TANPA PENA
Sembilan Puluh Malam di Hutan Larangan

Sembilan Puluh Malam di Hutan Larangan

0 Menit Baca
0 Suka
0 Bab

Sinopsis

Kepulan asap dari obor yang mulai padam menyapu wajah Raden Arjuna Dananjaya, menyisakan jejak panas yang membakar kulitnya. Ia meraba gagang pedang pusaka yang dingin di pinggangnya, naluri keturunannya berteriak akan bahaya yang mengintai di balik pepohonan purba Hutan Larangan. Tugas yang dibebankan kepadanya—menemukan obat legendaris untuk menyembuhkan penyakit misterius yang merenggut kesehatan Raja Wirata, ayahnya—terasa semakin mustahil di setiap langkahnya. Di tengah desas-desus yang beredar mengenai kutukan kuno dan penjaga gaib hutan, Arjuna harus berhadapan dengan keraguan dari dirinya sendiri: apakah ia mampu memenuhi takdir yang dibebankan padanya, ataukah ia hanya akan menjadi korban berikutnya dari misteri yang menyelimuti tempat ini? Perjalanannya membawanya pada pertemuan tak terduga dengan Sekar Melati, seorang wanita pribumi dari suku Karta yang hidup tersembunyi di jantung hutan. Melati, yang terbiasa hidup dalam harmoni dengan alam dan memiliki pengetahuan mendalam tentang ramuan serta tradisi leluhurnya, awalnya memandang Arjuna dengan curiga. Ia melihat sang bangsawan muda sebagai lambang penindasan dan keserakahan yang telah merusak tanah leluhurnya. Namun, seiring waktu, kesamaan tujuan dan cobaan hidup yang mereka hadapi bersama mulai meruntuhkan dinding prasangka di antara mereka. Arjuna mulai menyaksikan dari dekat kehidupan masyarakat pribumi yang tertindas oleh aturan keras kerajaan dan para penguasa kolonial, sementara Melati melihat bahwa tidak semua bangsawan membawa beban warisan leluhur mereka dengan arogansi buta. Keduanya terperangkap dalam pusaran dilema moral: Arjuna harus memilih antara loyalitas pada keluarganya dan keadilan bagi rakyat yang ia temui, sementara Melati bergulat dengan kepercayaan pada kebebasan komunitasnya dan kemungkinan membuka diri pada dunia luar. Hutan Larangan menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Setiap malam yang berlalu membawa konsekuensi yang lebih berat, baik bagi kesehatan Raja yang kian memburuk di istana, maupun bagi hubungan mereka yang semakin kompleks. Tekanan dari keluarga Arjuna di istana, yang menginginkan kepulangan cepat dengan ramuan apa pun hasilnya, berbenturan dengan penolakan Melati untuk mengkhianati prinsip-prinsip penjagaan hutan. Ancaman dari para perampok yang memanfaatkan kekacauan dan intrik politik di kalangan bangsawan semakin menambah ketegangan. Akankah Arjuna dan Melati berhasil mengungkap kebenaran di balik penyakit sang Raja dan kutukan hutan, ataukah mereka akan terperangkap selamanya dalam jaringan kebohongan dan pengkhianatan, menemukan bahwa 'obat' yang mereka cari ternyata memiliki harga yang jauh lebih mahal dari yang mereka bayangkan?

Menyiapkan draf pertama...

Memuat komentar...