TANPA PENA
Menerjang Batas Kehormatan

Menerjang Batas Kehormatan

1036 Menit Baca
0 Suka
20 Bab

Sinopsis

Di saat Gavin Bratadikara berdiri di puncak menara kaca Distrik Niaga Batara dengan segala kemewahan yang terasa hampa dan dingin, Ziva Anindita harus bergelut dengan pengapnya lorong rumah sakit, menghitung lembaran rupiah terakhir demi memperpanjang napas ayahnya. Gavin adalah simbol kekuasaan yang terjepit oleh tradisi keluarga untuk memiliki pewaris, sementara istrinya, Bianca, lebih mencintai status sosial daripada sebuah persalinan. Pertemuan mereka bukan sekadar urusan profesional antara atasan dan sekretaris, melainkan sebuah tabrakan dua dunia yang akan menghancurkan prinsip masing-masing. Keadaan mendesak memaksa Gavin melontarkan tawaran yang tidak masuk akal: satu miliar rupiah untuk sebuah transaksi kehormatan yang belum pernah tersentuh dan seorang anak. Ziva, yang selama ini memegang teguh harga dirinya, terpaksa menelan pahitnya kenyataan dan menerima kontrak gelap tersebut demi menyelamatkan nyawa orang tuanya. Namun, apa yang dimulai sebagai transaksi dingin segera berubah menjadi pusaran emosi yang tak terkendali saat benih kehidupan mulai tumbuh di rahim Ziva, memicu naluri posesif Gavin yang brutal sekaligus rentan. Hubungan terlarang ini menyeret mereka ke dalam konflik batin yang menyiksa, di mana kesetiaan pernikahan Gavin diuji oleh hasrat yang meluap pada Ziva. Di tengah intrik korporat dan ancaman pihak luar yang memandang Ziva sebagai objek semata, Gavin harus memilih antara mempertahankan imperium bisnisnya atau mengakui cinta sejatinya pada wanita yang ia 'beli'. Ini adalah perjalanan tentang penebusan, di mana sebuah kesalahan moral menjadi satu-satunya jalan menuju kebahagiaan yang jujur, meski harus dibayar dengan kehancuran citra dan air mata.

Bab 1
published

Dua Sisi Mata Uang

Gavin Bratadikara melempar map kulit itu ke atas meja mahoni. Suara benturannya bergema di ruang rapat lantai lima puluh Menara Bratadikara yang kedap suara. Di seberang meja, sang Komisaris Utama—ayahnya—tidak bergeming. Kusuma Bratadikara hanya menatap Gavin dengan mata yang lebih dingin dari pendingin ruangan.

"Legacy, Gavin. An investment without a return is a failure," suara Kusuma rendah namun menekan. Jam tangan mekanik di pergelangan Gavin berdetak pelan, setiap detiknya terasa seperti hantaman palu.

Gavin bangkit, berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan kerlip lampu Distrik Niaga Batara yang angkuh. Bahunya yang lebar tampak tegang di balik setelan jas tailored berwarna gelap. "Pernikahanku bukan portofolio bisnis, Pah."

"Tapi rahim Bianca adalah aset yang kita bicarakan sekarang. Dua tahun, Gavin. Tanpa pewaris. Bratadikara Group butuh stabilitas, bukan sekadar aliansi di atas kertas," Kusuma menyesap kopinya yang sudah dingin. "Pikirkan posisimu sebagai CEO. Dewan Komisaris mulai bertanya-tanya."

Gavin mengepalkan tangan di dalam saku celananya. Bianca Atmadja. Istrinya itu mungkin sedang berada di galeri seni atau butik mewah saat ini, menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk menghindari pembicaraan tentang anak. Pernikahan mereka adalah padang pasir yang luas; gersang dan tanpa kehidupan. Tidak ada keintiman, hanya transaksi citra untuk publik.

Di sisi lain kota, Ziva Anindita tidak melihat gemerlap lampu dari menara kaca. Dia hanya melihat angka-angka merah di atas kertas slip pembayaran rumah sakit. Kertas itu lembap oleh keringat dingin dari telapak tangannya.

Bau lisol yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan aroma keputusasaan yang menyesakkan di koridor RS Harapan. Ziva duduk di kursi plastik yang keras. Tulang punggungnya pegal, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan hantaman di dadanya.

