TANPA PENA
Siklus Akar yang Patah

Siklus Akar yang Patah

146 Menit Baca
0 Suka
25 Bab

Sinopsis

Kesuksesan seringkali hanyalah topeng yang menutupi kerapuhan, di mana ambisi yang terlalu tinggi justru menjadi beban yang mematahkan dahan tempat kita berpijak. Bagi Thalia Irawan, sorot lampu kamera dan tepuk tangan publik adalah validasi mutlak atas eksistensinya sebagai pembawa acara bincang-bincang paling berpengaruh di negeri ini. Namun, di balik gaun desainer dan senyum profesionalnya, Thalia menyembunyikan retakan dalam pernikahannya dengan Bramantyo, seorang kurator galeri seni yang pendiam. Obsesi Thalia pada rating dan citra publik membuatnya mengabaikan kerinduan Bram akan sebuah keluarga, menciptakan jurang sunyi di antara mereka yang hanya diisi oleh ego dan kesibukan. Segalanya hancur ketika sebuah kecelakaan maut saat perjalanan menuju acara amal mengubah dinamika kekuatan mereka selamanya. Bramantyo selamat, namun ia kehilangan kemampuan untuk berjalan dan menderita trauma neurologis yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Di tengah reruntuhan mimpinya, Thalia dipaksa menghadapi kenyataan pahit: keguguran yang ia rahasiakan karena takut mengganggu kontrak kerjanya terungkap bersamaan dengan disabilitas permanen sang suami. Manajer Thalia yang manipulatif, Ibu Sandra, justru melihat tragedi ini sebagai peluang 'branding' yang menjijikkan, memaksa Thalia memilih antara memeras air mata publik demi karier atau benar-benar hadir sebagai istri bagi pria yang kini merasa dirinya tak berguna. Perjalanan menuju pemulihan bukan hanya soal terapi fisik bagi Bramantyo, tetapi juga terapi jiwa bagi Thalia. Dalam upaya menebus dosa masa lalu dan mengatasi kemandulan akibat komplikasi kecelakaan, mereka menempuh jalan berliku menuju adopsi—sebuah proses yang ditentang keras oleh keluarga besar Bramantyo yang masih memuja kemurnian darah. Thalia harus meruntuhkan dinding keangkuhannya, melepaskan ambisi materialnya, dan belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam tepuk tangan orang asing, melainkan dalam ketulusan untuk saling memapah saat salah satu dari mereka kehilangan pijakan.

Bab 1
published

Sorot Lampu dan Dinginnya Meja Makan

Tangan Thalia Irawan terasa dingin. Bukan karena suhu studio yang membeku oleh pendingin udara, melainkan karena getaran aneh dari tropi berlapis emas yang baru saja ia genggam. Mikrofon miring di podium terasa familier, sorot lampu putih membutakan, dan deru tepuk tangan memekakkan telinga. Ia baru saja diumumkan sebagai Presenter Terbaik tahun ini, sebuah validasi nyata dari kerja keras, pengorbanan, dan keputusan-keputusan pragmatis yang telah ia ambil. Senyumnya sempurna, bibirnya membentuk lengkungan bangga yang telah terlatih di depan cermin. Dalam benaknya, ini bukan sekadar penghargaan. Ini adalah benteng kokoh. Perisai yang melindunginya dari bayangan kemiskinan masa kecil yang selalu mengintai. Sebuah jaminan bahwa ia tidak akan pernah kembali ke sana, ke rumah petak lembap dengan atap bocor yang selalu menghantuinya.

Di belakang panggung, bau cat rambut salon bercampur aroma keringat dan parfum mahal di udara pengap. Ibu Sandra menyambutnya dengan pelukan singkat yang terasa lebih seperti cengkeraman. Telapak tangannya dingin, namun gigitannya di lengan Thalia terasa kuat. "Selamat, Thalia. Luar biasa. Penonton histeris. Rating pasti meroket." Mata Ibu Sandra, tajam dan menghitung, memindai Thalia dari ujung kaki ke ujung kepala, seolah menghitung nilai investasinya, bukan merayakan pencapaian. Thalia membalas dengan senyum tipis, kepalanya berdenyut. Kilauan emas di tangannya terasa berat, bukan ringan. "Terima kasih, Bu." Kata-kata itu terdengar hampa, bahkan bagi telinganya sendiri. Ia merasa lelah, sebuah kelelahan yang jauh lebih dalam dari sekadar fisik. Ia ingin segera pergi, keluar dari hiruk pikuk, meski ia tahu, di luar sana, ia harus kembali menghadapi Bramantyo dan keheningan yang lebih menusuk daripada teriakan para penggemar.

