TANPA PENA
Sangkuriang Modern

Sangkuriang Modern

109 Menit Baca
0 Suka
35 Bab

Sinopsis

Aroma kertas lapuk dan debu yang menyesakkan paru-paru menjadi teman setia Elara setiap hari di gudang arsip terbengkalai milik pemerintah kota. Di sana, ia bekerja sebagai tenaga lepas yang menyortir dokumen pajak era kolonial demi melunasi hutang medis adiknya yang menderita gagal ginjal kronis. Namun, hidup Elara yang semula tenang dalam kesunyian mendadak jungkir balik ketika ia tidak sengaja menemukan bukti manipulasi lahan yang melibatkan konglomerat properti paling ditakuti, Dirga Maheswara. Dirga, pria dengan tatapan sedingin es dan kekuasaan yang mampu membungkam hukum, tidak melenyapkan Elara. Sebaliknya, ia menjerat Elara dalam sebuah kontrak pernikahan formalitas yang sangat mengikat, menjadikannya 'sangkar emas' untuk memastikan rahasia tersebut tidak pernah bocor. Elara dipaksa masuk ke dalam dunia Dirga yang penuh kemewahan namun mencekik, di mana setiap gerak-geriknya diawasi oleh kamera pengawas dan ajudan Dirga yang tak kenal ampun. Di balik kemegahan penthouse Dirga, Elara harus belajar menavigasi kemarahan Dirga yang posesif dan usahanya sendiri untuk tidak kehilangan jati diri di bawah tekanan pria itu. seiring berjalannya waktu, Elara mulai melihat retakan di balik topeng kekejaman Dirga. Ia menemukan bahwa pria itu dihantui oleh trauma masa kecil dan tekanan dari ayahnya yang tiran untuk menjadi mesin penghasil uang. Dinamika antara mereka berubah dari kebencian murni menjadi ketegangan emosional yang rumit, di mana Elara mulai menuntut hak-haknya dan Dirga mulai meragukan metode kendalinya. Di tengah ancaman dari musuh bisnis Dirga dan hantu masa lalu Elara, keduanya harus memilih: tetap dalam rantai kekuasaan yang beracun atau hancur bersama untuk membangun sesuatu yang benar-benar nyata.

Bab 1
published

Debu yang Berkhianat

Jemari Elara mengikis debu. Bukan debu halus yang hinggap di permukaan, melainkan endapan tebal yang menempel erat pada bundelan dokumen kulit tua. Aroma kertas lapuk dan tanah kering menusuk hidungnya, rasa pahit yang sudah akrab selama berbulan-bulan terakhir. Ia membuang napas pelan, mengibaskan sedikit partikel kecil dari kemeja katunnya yang sudah usang.

Di sudut gudang arsip pemerintah kota yang lembap itu, lampu bohlam tunggal berkedip, memantulkan bayangan panjang dari rak-rak besi yang berjejer seperti labirin. Dinginnya lantai beton merambat naik, menembus sol sepatu karetnya yang tipis. Setiap hari adalah pertarungan. Melawan jam, melawan jamur, dan melawan kelelahan yang menggerogoti. Semua demi biaya transplantasi ginjal Bumi, adiknya. Empat puluh juta lagi. Jumlah yang terasa seperti jurang tak berdasar.

Elara memilah dokumen pajak era kolonial. Baris demi baris, ia membaca angka-angka dan nama-nama yang sudah lama menjadi abu sejarah. Gerakannya ritmis, sebuah meditasi paksa dalam kesunyian yang hanya dipecahkan oleh suara desauan angin yang menyusup dari celah dinding retak. Tangannya meraih sebuah map yang terjepit di antara dua bundelan besar. Map itu, entah bagaimana, terasa lebih berat. Warnanya merah, mencolok di antara tumpukan arsip berwarna cokelat kusam dan abu-abu. Jantung Elara berdesir, bukan karena takut, melainkan firasat aneh yang tiba-tiba menyergap.

Ia membuka map itu dengan hati-hati. Di dalamnya, beberapa lembar kertas modern, bukan perkamen usang, terselip rapi. Matanya menyusuri tulisan tangan di halaman pertama. 'Proyek Revitalisasi Lahan Distrik Utara – Maheswara Group'. Nama itu membuatnya seketika tegang. Konglomerat properti paling ditakuti di Jakarta. Dirga Maheswara, pewaris tunggalnya, terkenal dengan reputasi kejam dan kebersamaan yang diselimuti kekuasaan absolut.

