
Tiga Ribu Hari Tanpa Bayangan
Sinopsis
"Aku tidak tahu bagaimana cara menghentikannya," bisiknya, suara serak penuh keputusasaan saat embun pagi menyentuh kulitnya yang dingin. "Setiap kali aku mencoba melupakan, ia justru semakin nyata, seolah-olah dinding di sekelilingku ini terbuat dari ingatanku sendiri." Liora, seorang seniman kaligrafi yang karyanya kini hanya berupa goresan pilu di atas kertas usang, terperangkap dalam labirin psikologis yang diciptakan oleh trauma masa lalu. Bertahun-tahun berlalu sejak insiden yang merenggut ayahnya dan meninggalkan luka yang tak kasat mata, namun bayangan itu tak pernah benar-benar meninggalkannya. Dinding kamarnya seringkali terasa berubah menjadi cerminan ketakutannya, memunculkan figur-figur samar dari masa lalu yang berbisik penuh ancaman. Ia hidup dalam isolasi, dikelilingi oleh sisa-sisa karya seni yang terbengkalai, setiap sapuan kuas adalah pengingat akan kehilangan yang mendalam. Hadiran Damar, seorang ahli terapi trauma yang awalnya skeptis namun perlahan tersentuh oleh kerapuhan Liora, menjadi titik balik potensial. Namun, jalan menuju penyembuhan bukanlah garis lurus. Damar harus menghadapi tembok ketidakpercayaan Liora, membongkar lapisan pertahanan diri yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun. Pertarungan Liora bukan hanya melawan bayangan masa lalu, tetapi juga melawan keraguan diri dan rasa tidak layak yang membelenggunya, sebuah perjuangan epik untuk merebut kembali dirinya sendiri dari genggaman keputusasaan menuju harapan dan penerimaan.
Dinding yang Berbisik
Pecahan kaca menghunjam lantai kayu yang dingin. Liora tersentak dari tidurnya, jantungnya berdebar kencang di dalam dada yang terasa sesak. Suara itu kembali. Bisikan yang dingin, menusuk, seperti jarum es yang merayap di telinganya. Dinding kamarnya seolah berdenyut, siluet-siluet samar bergerak di sudut mata, membentuk wujud yang tidak jelas namun mengancam. Ia menarik selimut hingga menutupi wajahnya, mencoba mengabaikan kehadiran yang tak kasat mata itu. Udara di sekelilingnya menjadi berat, lembap oleh ketakutan yang membeku.
Tangannya meraba sisi ranjang, mencari pegangan yang kokoh. Jari-jarinya menyentuh permukaan dingin sebuah kotak kayu berukir. Kuas kaligrafi tua milik ayahnya. Dengan gerakan tersentak-sentak, ia menariknya keluar. Bulu kuasnya yang dulu halus kini terasa kasar, beberapa helainya tertekuk. Ia memegangnya erat, berharap keakraban benda ini bisa menenangkannya. Liora mencoba menarik napas dalam-dalam, namun udara seolah enggan masuk ke paru-parunya. Ia meraih selembar kertas usang dari tumpukan di samping ranjang. Kertas itu terasa rapuh di bawah jemarinya.
Ia meneteskan sedikit tinta hitam pekat ke dalam wadah kecil. Jemarinya gemetar saat ia mencelupkan kuas. Ia mencoba membuat satu goresan sederhana, sebuah garis lurus yang dulu begitu mudah diciptakan. Namun, tinta itu menari liar di atas kertas, membentuk pusaran gelap yang mengerikan. Bentuknya tidak lagi seperti garis, melainkan cakar yang mencabik-cabik permukaan. Ia terkesiap. Goresan itu semakin membesar, memanjang, menyerupai sosok yang terpelintir, menjerit tanpa suara. Liora menjatuhkan kuas itu. Suara dentingnya bergema di keheningan ruangan, menambah dentuman di kepalanya.
Kilasan memori menyerbu. Cahaya lampu kamar yang temaram, aroma kopi yang dulu menenangkan kini terasa menyesakkan. Ayahnya berdiri di depan jendela, punggungnya menghadap Liora. Ada sesuatu yang tidak beres. Suara pecahan kaca terdengar, disusul keheningan yang mencekam. Liora kecil hanya bisa terpaku di ambang pintu, tangannya terangkat setengah, seolah ingin meraih sesuatu yang sudah tidak ada. Rasa bersalah membuncah dalam dadanya, sebuah beban berat yang ia pikul selama bertahun-tahun. Ia selalu berpikir, seandainya ia berteriak, seandainya ia berlari, seandainya ia… ia bisa menghentikan itu.
Perhatian Liora kembali ke dinding di depannya. Bayangan itu semakin jelas. Bukan lagi siluet samar, melainkan sosok pria yang terdistorsi, dengan mata kosong yang menatap lurus ke arahnya. Keringat dingin membasahi kening Liora. Sosok itu terdiam, namun bisikan yang sebelumnya samar kini terdengar jelas, menggema di benaknya. “Kau yang salah,” desis suara itu, dingin dan menusuk. “Kau membunuhnya.” Liora menutup telinganya dengan tangan, namun suara itu terus bergema di dalam kepalanya. Ia berlutut, memeluk lututnya erat-erat. Ia ingin menghilang, ingin melarikan diri dari kenyataan yang membelenggunya.
