
Perempuan Penjaga Jarak
Sinopsis
"Aku tidak pernah meminta kalian mengerti, tapi berhentilah mengatur hidupku." Kalimat itu terucap dari bibirku dengan suara datar, meski telapak tanganku basah oleh keringat. Aku mengatakannya pada keluarga yang sejak kecil membesarkanku dengan cinta bersyarat—cinta yang selalu disertai aturan, syarat, dan batasan yang tak pernah benar-benar kuizinkan. Aku tumbuh sebagai perempuan yang belajar bertahan dengan menjaga jarak. Jarak dari emosi, dari kenangan, dari orang-orang yang terlalu mudah melukai. Asal-usul keluargaku selalu menjadi bisik-bisik yang tak pernah diucapkan terang-terangan, tapi cukup kuat membentuk rasa bersalah kronis dalam diriku. Ketika aku kembali ke lingkar keluarga besar, aku bertemu lagi dengan seorang pria yang seharusnya tak boleh lagi ada di hidupku. Ia bukan sekadar masa lalu—ia adalah kesalahan yang sengaja kusembunyikan, sekaligus rumah yang tak pernah benar-benar kutinggalkan. Hubungan kami berkembang dalam sunyi, seperti bentuk perlawanan pasif terhadap keluarga yang selalu mengendalikan arah hidupku. Di tengah tekanan pernikahan, kecemburuan adik, dan trauma orang tua yang diwariskan tanpa izin, aku dipaksa menghadapi pilihan yang selama ini kuhindari: tetap melarikan diri demi citra mandiri, atau berdiri jujur dan menerima konsekuensi dari mencintai dengan sadar. Pilihan itu tidak menyelesaikan semua konflik, namun menjadi langkah pertama menuju hidup yang kupilih sendiri.
Pulang yang Tidak Netral
Ban mobil yang kunaiki menggerus kerikil saat sopir berhenti mendadak di depan pagar besi rumah itu. Tubuhku terdorong ke depan, sabuk pengaman menahan dadaku dengan sentakan pendek. Aku meraih pegangan pintu. Tanganku dingin. Kunci belum sempat kupungut, pintu sudah terbuka. Udara siang yang lembap menerpa wajahku, bercampur bau tanaman hias yang terlalu sering disiram. Aku melangkah turun sebelum ada yang memanggil namaku.
Sepatuku menjejak lantai teras yang mengilap. Licin. Aku memperlambat langkah. Rumah ini tidak berubah, tapi rasanya selalu terasa asing. Cat dinding krem masih sama. Kursi rotan berjajar rapi. Tidak ada satu pun barang yang berani keluar dari tempatnya. Aku menarik koper kecilku, rodanya berdecit pelan. Bunyi itu terlalu keras di kepalaku.
Pintu depan sudah terbuka. Suara televisi menyelinap keluar, volume rendah, berita siang yang tak benar-benar didengar siapa pun. Aku masuk. Lampu ruang tamu menyala meski matahari masih tinggi. Terlalu terang. Aku berhenti sejenak, menyesuaikan mata. Bau pembersih lantai menyengat. Dingin. Rumah ini selalu dingin, bahkan saat cuaca panas.
“Ravina.”
Namaku disebut tanpa embel-embel. Aku menoleh. Paman tertua berdiri dekat sofa, kemeja rapi, lengan terlipat. Tatapannya turun-naik, dari rambut sampai ujung sepatuku. Seperti laporan. Aku mengangguk. Tidak tersenyum. Tidak meminta maaf. Tidak juga menjelaskan apa pun. Aku sudah belajar, penjelasan jarang diminta di sini.
Bibi-bibiku muncul satu per satu dari arah dapur. Senyum mereka cepat. Terlalu cepat. Pipi mereka harum bedak. Gelang beradu pelan saat mereka menepuk bahuku. Pertanyaan standar dilontarkan, tentang kerjaan, tentang kapan pulang lagi, tentang capek atau tidak. Aku menjawab seperlunya. Suaraku stabil. Itu satu-satunya hal yang bisa kukendalikan.
Aku duduk di ujung sofa. Posisi aman. Tidak di tengah. Tidak terlalu dekat. Tanganku menumpuk di pangkuan. Kuku kutekan ke kulit. Di televisi, seorang pembawa berita berbicara tentang harga pangan. Aku tidak mendengarkan. Aku mendengarkan jeda di antara kalimat-kalimat orang di sekitarku. Jeda itu lebih jujur.
