
Bara
Sinopsis
Harga kebanggaan selalu lebih mahal dari ketakutan akan kehancuran; ia sering dibayar dengan darah, dibakar oleh prasangka, dan diwariskan dalam nyala yang tak pernah padam. Demikianlah nasib Kaelani, seorang putri dari Suku Aethel yang termarjinalkan, yang lahir dengan ikatan jiwa kuno kepada Ardan, Pangeran Kerajaan Lumina—sebuah ikatan yang seharusnya membawa kedamaian, namun kini hanya menjadi bara yang membakar kebencian dan kecurigaan. Di mata kaum Lumina yang agung, sihir Aether purba Kaelani adalah ancaman, bukan anugerah, sebuah warisan terang-terangan yang mereka ingin musnahkan, bahkan ketika takdir menuntutnya untuk duduk di samping pewaris takhta mereka. Setiap sentuhan Aether yang mengalir dalam nadinya terasa seperti kutukan, memisahkan Kaelani dari dunia dan dari dirinya sendiri, membuatnya berjuang untuk memahami kekuatan yang diwarisinya dari ribuan tahun silam. Di tengah dinding istana yang megah namun dingin, ia menghadapi tatapan menghakimi dari bangsawan Lumina, intrik sosial yang kejam, dan kehampaan dalam sebuah ikatan yang seharusnya sakral. Ardan, seorang pangeran yang terbebani oleh tugas dan janji kuno, berusaha memenuhi takdirnya tanpa benar-benar memahami wanita yang kini terikat padanya, membuat Kaelani merasa semakin terisolasi dalam perjuangan melawan prasangka kolektif dan kekuatannya sendiri yang tak terkendali. Namun, ketika ancaman yang lebih tua dan gelap—kekuatan kuno yang nyaris terlupakan—mulai mengikis perbatasan Kerajaan Lumina dan Suku Aethel, Kaelani dan Ardan dipaksa untuk melihat melampaui prasangka dan ikatan tugas. Kekuatan Kaelani yang ditakuti mungkin adalah satu-satunya harapan untuk menyatukan dua dunia yang terpisah, memaksa keduanya untuk menghadapi takdir mereka dan mempertanyakan apa arti cinta, kesetiaan, dan pengorbanan di tengah bara konflik yang mengancam untuk melahap semua yang mereka kenal. Mereka harus menemukan jati diri mereka bukan di dalam ekspektasi, tetapi di dalam kekuatan untuk mengubah sejarah.
Pengikat Jiwa
Kaelani mengangkat kakinya. Sepatu kulitnya yang bersulam benang perak, yang belum pernah merasakan kehangatan lantai istana, mendarat di atas ambang marmer putih gerbang Lumina yang menjulang. Suara tumitnya beradu dengan batu itu terlalu nyaring, memecah kesunyian yang mencekam. Jubah ritual Aethel yang membalut tubuhnya terasa asing, bukan karena bobot kainnya yang lembut, melainkan karena beratnya takdir yang kini membebani setiap seratnya. Daun-daun perak yang dijahit di sulaman jubahnya memantulkan cahaya matahari senja, berkilauan seperti air mata beku.
Puluhan pasang mata, tajam dan dingin, tertuju padanya. Bangsawan Lumina berbaris rapi di sepanjang jalan setapak menuju pintu utama istana, memancarkan aura arogansi yang menusuk. Kaelani bisa merasakan tatapan menghakimi mereka merayapi setiap inci jubahnya, setiap untai rambut hitamnya yang dikepang, dan bahkan kulitnya yang kecokelatan. Mereka adalah ras yang memuja kemurnian Rune, sebuah energi yang tertata dan terikat aturan, sementara dirinya adalah Putri Aethel, pembawa Aether purba yang bergejolak, liar, dan di mata mereka, berbahaya. Prasangka yang selama ini hanya ia dengar dalam bisikan di Hutan Aethel, kini menjadi kenyataan yang membakar di udara. Udara di istana itu terasa lembap dan berat, berbeda sekali dengan angin segar yang selalu membelai hutan. Aroma kemenyan dan bunga-bunga Lumina yang manis terlalu kuat, menekan bau tanah basah dan pinus yang sangat ia rindukan.
Di ujung barisan, berdiri seorang pria. Pangeran Ardan. Ia mengenakan jubah kebesaran Lumina berwarna biru tua, dengan lambang rune emas yang bersulam di dada. Wajahnya serius, kaku, tanpa ekspresi yang bisa Kaelani baca. Matanya yang keperakan tidak menunjukkan kehangatan, hanya sebuah tugas yang harus diselesaikan. Ardan adalah pewaris takhta Kerajaan Lumina, dan Kaelani adalah janji kuno yang diwarisi, bukan pilihan hati. Ikatan jiwa kuno, yang seharusnya membawa kedamaian antara dua bangsa, kini terasa seperti rantai yang mengikat lehernya. Kaelani menelan ludah, kerongkongannya kering. Bibirnya terasa dingin. Setiap langkah ke depan adalah pengkhianatan kecil terhadap kebebasan yang ia tinggalkan di belakang.