"Tiga ratus juta, Mbak Ziva. Itu baru biaya deposit operasi katup jantung ayah Mbak. Jika tidak dilakukan dalam empat puluh delapan jam..." Kalimat suster itu menggantung, namun Ziva tahu lanjutannya.

Ziva menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Rekening banknya hanya menyisakan angka tujuh digit. Dia adalah sekretaris junior yang teliti, yang selalu memastikan jadwal Gavin Bratadikara tersusun sempurna hingga ke menit terkecil, namun dia gagal menyusun hidupnya sendiri.

Ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan dari kepala sekretaris. Pak Gavin minta dokumen laporan akuisisi Samudera dikirim ke apartemen pribadinya sekarang. Dia butuh yang paling teliti untuk memeriksa lampiran akhir. Pergilah.

Ziva menghapus air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. Dia berdiri, merapikan kemeja kerjanya yang murah namun bersih. Harga diri adalah satu-satunya hal yang dia miliki saat ini, dan dia harus menjaganya tetap tegak, meski kakinya terasa seperti akan runtuh.

Hujan mulai membasahi kaca Penthouse Griya Samudera saat Ziva menekan bel. Pintu besi berat itu terbuka dengan suara desis pelan. Gavin berdiri di sana. Kemeja putihnya terbuka dua kancing teratas, memperlihatkan ketegangan di pangkal lehernya. Dia tampak berantakan, sebuah pemandangan langka bagi pria yang biasanya tampil tanpa celah.

"Kau terlambat dua menit, Ziva," suara Gavin bariton, lugas, dan mengintimidasi.

"Maaf, Pak. Jalanan macet karena hujan," Ziva menyerahkan map yang dia peluk erat-erat. Dia menunduk, tidak ingin Gavin melihat mata sembabnya.

Gavin tidak mengambil map itu. Dia justru memperhatikan jemari Ziva yang bergetar. Dia adalah predator bisnis; dia tahu bagaimana mencium bau kelemahan. Dan malam ini, sekretarisnya ini berbau seperti luka yang menganga.

"Masuklah. Periksa lampiran itu di meja kerja. I need your full attention," Gavin berbalik, berjalan menuju bar pribadi dan menuangkan wiski ke dalam gelas kristal.

Ziva masuk dengan ragu. Ruangan itu luas, dingin, dan didominasi warna monokrom. Dia duduk di kursi kerja Gavin yang empuk, mencoba fokus pada deretan angka akuisisi, namun angka-angka deposit rumah sakit terus menari-nari di depannya. Tanpa sadar, satu tetes air mata jatuh tepat di atas kertas kontrak.

Gavin mendekat, langkah kakinya tidak terdengar di atas karpet tebal. Dia berdiri tepat di belakang kursi Ziva. Hawa panas dari tubuh pria itu menyentuh tengkuk Ziva.

"Kertas itu tidak akan terbaca dengan air mata, Ziva."

Ziva tersentak, mencoba bangkit namun tangan Gavin menahan bahunya. Sentuhan itu tidak kasar, namun sangat posesif, seolah-olah dia adalah objek yang baru saja masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.

"Apa yang kau butuhkan? Uang?" Gavin bertanya dengan nada yang sangat datar, hampir klinis.

Ziva menggeleng kuat-kuat. "Saya hanya perlu menyelesaikan pekerjaan ini, Pak."

Gavin memutar kursi Ziva hingga wanita itu terpaksa menatap matanya yang tajam dan mengintimidasi. Dia melihat keputusasaan di mata bulat itu, sebuah celah yang sangat lebar. Otak Gavin bekerja cepat. Ayahnya menuntut pewaris. Istrinya menolak hamil. Dan di depannya, ada seorang wanita cerdas, bersih, dan sangat membutuhkan sesuatu yang bisa dia beli dengan mudah: uang.

"Look at me," perintah Gavin. Dia mendekatkan wajahnya, membiarkan Ziva menghirup aroma wiski dan parfum mahalnya yang dominan. "Setiap orang punya harga, Ziva. Dan aku sedang mencari seseorang yang cukup putus asa untuk menjual miliknya padaku."

Ziva terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena rasa takut yang bercampur dengan secercah harapan yang mengerikan. Di ruangan sunyi itu, ketegangan mulai merambat, menandai akhir dari dunianya yang harmonis dan awal dari sesuatu yang terlarang.

Memuat komentar...