Kemudian, ia melihat tabel angka. Perbandingan. Nilai akuisisi lahan yang dicatat pemerintah jauh lebih rendah dari nilai pasar yang tertera di dokumen internal Maheswara Group. Ada tanda tangan yang dipalsukan. Laporan penilaian aset yang direkayasa. Ini bukan sekadar manipulasi biasa. Ini adalah pencurian skala besar, sebuah kejahatan terorganisir yang menyedot hak-hak warga kecil. Elara merasakan darahnya berdesir dingin. Rasa jijik dan kaget bercampur, menciptakan gelombang mual di perutnya.

Telapak tangannya mulai berkeringat. Jemarinya mencengkeram erat map merah itu. Apa yang harus ia lakukan? Bukti ini terlalu besar. Terlalu berbahaya. Sebuah suara mendadak memecah kesunyian, langkah kaki yang berat dan terburu-buru, bergema dari lorong utama gudang. Lebih dari satu orang. Suara bisikan tegang. Suara metal beradu dengan metal.

Elara tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu lorong. Alarm dalam dirinya berteriak. Ini bukan kedatangan biasa. Tim audit internal Dirga Maheswara. Mereka datang. Sekarang. Napasnya tercekat. Dengan gerakan secepat kilat, Elara menyelipkan map merah itu ke dalam bagian dalam kemejanya, menyembunyikannya di balik lapisan pakaian. Kertas-kertas itu terasa dingin, lalu hangat karena bersentuhan langsung dengan kulitnya yang berkeringat.

Langkah-langkah itu semakin dekat. Cahaya senter menari-nari di dinding, menyapu rak-rak arsip. Elara bisa mendengar suara seorang pria memberi perintah, nadanya tajam dan tidak sabar. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan. Ia harus keluar. Sekarang. Sebelum mereka menemukannya. Sebelum mereka melihatnya.

Ia beringsut mundur, mencoba menyelinap keluar melalui lorong samping yang biasanya tidak pernah diperhatikan. Setiap langkah terasa seperti menginjak pecahan kaca. Ia bisa merasakan tatapan seolah menembus kegelapan, mencari dirinya. Bau debu dan kertas tua yang tadinya familiar kini terasa seperti bau jebakan.

Ketika Elara hampir mencapai pintu darurat di ujung lorong, sebuah bilah cahaya menyambar. Sebuah sensor metal detector berbunyi nyaring, memecah kesunyian gudang yang mencekam. Alarm! Elara mematung. Kepanikan murni membanjiri dirinya. Ia tahu, dari suara itu, dari sorotan senter yang kini menguncinya, ia tidak bisa lagi bersembunyi.

Dua pria berbadan tegap muncul dari kegelapan, mengenakan setelan hitam dan tatapan mata yang dingin. Mereka tidak mengatakan apa-apa. Hanya menangkap kedua lengannya dengan cengkeraman kuat, tanpa kekerasan berlebihan, tapi cukup tegas untuk menghilangkan perlawanan apa pun. Elara nyaris tidak merasakan sentuhan mereka. Pikirannya kosong, hanya dipenuhi suara alarm yang terus melengking di kepalanya.

Mereka menyeretnya, melewati lorong-lorong gelap, menuju sebuah ruangan yang lebih gelap lagi. Pintu baja berat itu tertutup di belakangnya, menciptakan suara 'gedebuk' yang bergema, memutus semua harapan Elara untuk melarikan diri. Udara di ruangan itu terasa pengap, tebal dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Hanya ada satu sumber cahaya, sebuah lampu meja kecil yang menerangi sosok di balik meja. Siluet yang besar, gelap, dan mengancam.

Pria itu duduk diam, punggungnya lurus. Ia tidak bergerak. Namun, tatapannya, bahkan dari jarak lima meter dan dalam remang-remang, terasa seperti dua bilah pisau dingin yang menusuk tepat ke kornea Elara. Matanya sedingin es. Terlalu tajam. Terlalu tenang. Seperti predator yang baru saja menemukan mangsanya. Dirga Maheswara. Elara merasakan napasnya tertahan di tenggorokan. Ini bukan lagi sekadar mencari pekerjaan. Ini adalah pertaruhan nyawa.

Memuat komentar...