
Koridor Senyap
Sinopsis
Tangan Bima gemetar saat ia membuka pintu yang sedikit terbuka itu. Aroma obat yang pekat bercampur dengan bau lembap menyambutnya, menjanjikan jawaban yang ia cari namun juga ketakutan yang ia hindari. Di depannya, lorong rumah sakit yang tak pernah tidur membentang, saksi bisu dari perjuangan hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya. Ia datang mencari kebenaran, terdorong oleh bisikan samar dari sebuah surat usang dan rasa bersalah yang menggerogoti. Di balik fasad rumah sakit megah ini, tersembunyi kisah yang jauh lebih gelap dari sekadar penyakit. Bima, seorang pengusaha logistik yang tenggelam dalam dunia angka dan keuntungan, terpaksa menghentikan sejenak urusannya yang mendesak. Ibunya, sumber kekuatan dan pengorbanannya, terbaring lemah di salah satu kamar, kondisinya memburuk dengan cepat seiring terungkapnya sebuah rahasia yang mengancam untuk menghancurkan fondasi keluarganya. Ia harus menyeimbangkan antara keharusan menyelamatkan nyawa ibunya dan mengungkap motif di balik sebuah konspirasi yang melibatkan orang-orang terdekatnya. Punjak dari ketegangan ini adalah pertemuan tak terduga dengan seorang perawat muda yang menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat. Kesetiaannya diuji, pengorbanannya dipertanyakan, dan garis antara cinta dan kewajiban menjadi kabur. Dalam koridor senyap ini, Bima akan menemukan bahwa terkadang, luka terbesar bukanlah yang terlihat di permukaan, melainkan yang tertanam di lubuk hati, menunggu untuk disembuhkan atau dikubur selamanya.
Aroma Lembap dan Bisikan Surat
Pintu kamar itu sedikit terbuka, menyembulkan cahaya redup yang tak mampu menembus pekatnya aroma obat dan disinfektan. Bima menarik gagang pintu perlahan, jemarinya terasa dingin meskipun udara di koridor rumah sakit cukup hangat. Debu halus menari-nari dalam sorotan lampu neon yang berkedip tak menentu, menjadi saksi bisu dari kesibukan yang tak pernah benar-benar terhenti di lorong panjang ini. Di tangannya, sebuah surat usang yang terlipat rapi terasa mengganjal, menekan telapak tangannya. Tulisan tangan di atas kertas yang menguning itu asing, namun setiap goresannya seolah membisikkan sebuah rahasia yang selama ini terpendam, sebuah kebenaran yang ia takutkan akan menghantamnya seperti gelombang pasang.
Napasnya tercekat. Di hadapannya, di balik tirai pembatas yang sedikit tersibak, ibunya terbaring lemah. Elara, perawat muda dengan seragam putih bersih yang terlihat rapi, sedang memeriksa selang infus di lengan Ibu Ratna dengan gerakan yang terukur. Tatapan Elara sekilas bertemu dengan Bima, sebuah sapaan singkat yang dibalut kesopanan, namun di balik mata yang jernih itu tersimpan sesuatu yang sulit ia baca. Sebuah kewaspadaan? Atau mungkin empati? Sulit ditebak. Bima hanya bisa membalas dengan anggukan kecil, fokusnya terpecah antara sosok ibunya yang rapuh dan surat di genggamannya.
“Bagaimana keadaannya, Elara?” Suara Bima terdengar serak, lebih seperti bisikan yang keluar dari tenggorokan kering. Ia berusaha keras mengendalikan getaran di suaranya, namun rasa cemas yang menggerogoti membuatnya sulit bernapas lega.
Elara menoleh, senyum tipis terukir di bibirnya, namun sorot matanya masih tertuju pada layar monitor yang menampilkan detak jantung ibunya. “Tanda-tanda vitalnya sedikit tidak stabil, Pak Bima. Dokter Surya baru saja memeriksanya. Beliau akan memberikan penjelasan lebih lanjut sebentar lagi.”
Bima mengangguk lagi, matanya kembali tertuju pada wajah ibunya. Keriput-keriput halus di sekitar mata dan bibir itu, garis-garis perjuangan yang tak terhitung jumlahnya, kini terlihat semakin dalam. Ia ingat tawa ibunya yang renyah, pelukannya yang hangat, dan segala pengorbanan yang tak pernah terucap. Sekarang, ia hanya bisa menatapnya dalam kelemahan.
Ia menarik diri sejenak dari samping ranjang, berjalan beberapa langkah ke sudut ruangan yang lebih tenang. Di sana, ia membuka surat itu perlahan. Kertas itu terasa rapuh di ujung jarinya. “Untuk anakku tersayang,” tertulis di bagian atas. Siapa yang menulis ini? Ibunya? Tapi tulisan tangan ini bukan tulisan ibunya. Ada rasa dingin yang menjalar di punggungnya saat membaca baris-baris selanjutnya. Kata-kata yang terangkai bukan sekadar ungkapan kasih, melainkan petunjuk. Petunjuk tentang masa lalu yang kelam, tentang sebuah perjanjian yang mengikat, dan tentang konsekuensi yang kini harus ia hadapi.
“Pak Bima, Dokter Surya sudah datang.” Suara Elara menyentaknya dari lamunan. Bima buru-buru melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya, berusaha mengabaikan rasa gelisah yang semakin menjadi.
