TANPA PENA
Behind the Velvet Doors

Behind the Velvet Doors

44 Menit Baca
0 Suka
1 Bab

Sinopsis

Seraphina Vance menyusup ke Thornehill Manor di bawah selubung kegelapan malam, menyamar sebagai pelayan baru bernama Eleanor Finch, dengan setiap langkah di tangga belakang mansion itu dihitung dan dipenuhi ketegangan yang menyesakkan. Misi utamanya, yang dipaksakan oleh Komandan Thorne dari Intelijen Kerajaan, adalah menguak dugaan pengkhianatan yang dituduhkan kepada William Hawthorne, Duke of Ashbourne sekaligus seorang Jenderal terkemuka. Seraphina, yang selama ini hidup dalam bayang-bayang eksploitasi dan manipulasi keluarganya sendiri, memikul beban ganda: menyelamatkan keluarganya dari kehancuran yang tak terhindarkan dan menyelesaikan misi berbahaya ini tanpa terjerat emosi.

Bab 1
published

Bayangan di Gerbang Thornehill

Sepatu botnya menginjak kerikil. Suara gesekan itu memecah kesunyian malam, setiap langkah terasa seperti pengkhianatan yang menggema di bawah langit Inggris akhir abad ke-19. Napas Seraphina Vance tercekat di balik topeng 'Eleanor Finch', nama palsu yang kini melekat padanya seperti kulit kedua. Thornehill Manor menjulang di depannya, siluet gelapnya menelan bintang-bintang. Bukan sekadar bangunan, ia adalah penjara yang megah, menanti untuk menariknya ke dalam. Aroma lumut basah dan kayu tua menusuk indranya, mengingatkannya betapa asing dan dinginnya dunia yang akan ia pijak.

Ia menarik napas, udara dingin menusuk paru-parunya. Tangan kirinya mencengkeram erat tas kain yang lusuh, satu-satunya harta yang ia bawa. Di dalamnya tersembunyi sebuah loket kosong dan keberanian yang rapuh. Misi itu, yang dipaksakan oleh Komandan Thorne dari Intelijen Kerajaan, adalah belenggu ganda. William Hawthorne, Duke of Ashbourne, Jenderal terkemuka, dituduh berkhianat. Tugasnya adalah menguak kebohongan itu, atau mengonfirmasi kebenarannya. Namun, ada beban lain yang lebih berat: keluarganya. Keluarga Vance, yang terjerat hutang tak terbayar dan skandal masa lalu, telah menjadikannya pion dalam permainan berbahaya ini. Kegagalan berarti kehancuran total, kehancuran yang tak terhindarkan. Ketakutan itu berpadu dengan beban moral penyamaran ini, menusuknya seperti belati tajam.

Gerbang besi tempa di sisi belakang manor terbuka sedikit, menguak celah ke dalam kegelapan. Tidak ada bunyi derit. Hanya sebuah tangan, kurus dan pucat, yang mengisyaratkan Seraphina untuk masuk. Ia melangkah maju, kakinya terasa berat, seolah setiap ototnya menolak untuk bergerak. Pintu gerbang kembali menutup, bunyinya nyaris tak terdengar. Dunia di luar, dunia yang ia kenal, kini tertinggal di belakangnya. Ia kini Eleanor Finch, seorang pelayan baru, tanpa masa lalu, tanpa jati diri. Hanya sebuah bayangan yang diproyeksikan untuk tujuan yang kejam.

Seorang wanita tua berwajah keriput, mengenakan seragam pelayan yang rapi namun usang, menunggu di balik gerbang. Matanya tajam, menyorot Seraphina dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Eleanor Finch, kan?" Suaranya parau, menusuk. "Cepat. Duke tidak suka menunggu." Wanita itu tidak menanyakan mengapa ia datang di tengah malam, atau dari mana asalnya. Hanya perintah. Seraphina mengangguk, lidahnya terasa kelu. Ia mengangkat dagu, mencoba meniru ketenangan yang telah ia latih berbulan-bulan. Namun, di dalam, jantungnya berpacu seperti genderang perang.

"Ikut aku." Wanita tua itu berbalik, melangkah menyusuri lorong yang remang-remang. Cahaya lentera minyak yang tergantung di dinding memantul pada panel kayu gelap, menciptakan bayangan-bayangan menari. Udara di dalam manor terasa pengap, berat dengan aroma lilin dan debu yang lama terperangkap. Seraphina mengamati setiap detail: ukiran di dinding, tekstur karpet tebal yang meredam suara langkah, bahkan celah kecil di antara papan lantai. Otaknya bekerja, memetakan, mengidentifikasi potensi rute, tempat persembunyian, jalan keluar. Instingnya sebagai mata-mata, yang selama ini ia coba kubur, kini bangkit.

"Kau akan tidur di paviliun pelayan. Jangan membuat masalah. Duke membenci keributan." Suara wanita tua itu memotong lamunan Seraphina. Ia adalah kepala pelayan, Mrs. Eldridge, sebagaimana yang diinstruksikan Komandan Thorne. Tangannya, yang mengisyaratkan arah, tampak kuat dan tak kenal lelah. Seraphina membayangkan betapa banyak rahasia yang mungkin disimpan wanita itu. Ia adalah buku sejarah berjalan bagi manor ini, dan Seraphina harus menemukan cara untuk membukanya.

Mereka menaiki tangga sempit di bagian belakang, jauh dari tangga utama yang megah. Setiap anak tangga berderit pelan. Seraphina merasakan dinginnya batu di bawah telapak tangannya saat ia berpegangan pada pegangan kayu yang licin. Di atas, lorong-lorong menyempit, langit-langit rendah, dan udara semakin dingin. Ini adalah dunia para pelayan, dunia di mana ia harus hidup dan beroperasi tanpa menarik perhatian. Perasaan tertekan itu semakin membelitnya. Ia adalah mata, telinga, dan tangan Komandan Thorne, namun juga seorang wanita yang putus asa mencari kebebasan dari belenggu keluarganya sendiri.

Pintu kamar paviliun pelayan terbuka. Ruangan itu kecil, hanya berisi sebuah ranjang sempit, meja kayu usang, dan jendela kecil yang menghadap ke kebun belakang yang gelap. Mrs. Eldridge meletakkan lentera di meja. Cahayanya yang berkedip-kedip menyorot debu yang menari di udara. "Pakaian kerjamu ada di sana. Jangan terlambat besok pagi. Jam enam." Kemudian, tanpa menunggu jawaban, wanita tua itu berbalik dan menghilang, meninggalkan Seraphina sendirian dalam kesunyian.

Seraphina menutup pintu, menghela napas yang panjang. Kelegaan kecil menyelimuti, tetapi juga ketegangan baru. Ia melirik seragam pelayan yang terlipat rapi di kursi: gaun hitam sederhana, apron putih, topi renda. Simbol penyerahan diri, namun juga penyamaran. Ia berjalan ke jendela, mencoba melihat keluar, tetapi yang terlihat hanya kegelapan yang pekat. Di suatu tempat di balik dinding-dinding ini, William Hawthorne sedang tidur, tidak menyadari bahwa seseorang telah menyusup ke sarangnya. Rasa cemas dan putus asa merayap. Ia telah melangkah masuk, namun jalan keluar masih berupa kabut tebal. Satu-satunya janji yang ia bawa, janji palsu di bibirnya, dan keraguan yang tak terucapkan di hatinya, kini harus berhadapan dengan takdir yang tak terduga di balik dinding mansion megah itu. Seraphina tahu, misinya baru saja dimulai, dan ia tidak punya pilihan selain bertahan.

Memuat komentar...