Adikku masuk belakangan. Rambutnya dikuncir tinggi. Langkahnya ringan. Ia menatapku sebentar, lalu memalingkan wajah. Aku merasakan sesuatu mengencang di perut. Kami tidak bertengkar. Kami juga tidak berdamai. Hubungan kami berada di ruang abu-abu yang melelahkan.
Paman kedua berdehem. Ia mulai bicara tentang rencana keluarga bulan depan. Pernikahan sepupu. Nama-nama disebut. Tanggal dibahas. Semua mengangguk. Aku ikut mengangguk. Aku sudah hafal perannya. Menjadi hadir tanpa benar-benar ada.
“Kamu kelihatan kurusan,” kata salah satu bibi. Nada suaranya ringan. Matanya tidak.
“Kerjaannya lagi banyak,” jawabku. Itu aman. Kerjaan selalu jawaban aman.
Ia tertawa kecil. Tawa yang tidak mengundang siapa pun ikut. “Perempuan jangan terlalu keras sama diri sendiri.”
Aku tersenyum tipis. Tidak membantah. Tidak setuju. Aku menyimpan kalimat-kalimatku rapat-rapat, seperti dompet di tas yang selalu kututup.
Pintu samping terbuka. Suara langkah masuk. Berat. Terukur. Aku tahu bunyinya sebelum melihat wajahnya. Dadaku mengencang. Tidak sakit. Lebih seperti ditekan dari dalam.
Baskara berdiri di ambang pintu. Kemeja biru muda. Celana gelap. Rambutnya disisir rapi. Sikapnya sama seperti dulu. Sopan. Sedikit kaku. Ia menyapa semua orang sebelum matanya akhirnya bertemu mataku. Sepersekian detik. Cukup lama untuk mengingatkan, cukup singkat untuk berpura-pura biasa saja.
“Saya baru sampai,” katanya. Suaranya rendah. Tenang. Ia tidak menatapku lagi.
Paman tertua mengangguk. “Duduk.”
Baskara duduk di kursi seberang. Jarak kami aman menurut siapa pun yang melihat. Tidak ada yang salah di permukaan. Tanganku kembali menekan kuku. Aku merasakan denyut di ujung jari.
Percakapan berlanjut. Tentang jalanan. Tentang cuaca. Tentang hal-hal kecil yang mengisi ruang agar tidak ada yang kosong. Aku mendengarkan suara Baskara menjawab seperlunya. Tidak lebih. Tidak kurang. Ia selalu pandai menyesuaikan diri.
Aku memperhatikan detail yang tidak dibicarakan orang lain. Cara ia duduk tegak. Cara ia meletakkan ponsel menghadap bawah. Cara ia tidak sekali pun menyilangkan kaki. Ia masih sama. Itu menenangkanku. Itu juga menakutkan.
Ibuku keluar dari kamar. Langkahnya pelan. Ia memandang kami bergantian. Tatapannya berhenti lebih lama padaku. Aku berdiri. Ia memelukku singkat. Tubuhnya hangat. Bau minyak kayu putih menempel di bajuku.
“Capek?” tanyanya.
Aku menggeleng. Itu refleks. Aku selalu menggeleng.
Ia menepuk lenganku, lalu duduk. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada penggalian. Ibuku paham batas yang kupasang. Atau mungkin ia juga lelah.
Aku kembali duduk. Baskara berdiri, pamit ke dapur membantu. Beberapa bibi mengangguk setuju. Paman tertua memperhatikannya dengan wajah netral. Aku mengikuti langkah Baskara dengan sudut mata. Ketika ia menghilang, napasku terasa sedikit lebih longgar. Hanya sedikit.
Di ruang tamu yang terlalu rapi itu, aku merasa kembali menjadi anak yang harus membuktikan kelayakan. Bukan lewat kata. Lewat sikap. Lewat pilihan hidup yang akan mereka nilai tanpa diminta. Aku sadar satu hal, lebih jelas dari sebelumnya. Kepulanganku bukan tentang rindu. Bukan juga tentang kewajiban. Ini tentang luka yang belum pernah benar-benar ditutup. Dan aku baru saja duduk tepat di atasnya.