Mobil hitam mewah melaju membelah malam Jakarta. Jalanan lengang. Tropi itu tergeletak di jok penumpang, berkilauan di bawah lampu jalanan yang sesekali menerobos kaca. Cahayanya menari-nari di langit-langit mobil, menciptakan bayangan yang bergerak. Thalia menatap pantulan wajahnya di jendela, sejenak melihat kerapuhan di balik topeng profesional yang ia kenakan. Lingkaran hitam samar di bawah matanya, sudut bibir yang sedikit menurun. Bukan senyum puas seorang pemenang. Lebih seperti ekspresi seseorang yang baru saja menyelesaikan pertempuran panjang. Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan meresap, menghirup aroma kulit jok mobil yang dingin. Aroma itu terasa asing, seperti kehidupannya sendiri. Sepasang kekosongan yang tidak bisa diisi oleh tepuk tangan. Ia memaksa diri untuk membuka mata dan menghadapi realita yang menunggunya di rumah. Sebuah realita yang tidak bisa dimanipulasi dengan senyuman atau kata-kata manis di depan kamera.

Ketika pintu apartemen terbuka, aroma soto ayam yang sudah dingin menyergap indra penciumannya. Aroma bawang goreng yang sudah layu, kuah santan yang mengental. Gelap. Hanya lampu dapur kecil yang menyala, menyoroti mangkuk-mangkuk keramik yang tertata rapi di meja makan. Semuanya tampak statis, seolah waktu berhenti berputar di sana. Bramantyo duduk di sana, membelakangi pintu, punggungnya tegak namun bahunya tampak kendur. Jas kerjanya tergantung rapi di sandaran kursi, seperti penunggu setia. Ia tidak lagi membaca buku seninya. Tidak ada musik. Tidak ada obrolan. Hanya kesunyian yang tebal, membeku seperti kuah soto di atas meja, menusuk hingga ke tulang.

Thalia menaruh tas tangannya di atas konsol, suaranya terdengar terlalu keras di tengah keheningan yang membebani. "Bram?"

Bramantyo berbalik perlahan. Suara engsel kursi berderit pelan. Matanya yang lembut menyambut Thalia. Tidak ada senyum lebar, tidak ada ucapan selamat yang antusias. Hanya tatapan yang dalam, penuh sesuatu yang tidak bisa Thalia baca dengan mudah, seperti lukisan abstrak yang rumit. "Selamat, Thalia. Aku melihatnya. Kamu luar biasa." Suaranya datar, tanpa emosi berlebihan, namun ada nada tipis yang terasa seperti luka lama yang terbuka kembali. Ucapan selamat yang terdengar seperti pujian yang terpaksa, atau malah pernyataan fakta yang tanpa jiwa.

"Kamu menungguku? Kenapa tidak makan duluan?" Thalia berjalan mendekat, melepas syal sutranya. Udara di ruangan itu terasa dingin, lebih dingin dari yang seharusnya, menembus kulitnya. Ia mendapati dirinya meremas ujung syal, sebuah kebiasaan gugup yang tak pernah ia lakukan di depan kamera. Jemarinya saling meremas kain sutra, mencari kehangatan yang tidak ada.

"Aku ingin kita makan bersama. Kamu bilang pulang cepat." Bram menunjuk ke arah meja makan dengan dagunya. Gerakannya lambat, tanpa energi. "Soto ayam, kesukaanmu. Sudah dingin." Kata 'sudah dingin' itu terasa seperti sebuah tuduhan, bukan sekadar fakta tentang suhu makanan. Sebuah metafora untuk sesuatu yang lain, yang lebih dalam.

Thalia mengambil tempat duduk di seberang Bram. Kursi bergeser di lantai marmer, suaranya mengikis sunyi. Ia melihat bayangan dirinya terpantul di permukaan mangkuk soto yang kusam, buram. Wajah lelahnya. Tatapannya tertahan di sana. "Ada wawancara dadakan setelah acara, Bram. Penting. Aku tidak bisa menolaknya." Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional, seperti sedang berhadapan dengan lawan debat di televisinya, mengendalikan emosi dengan rapat.

"Lebih penting dari janji temu dengan dokter kesuburan?" Suara Bramantyo tetap tenang, namun setiap kata terasa seperti tetesan embun beku yang menetes di kulit Thalia, menusuk dan dingin. Ia tidak meninggikan suara, tapi ada beban di sana yang lebih berat dari teriakan. Beban harapan yang terabaikan.

