursi rotan, membaca buku yang sama, tersenyum. Aroma teh melati. Suara kucing mendengkur. Lalu lenyap.
Kezia menjatuhkan buku itu. Jantungnya berdebar kencang. Kali ini bukan karena sakit, melainkan karena kebingungan yang bercampur takjub. Apa itu? Halusinasi sisa gegar otak?
Ia melihat ke dinding kamarnya. Dinding putih polos. Di sana, tergantung poster jadwal makan pasien. Kaku. Normal. Kezia mengambil botol air mineral di nakas. Dingin. Berat. Normal. Ia menyentuh vas bunga plastik di meja. Plastik. Normal.
Lalu, pandangannya tertuju pada bingkai foto di sudut ruangan. Foto perawat muda yang tersenyum ceria dengan seragam kerjanya. Foto itu tampak tua, warnanya pudar. Kezia merasa ada sesuatu yang berbeda dengannya. Ia meraih bingkai itu. Jarinya menyentuh kaca. Sensasi 'pintu' itu kembali terbuka. Lebih kuat. Kali ini, ia melihat gambar-gambar bergerak. Sebuah lorong rumah sakit yang sepi. Perawat yang di foto itu, muda, baru lulus, tertawa lepas. Suara derit roda troli obat. Aroma lantai yang baru dipel. Ia melihat perawat itu berjalan, lalu berpapasan dengan seorang dokter tua yang wajahnya lelah. Semua detail begitu nyata, begitu hidup, seolah ia sedang menyaksikan sebuah film.
Visi itu lenyap secepat ia datang. Kezia terkesiap. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak gila. Ini bukan halusinasi. Ini... sesuatu yang lain. Ia bisa melihat 'memori' dari benda-benda itu. Benda mati, memiliki nyawa? Konsep itu absurd, namun ia baru saja mengalaminya.
Ia menatap dinding lagi. Dinding itu masih putih. Namun, ia merasa ada sesuatu di baliknya. Sebuah firasat. Kezia mengulurkan tangan, pelan, menyentuh dinding. Tidak ada apa-apa. Hanya plester dan cat.
Lalu, pandangannya jatuh pada kusen jendela. Kusen kayu yang terlihat sudah tua. Lapuk di beberapa bagian. Ini pasti sudah ada di sini sejak lama, pikirnya. Dengan keberanian yang aneh, ia menyentuh kusen itu. Kali ini, bukan visi. Tubuhnya terasa ringan. Terlalu ringan. Jemarinya, yang menyentuh kayu lapuk, terasa dingin. Dan pandangannya tembus. Bukan hanya visi, tapi ia benar-benar bisa melihat 'melewati' kayu itu. Melihat pekarangan rumah sakit di luar, pohon mangga tua, bahkan seekor burung hinggap di dahan. Seolah kayu itu tidak ada.
Jantung Kezia bergemuruh. Tubuhnya meluncur ke depan, ia hampir jatuh menembus kusen. Dengan panik, ia menarik tangannya. Sensasi tembus pandang itu lenyap. Dinding kembali padat. Jendela kembali solid. Kezia terengah, bersandar ke ranjang, matanya membelalak takjub. Ia tidak hanya bisa melihat memori. Ia bisa menembus. Ia bisa memindahkan. Tapi hanya dengan benda yang memiliki 'sejarah panjang' itu, benda yang memiliki 'nyawa'. Seperti keris, seperti buku tua, seperti bingkai foto kusam, seperti kusen lapuk.
Sebuah kebenaran mengerikan sekaligus menakjubkan menghantamnya: kecelakaan di Jembatan Semanggi itu bukan akhir. Itu adalah awal. Dan ia, Kezia Pramudita, kurir logistik biasa, baru saja membuka sebuah pintu ke dunia yang tak pernah ia bayangkan ada.