Ketika Kaelani akhirnya berdiri di hadapan Ardan, jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang dalam. Ardan membungkuk formal, sebuah gerakan yang lebih seperti robot ketimbang manusia. "Selamat datang, Putri Kaelani, di Lumina," suaranya datar, tanpa emosi. Kata-kata itu lebih terdengar seperti bagian dari protokol yang dihafalkan, bukan sapaan pribadi. Tangan Ardan terulur, kaku dan terbungkus sarung tangan putih. Kaelani ragu sejenak, namun ia meraihnya. Kulit Ardan terasa dingin, sedingin marmer istana ini. Tidak ada genggaman yang menghangatkan, hanya sentuhan dua kewajiban yang bersentuhan.
Mereka melangkah bersama menuju ruang upacara, melintasi lorong-lorong megah yang dihiasi patung-patung leluhur Lumina dan permadani tebal yang meredam setiap langkah. Kaelani merasa seperti boneka yang digerakkan, setiap gerakannya diatur oleh protokol yang tidak ia pahami. Mata para bangsawan mengikuti mereka, beberapa dengan rasa ingin tahu, sebagian besar dengan kecurigaan yang kentara. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan samar, meskipun tidak memahami bahasanya, nada mereka cukup jelas. Sebuah intrik yang tak terlihat mulai merayap di bawah kulitnya, janji konflik yang tak terucapkan.
Upacara pernikahan itu adalah pameran keagungan Lumina. Ruangan itu dipenuhi cahaya Rune yang memancar dari kristal-kristal raksasa yang tergantung di langit-langit, menerangi altar suci dan deretan pendeta berwajah kaku. Bau kemenyan di ruangan itu semakin kuat, membuat Kaelani sulit bernapas. Kaelani berdiri di samping Ardan, di depan seorang pendeta agung yang janggutnya putih menjuntai hingga ke pinggang. Setiap kata yang diucapkan pendeta itu dalam bahasa kuno Lumina terasa seperti palu yang memukul jiwanya, mengikatnya pada takdir yang ia tidak pilih. Ardan mengucapkan sumpahnya dengan suara yang stabil, jelas, seolah ia membaca dari naskah yang tak bercela. Kaelani mengagumi ketenangannya, meskipun ia membenci ketidakberadaan emosi di dalamnya. Ia, di sisi lain, merasakan napasnya tertahan di dada. Tenggorokannya tercekat.
Ketika tiba gilirannya, suara Kaelani bergetar, lebih seperti embusan angin daripada janji seorang putri. "Aku... menerima ikatan ini," ucapnya, kata-kata itu terasa pahit di lidahnya. Tangannya mengepal erat di balik jubah, berusaha menekan Aether yang mulai berdenyut liar di dalam nadinya. Ia bisa merasakan energi Rune yang kuat di sekelilingnya, menekan, mencoba membentuk, mencoba mendominasi Aethernya. Itu adalah pertarungan senyap, hanya ia yang merasakannya. Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman, hanya tatapan Ardan yang singkat dan formal, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan transaksi penting.
Malam harinya, di kamar pribadinya yang mewah namun terasa dingin, Kaelani berdiri di depan cermin. Gaun Lumina yang ia kenakan untuk jamuan makan malam usai upacara terasa asing dan tidak nyaman. Lampu kristal Rune di dinding memancarkan cahaya keemasan yang terang, namun terasa hampa. Ia meraba lehernya, di mana seharusnya ada kalung keberuntungan Aethel yang selalu ia pakai. Sekarang, tidak ada apa-apa. Sendirian, barulah ia merasakan kebebasan singkat untuk membiarkan air matanya jatuh. Air mata itu membasahi pipinya yang lelah. Ia merindukan Hutan Aethel, suara gemerisik daun yang menenangkan, aroma tanah yang familiar, dan langit malam yang bertabur bintang tanpa cahaya Rune yang terlalu terang.
Di meja rias, sebuah liontin kristal kecil, hadiah dari ibunya, tergeletak. Kaelani memungutnya. Kristal itu adalah lambang Aether murni, sebuah pengingat akan kekuatannya yang diwarisi. Namun, saat Aether di dalam dirinya bereaksi liar terhadap energi Rune yang terus-menerus menguar dari dinding istana, liontin itu bergetar dalam genggamannya. Sebuah retakan halus, seperti jaring laba-laba, mulai muncul di permukaannya. Kaelani tersentak, menjatuhkan liontin itu ke meja rias. Retakan itu semakin membesar, suara 'krek' pelan memecah kesunyian kamar. Liontin itu pecah menjadi dua bagian, sinarnya meredup.
Ketakutan yang dingin merayap di dadanya. Kekuatan Aethernya, warisan purba dari ribuan tahun silam, terlalu kuat, terlalu liar. Ia tidak bisa mengendalikannya. Bahkan di dalam perlindungan istana yang konon aman ini, energinya bereaksi tak terkendali. Kaelani menatap pantulan dirinya di cermin, matanya dipenuhi kegelisahan. Ia melihat seorang putri yang terperangkap, seorang wanita yang takut pada kekuatan di dalam dirinya sendiri. Beban harapan bangsanya di pundaknya terasa seperti gunung, dan kebencian bangsa Lumina di setiap sudut pandang istana ini adalah udara yang mencekiknya. Ia adalah bara, yang membakar dirinya sendiri, atau mungkin akan membakar dunia. Malam itu, ia terlelap dengan kegelisahan, merindukan embusan angin Hutan Aethel yang jauh.