Thalia meletakkan garpu, menciptakan suara tajam yang mengganggu kesunyian. Logam beradu keramik. "Bram, kita sudah membicarakannya. Kontrakku baru saja diperpanjang. Dengan angka yang fantastis. Aku tidak bisa mengambil risiko sekarang. Ini puncaknya. Ratingku sedang di atas angin." Ia mencondongkan tubuh sedikit, berusaha meyakinkan, seperti ia meyakinkan penontonnya setiap malam bahwa ia adalah yang terbaik. Ini adalah pertempuran yang ia kenal, pertempuran untuk meyakinkan.

"Puncak?" Bramantyo akhirnya mengangkat pandangannya, bertemu langsung dengan mata Thalia. Tatapannya mencari, menggali. "Puncak apa, Thalia? Puncak kariermu, atau puncak dari pernikahan kita?" Ia tidak menunggu jawaban. Hanya menatap. "Aku melihatmu tadi. Senyummu di layar TV. Kamu bersinar. Tapi saat pulang, kamu seperti orang asing." Nada suaranya sedikit bergetar kali ini, menunjukkan retakan di balik ketenangannya.

Perkataan itu menyengat. Thalia merasakan panas menjalar di pipinya. Rasa bersalah bergejolak, bercampur dengan kemarahan karena merasa diserang. "Aku melakukan ini demi kita, Bram. Demi masa depan kita. Agar kita punya segalanya. Agar anak-anak kita nanti tidak perlu merasakan apa yang aku rasakan dulu. Kemiskinan. Kelaparan." Ia menggenggam erat telapak tangannya di bawah meja, berusaha menyembunyikan getarannya, tetapi cengkeraman pada kain celananya sudah terlalu kencang, memutih di ruas-ruas jari.

"Anak-anak?" Bramantyo tertawa kecil, hampa. Suaranya terdengar pecah, seperti pecahan kaca yang jatuh ke lantai. "Bagaimana mereka bisa ada, kalau kita bahkan tidak berusaha? Kalau setiap janji temu terasa seperti beban?" Ia berhenti sejenak, menatap Thalia dengan tatapan yang nyaris putus asa. "Dulu, kita sering membayangkan suara tangisan mereka memenuhi rumah ini. Suara langkah kaki kecil. Tapi sekarang, rumah ini hanya diisi oleh keheninganmu, dan sorot lampu kameramu." Ia mengalihkan pandangan, menatap mangkuk soto yang mendingin di hadapannya.

Thalia bangkit dari duduknya. Kakinya terasa kaku, otot-ototnya menegang. "Itu tidak adil, Bram. Aku bekerja keras. Aku berkorban!" Suaranya meninggi, kontrolnya mulai goyah. Pertahanannya runtuh. "Kamu tidak mengerti!"

"Apa yang aku tidak mengerti, Thalia?" Bramantyo balik bertanya, suaranya kini sedikit lebih keras, dingin. "Aku tidak mengerti bahwa kita semakin menjauh? Aku tidak mengerti bahwa kita berbicara hanya melalui janji-janji yang selalu kau langgar?" Ia berdiri, menghadap Thalia sepenuhnya. Matanya tidak lagi lembut, melainkan penuh kekecewaan. "Kita berdua ada di sini, Thalia. Tapi kita hidup di dua dunia yang berbeda."

Thalia terdiam. Perutnya melilit. Kalimat Bramantyo bagai pukulan telak. Ia ingin membantah, ingin berteriak, ingin menjelaskan semua ketakutannya, tapi tidak ada kata yang keluar. Hanya keheningan yang kembali, lebih pekat dan menyakitkan daripada sebelumnya. Ia berbalik, menuju kamar tidur, tanpa sepatah kata pun. Ia merasakan tatapan Bramantyo membakar punggungnya, namun ia tidak berani menoleh.

Di kamar, Thalia mengganti gaun mewahnya dengan piyama sutra. Dinginnya kain itu tidak menenangkan hatinya. Ia masuk ke dalam selimut, memunggungi sisi tempat tidur Bramantyo. Lampu di luar kamar masih menyala. Ia mendengar suara langkah kaki Bramantyo mendekat, keheningan yang mengikutinya. Pintu kamar tertutup pelan, bunyi 'klik' yang memisahkan mereka. Ia merasakan tempat tidur ambles di sisi lain, namun tidak ada sentuhan, tidak ada kata. Hanya napas teratur yang berjarak. Malam itu, tropi emas di luar sana mungkin bersinar terang, namun di dalam kamar ini, Thalia merasa lebih gelap dan lebih sendirian daripada sebelumnya. Siklusnya, akar-akar yang ia tanam demi keamanan dan kesuksesan, kini terasa mematahkan.

Memuat komentar...