TANPA PENA
Rentjana

Rentjana

189 Menit Baca
0 Suka
20 Bab

Sinopsis

Di antara kemegahan dunia yang terbingkai emas dan kesederhanaan kehidupan yang penuh peluh, dua wanita menemukan diri mereka terperangkap dalam pusaran pengkhianatan yang sama, namun dengan jurang pemisah kelas sosial yang begitu dalam. Livia Atherton, pewaris tunggal kerajaan bisnis tekstil kelas atas, hidup dalam sangkar emas yang dibangun dari ekspektasi dan reputasi. Dunianya hancur ketika ia menemukan suaminya, seorang pengusaha ternama, terlibat dalam skema manipulatif yang tidak hanya menghancurkan finansial keluarga, tetapi juga mengancam kehormatan mereka. Di sisi lain, Sariayu Lestari, seorang penjahit rumahan yang berjuang keras untuk menghidupi putrinya yang sakit, tanpa sengaja terlibat dalam jaringan rumit yang mengarah pada kehancuran Livia. Keserakahan dan ambisi seorang tokoh antagonis wanita yang licik menjadi pemicu utama yang menyulut api kehancuran bagi kedua wanita ini, memaksa mereka untuk berjuang demi harga diri dan masa depan yang lebih baik. Perjalanan mereka akan dipenuhi oleh INTENSITAS emosional yang membara, kepedihan mendalam akibat patah hati, ketegangan yang merayap dalam ketidakpastian, pencarian harapan yang rapuh, hingga akhirnya menemukan romansa yang menyembuhkan, penyesalan yang mendalam, dan penebusan yang tulus. Keduanya harus mengatasi trauma pengkhianatan, belajar mempercayai kembali cinta, dan membuat pilihan moral yang sulit, sementara para pria dalam hidup mereka berjuang untuk mengungkapkan emosi dan menebus kesalahan masa lalu.

Bab 1
published

Sangkar Emas dan Benang Putus Asa

Kilau mentari pagi menembus tirai sutra tebal di kamar utama kediaman Atherton. Livia Atherton, terbungkus dalam jubah sutra berwarna gading, berdiri di depan jendela besar yang menghadap taman terawat sempurna. Aroma samar mawar dan melati menguar, namun pagi itu, kedamaian yang biasa ia rasakan terasa berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal, sebuah kegelisahan halus yang merayap bagai bayangan.

Tangannya yang ramping meraih nampan perak berisi secangkir teh melati hangat yang baru saja disajikan pelayan. Uap mengepul tipis, membawa aroma lembut yang seharusnya menenangkan. Namun, matanya tertuju pada tumpukan surat di atas meja riasnya. Salah satunya, amplop berwarna cokelat tua dengan cap resmi dari firma hukum ternama, terasa asing. Ia mengambilnya, jarinya yang lentik mengusap permukaan kertas yang terasa kasar. Saat membukanya, pandangannya terpaku pada rentetan kata yang membeku di udara.

‘Investigasi Penggelapan Dana’. Kata-kata itu seperti duri yang menusuk ulu hatinya. Perusahaan Atherton Corp. Perusahaan warisan keluarganya. Jantungnya mulai berdebar lebih kencang. Ia menelan ludah, mencoba mengendalikan napasnya yang mulai pendek. Tak lama, telepon di nakas berdering, suara deringnya terdengar memekakkan di keheningan pagi itu. Nama ‘Pak Hendra’ tertera di layar. Pengacara keluarga. Pikiran Livia berputar, memutar rekaman peristiwa yang baru saja ia baca. Ia menjawab panggilan itu dengan suara yang ia harap terdengar tenang.

“Ya, Pak Hendra?”

Suara berat di seberang telepon terdengar datar, namun sarat makna. “Nyonya Atherton, saya harap Anda sedang tidak sibuk. Ada beberapa hal mendesak yang perlu kita diskusikan mengenai situasi di Atherton Corp. Ada laporan mengenai… penyimpangan keuangan.”

Kata ‘penyimpangan’ terasa jauh lebih ringan dari ‘penggelapan’, namun Livia tahu persis arti di baliknya. Matanya kembali tertuju pada surat di tangannya. Ia merasakan dingin yang merayap di sekujur tubuhnya, menembus kehangatan jubah sutra.

Sementara itu, di sudut kota yang jauh berbeda, kesederhanaan dan kepedihan mendominasi udara. Sariayu Lestari memijat pelipisnya yang berdenyut. Cahaya lampu neon di ruang tamu sempit itu memantulkan keletihan yang mendalam di wajahnya. Tangan-tangannya yang kasar, bekas jahitan dan goresan kecil, bergerak cekatan menyetrika kemeja-kemeja yang harus selesai sebelum matahari terbit. Di kamar sebelah, suara batuk lemah Rina, putrinya yang berusia delapan tahun, terdengar seperti pukulan yang terus-menerus di dadanya.