***
Alarm berbunyi nyaring, memecah keheningan pagi. Damar menghela napas panjang, tangannya meraih ponsel di nakas. Pukul 07.00 pagi. Ia harus bersiap untuk jadwal konsultasi pertamanya. Semalam ia baru saja menyelesaikan riset tentang teknik *trauma-informed care* terbaru. Matanya memandang langit-langit kamar yang polos, pikirannya mulai merangkai strategi untuk sesi pertamanya dengan pasien baru. Liora. Nama itu terngiang di kepalanya. Data awal menunjukkan riwayat trauma berat yang kompleks, terkait dengan kehilangan orang tua di usia muda dan isolasi sosial bertahun-tahun.
Ia bangkit dari ranjang, meregangkan tubuhnya. Ruang praktik yang ia siapkan baru minggu lalu terasa begitu rapi, kontras dengan kekacauan yang ia bayangkan akan dihadapi pasien-pasiennya. Ia menyeduh kopi hitam tanpa gula, aroma pahitnya sedikit menenangkan. Ia menatap pantulan dirinya di jendela dapur yang bersih. Ada raut kelelahan di matanya, namun juga determinasi yang tersembunyi. Masa lalu yang kelam pernah membuatnya kehilangan arah, namun kini ia menemukan tujuan dalam membantu orang lain menemukan jalan keluar dari labirin kegelapan yang sama.
Damar berjalan ke ruang kerja. Di atas meja, tergeletak sebuah foto tua yang dibingkai. Foto dirinya dan sang kakak, tersenyum lebar saat mereka masih kecil. Kakaknya… Ia menutup mata sejenak, lalu kembali fokus pada layar komputernya. Ia membuka profil Liora. Foto profilnya menampilkan siluet wanita dengan rambut panjang, wajahnya tidak terlihat jelas. Deskripsi singkat menyebutkan profesinya sebagai seniman kaligrafi. Damar mengerutkan kening. Seni. Seringkali menjadi pelarian, namun juga bisa menjadi cerminan luka yang mendalam. Ia harus berhati-hati. Membangun kepercayaan adalah kunci utama.
Ia mulai menyusun agenda sesi pertama. Pertanyaan-pertanyaan pembuka yang lembut, observasi non-verbal, dan yang terpenting, menciptakan ruang aman bagi Liora untuk mulai membuka diri. Ia tahu, prosesnya tidak akan mudah. Trauma yang tertanam dalam seringkali menciptakan tembok pertahanan yang kokoh. Ia harus sabar, gigih, dan yang terpenting, mampu melihat potensi penyembuhan di balik kerapuhan yang terlihat. Ia teringat akan perkataan mentornya dulu, “Setiap jiwa yang terluka memiliki percikan cahaya yang menunggu untuk dinyalakan kembali.” Damar berharap, ia bisa menjadi obor bagi Liora.
***
Liora duduk di tepi ranjang. Suara bisikan itu telah mereda, namun rasa dingin di sekujur tubuhnya masih terasa. Kertas yang tadi ia genggam kini terlipat-lipat di pangkuannya, goresan mengerikan itu masih membekas di ingatannya. Ia melirik ke arah meja kaligrafinya. Tinta yang ia gunakan semalam masih tertinggal di wadah, mengering perlahan. Ia tidak bisa lagi membuat karya seni. Goresan tangannya kini hanya menghasilkan bentuk-bentuk yang menakutkan, manifestasi dari kegelisahan batinnya. Ia meraba lehernya. Ada rasa sesak yang tak kunjung hilang, seolah ada tangan tak terlihat yang terus mencekiknya.
Ia bangkit dan berjalan ke jendela. Embun pagi menempel di kaca, membentuk pola-pola buram. Di luar, kehidupan tampak berjalan seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang, kendaraan berlalu. Sebuah dunia yang terasa begitu jauh dari labirin pikirannya sendiri. Ia melihat bayangan dirinya terpantul di kaca. Rambut hitam panjangnya tergerai acak-acakan, wajahnya pucat pasi. Matanya yang dulu berbinar kini hanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Ia merasa seperti orang asing di dalam tubuhnya sendiri.
Tiba-tiba, ia teringat akan janji konsultasinya hari ini. Damar. Sosok terapis yang ia temui beberapa kali sebelumnya. Awalnya ia enggan datang. Ia tidak percaya ada orang yang bisa memahaminya, apalagi membantunya. Namun, desakan dari satu-satunya kerabat yang masih ia miliki, seorang tante yang peduli, akhirnya membuatnya mengiyakan. Damar… Ia ingat tatapan mata Damar yang tenang, penuh perhatian namun tidak menghakimi. Sesuatu yang Liora rindukan selama ini.
Ia berjalan menuju lemari, memilih pakaian yang paling tidak mencolok. Sebuah kaus polos berwarna gelap dan celana panjang. Ia menyisir rambutnya sekilas, mencoba merapikan penampilannya sebisanya. Saat ia mengenakan mantelnya, tangannya tak sengaja menyentuh sebuah gantungan kunci kecil yang tergantung di lemarinya. Gantungan kunci berbentuk teratai biru. Hadiah dari ayahnya saat ia kecil. Ia memegangnya erat. Bunga teratai biru… ayahnya pernah berkata, bunga itu hanya mekar di tempat yang penuh kedamaian. Ia tersenyum getir. Kedamaian terasa seperti mimpi yang sangat jauh.
Ia mengunci pintu apartemennya. Udara luar terasa dingin, namun tidak sedingin udara di dalam apartemennya. Ia berjalan menuju halte bus terdekat. Setiap langkah terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menariknya ke belakang. Ia harus pergi ke sana. Ia harus mencoba. Meskipun ia tidak tahu apakah ia sanggup menghadapi apa yang ada di depan. Ia hanya tahu, ia tidak bisa terus hidup seperti ini, terperangkap dalam tiga ribu hari tanpa bayangan.