Dokter Surya melangkah masuk dengan langkah tegap, auranya profesional dan berwibawa. Wajahnya tegas, namun senyum tipis yang mengembang tidak mencapai matanya yang tajam. Ia mengenakan jas dokternya yang sempurna, gerak-geriknya terkontrol. Ia mengangguk singkat pada Bima, kemudian berjongkok di sisi ranjang, memeriksa kondisinya dengan teliti. Elara berdiri diam di dekatnya, siap memberikan informasi apa pun yang dibutuhkan.
“Kondisi Ibu Ratna memang sedang kritis, Pak Bima,” Dokter Surya memulai, suaranya tenang namun sarat makna. “Penyakitnya menunjukkan perkembangan yang cukup agresif. Kita perlu segera mengambil tindakan medis yang lebih serius. Ada beberapa pilihan terapi yang bisa kita pertimbangkan, namun semua itu membutuhkan persetujuan Anda dan tentu saja, biaya yang tidak sedikit.”
Bima menelan ludah. Perusahaan logistik yang ia pimpin sedang mengalami masa-masa sulit. Proyek-proyek besar terancam batal, dan arus kas mulai mengering. Memikirkan biaya pengobatan ibunya di tengah situasi ini terasa seperti beban ganda yang sangat berat. Namun, tak ada pilihan lain. Ibunya adalah segalanya baginya. Ia teringat kata-kata dalam surat itu, tentang pengorbanan dan konsekuensi. Apakah ini semua sudah diperhitungkan sejak lama?
“Saya perlu melihat laporannya, Dok,” ujar Bima, berusaha terdengar tegas. “Dan tentang biaya…” Ia terdiam sejenak. “Kita akan bicarakan ini. Saya akan berusaha mencari solusinya.”
Dokter Surya mengangguk, sorot matanya seolah meneliti setiap ekspresi Bima. “Baiklah. Saya akan tinggalkan Anda berdua sejenak. Jika ada perubahan, segera panggil saya.” Ia menepuk pelan bahu Bima, sebuah gestur yang terlihat ramah namun terasa dingin. Elara mengantar Dokter Surya keluar, lalu kembali menghampiri Bima. Sepeninggal sang dokter, keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya ditemani suara mesin yang berdengung pelan dan napas ibunya yang terdengar lemah.
“Pak Bima, jika ada yang bisa saya bantu… tolong jangan ragu,” kata Elara, suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya. Ia menatap Bima dengan pandangan yang penuh pengertian. “Saya tahu ini berat.”
Bima memandang perawat muda itu. Keteguhan di mata Elara, kontras dengan kerapuhan ibunya dan ketidakpastian masa depan, memberinya sedikit kekuatan. Namun, surat di sakunya terus berbisik, mengisyaratkan bahwa kebenaran yang ia cari mungkin lebih kompleks dari sekadar penyakit yang menyerang ibunya. Ada lapisan-lapisan kebohongan yang tersembunyi, dan ia merasa baru saja menginjakkan kaki di awal sebuah lorong yang gelap, tempat pengorbanan dan kesetiaan akan diuji hingga batasnya.
Ia mengulurkan tangan, membelai lembut pipi ibunya yang terasa dingin. “Ibu… aku di sini,” bisiknya lirih. Dalam kebisuan ruangan itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengungkap segalanya, demi ibunya, dan demi dirinya sendiri. Ia perlu menemukan siapa penulis surat itu, dan apa arti semua ini. Ia membuka kembali surat itu, membaca setiap kalimatnya dengan saksama, mencoba merangkai kepingan teka-teki yang terlempar di hadapannya. Nama “Paman Haryo” tertulis di bagian bawah, bersama dengan sebuah alamat yang tidak dikenalnya.
“Elara,” panggil Bima, matanya masih tertuju pada surat itu. “Apakah Anda tahu rumah sakit ini punya arsip lama? Mungkin ada catatan medis pasien-pasien lama di sini?”
Elara tampak terkejut dengan pertanyaan mendadak itu, namun ia menjawab dengan profesional. “Tentu, Pak. Kami memiliki arsip yang cukup lengkap. Namun, untuk mengaksesnya, Bapak perlu persetujuan dari pihak manajemen. Biasanya ada prosedur khusus.” Ia berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. “Tapi jika ada sesuatu yang mendesak, saya mungkin bisa membantu mencarikan informasinya, tergantung apa yang Bapak cari.”
Bima menatap Elara lekat. “Saya mencari kebenaran, Elara. Kebenaran yang mungkin terkubur di balik dinding-dinding rumah sakit ini.” Ia tidak tahu mengapa, tetapi ia merasa perawat muda ini bisa menjadi kunci. Mungkin karena tatapan matanya yang menyimpan cerita, atau mungkin karena sikapnya yang tulus di tengah ketegangan yang menyelimutinya. Ia membuka kembali surat itu, membacakan satu kalimat lagi yang terasa paling mengusik: “Mereka tidak akan pernah membiarkanmu mengetahui siapa dirimu sebenarnya.” Siapa “mereka”? Dan siapa “dirinya”? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, menciptakan pusaran kecemasan yang semakin dalam.
Di luar ruangan, Dokter Surya berjalan menyusuri koridor yang lengang. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, menekan beberapa nomor. “Semuanya berjalan sesuai rencana,” bisiknya pada lawan bicaranya di ujung telepon. “Ibu Ratna semakin lemah. Sang pewaris mulai gelisah. Sebentar lagi, semuanya akan menjadi milik kita.” Ia tersenyum tipis, senyum yang memancarkan ambisi dan kepuasan tersembunyi, senyum yang takkan pernah dilihat oleh siapapun di dalam kamar ibunya.