Pagi itu, sepucuk surat pemberitahuan dari pabrik konveksi tempatnya bekerja paruh waktu menjadi penambah beban yang sudah teramat berat. ‘Pemutusan Hubungan Kerja.’ Ia memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang menggenang. Dua pekerjaan, satu putri sakit, dan kini ia kehilangan salah satunya. Ia harus menemukan cara lain. Biaya pengobatan Rina tak bisa ditunda. Ia menatap foto Rina yang tersenyum di bingkai kecil di sudut meja. Senyum itu adalah segalanya.

Sore harinya, sebuah pertemuan bisnis yang dingin berlangsung di salah satu ruang rapat Atherton Corp yang megah. Dinding kaca menampilkan pemandangan kota yang gemerlap di bawahnya, kontras dengan ketegangan yang membekukan udara di dalam. Livia duduk berhadapan dengan suaminya, Rendra Wijaya. Rendra tampak tenang, rahangnya yang tegas tak menunjukkan sedikit pun keraguan. Ia adalah seorang pengusaha ternama, dikenal dengan ketegasannya, namun kini, ketenangan itu terasa seperti topeng.

“Semua akan baik-baik saja, Livia,” Rendra berkata, suaranya terdengar meyakinkan, namun matanya tidak bertemu pandang dengan Livia. “Hanya masalah administrasi kecil yang bisa diselesaikan.”

Livia mengamati gerak-gerik suaminya. Ada sesuatu yang salah. Kepercayaan yang selama ini ia bangun, mulai retak perlahan. “Masalah administrasi kecil? Rendra, surat itu berbicara tentang penggelapan dana.” Suaranya bergetar, dipenuhi campuran kemarahan dan ketidakpercayaan.

Rendra menghela napas, nadanya sedikit berubah. “Kau tahu bagaimana dunia bisnis ini bekerja. Terkadang ada kesalahpahaman. Aku akan menanganinya.” Ia bangkit dari kursinya, bergerak menuju jendela. “Kau tidak perlu khawatirkan hal-hal seperti ini.”

Namun, Livia tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa ia sedang disembunyikan sesuatu. Ada jurang pemisah yang tak terlihat mulai terbentuk di antara mereka. Di luar gedung pencakar langit itu, di sebuah gang sempit yang remang-remang, Bima Nugraha sedang berjalan tergesa-gesa. Ia baru saja selesai memeriksa Rina di rumah Sariayu. Wajahnya yang biasanya teduh kini dipenuhi kekhawatiran.

Ia berpapasan dengan Sariayu yang baru saja kembali dari mengambil bahan jahitan. Sariayu tampak lelah, namun senyum kecil tersungging di bibirnya saat melihat Bima. “Dokter Bima. Bagaimana kondisi Rina?”

Bima berhenti, menatap Sariayu. “Rina… kondisinya masih belum stabil, Sariayu. Batuknya semakin parah. Ada baiknya kita segera mempertimbangkan perawatan intensif di rumah sakit.”

Pernyataan itu bagai petir di siang bolong bagi Sariayu. Rumah sakit? Ia bahkan kesulitan membayar obat-obatan. “Tapi… biayanya…” Suaranya tercekat. “Saya bahkan baru saja kehilangan pekerjaan saya di pabrik.”

Bima menghela napas panjang. Ia tahu betapa sulitnya kehidupan Sariayu. “Saya mengerti. Tapi kesehatan Rina adalah prioritas utama. Saya akan mencoba mencari cara, mungkin ada program bantuan. Tetaplah kuat, Sariayu.” Ia menepuk bahu Sariayu dengan lembut. Ada harapan dalam tatapan matanya, namun kekhawatiran yang lebih besar masih membayanginya.

Livia kembali ke rumah mewahnya di Menteng. Suasana pagi yang tenang kini terasa mencekam. Ia duduk di ruang keluarga, memijat pelipisnya. Dunia yang ia kenal, dunia yang ia bangun bersama Rendra, kini terasa goyah. Pengkhianatan, entah itu finansial atau emosional, terasa mengintai di setiap sudut. Sementara itu, Sariayu kembali ke rumah kecilnya. Suara batuk Rina terdengar lagi, kali ini lebih lirih. Sariayu mendekat, membelai rambut putrinya yang halus. Ia menatap wajah putrinya yang pucat, tekadnya mengeras. Apapun yang terjadi, ia akan berjuang. Ia akan menemukan kekuatan yang bahkan ia sendiri tidak tahu ia miliki. Perjalanan mereka baru saja dimulai, dan jurang pemisah kelas sosial yang dalam terasa semakin nyata, memisahkan dua dunia yang saling bertabrakan oleh takdir yang sama.

Memuat komentar...