
Hemostatis
Sinopsis
Satu-satunya keinginan terbesar Nadi adalah hidup tanpa harus terus-menerus mengawasi jam tangan pintarnya yang memantau detak jantung dan kadar oksigen, sebuah tanda dari kondisi genetik langka yang ia rahasiakan dari seluruh dunia pendidikan elit tempat ia 'menyamar' sebagai mahasiswi beasiswa yang biasa-biasa saja. Di balik penampilannya yang sederhana dan kacamata tebal, Nadi adalah pewaris tunggal dari Dinasti Adiwangsa yang telah lama menarik diri dari publik, namun ia memilih menyembunyikan identitas dan kemampuan taktisnya untuk melindungi mahasiswa-mahasiswa dari strata rendah yang sering menjadi sasaran perundungan. Keadaan menjadi tegang ketika Nadi harus berhadapan langsung dengan Ghani, sosok yang dikenal sebagai 'Patriot' di Institut Cakra Buana. Ghani, putra dari keluarga menteri yang berkuasa, memerintah kampus dengan otoritas yang absolut, menyembunyikan kerentanan psikologis akibat tekanan ekspektasi ayahnya di balik topeng arogansi dan perundungan sistematis. Pertemuan mereka dimulai dengan konfrontasi tajam saat Nadi secara anonim menggagalkan rencana Ghani untuk mempermalukan seorang mahasiswa baru, memicu obsesi Ghani untuk mengungkap siapa 'penyelamat' yang berani menantang hegemoninya. Hubungan mereka berkembang dari saling benci menjadi keterikatan yang rumit saat rahasia mulai bocor. Ghani secara tidak sengaja menemukan kondisi kesehatan Nadi yang kritis di sebuah fasilitas medis pribadi, sementara Nadi mulai memahami bahwa kekejaman Ghani adalah mekanisme pertahanan dari trauma keluarga yang mendalam. Di tengah ancaman eksposur identitas ganda Nadi ke publik dan intervensi keluarga Ghani yang ingin menjodohkannya demi aliansi politik, keduanya harus memilih: mempertahankan dinding pelindung yang selama ini mereka bangun, atau saling menyembuhkan meski itu berarti menghancurkan seluruh hierarki sosial yang telah mereka ciptakan.
Diagnosis Anomali
Arloji pintar di pergelangan tangan kiriku bergetar pelan. Aku memutar kenopnya, menampakkan grafik detak jantung yang melompat-lompat tak beraturan. Garis merah itu, seperti kilat yang menusuk, membuatku menghela napas pendek. Delapan jam lagi. Aku punya waktu delapan jam sebelum jantung ini memutuskan untuk menyerah lagi. Kacamata bulat besar yang melorot di hidungku kuangkat, lalu menutupi tato kecil logo Adiwangsa di pergelangan tangan dengan ujung lengan sweter oversized-ku.
Koridor Institut Cakra Buana pagi ini sesak oleh mahasiswa yang terburu-buru. Aku berjalan cepat, menyelinap di antara kerumunan, sosok yang tak menarik perhatian. Persis seperti yang kuinginkan. Mahasiswi beasiswa yang culun, tak terpandang, tidak ada yang tahu siapa Nadi Adiwangsa sebenarnya. Di balik persona ini, aku adalah pewaris Dinasti Adiwangsa, keluarga yang menarik diri dari panggung publik, tapi jauh lebih berbahaya dari yang terlihat. Dan di balik itu semua, aku adalah seorang pasien. Sebuah fakta yang, seperti nama keluargaku, harus terkubur rapat.
Langkahku terhenti di dekat gerbang fakultas. Suara keras Ghani Mahendra mengoyak kebisingan kampus. Kepalaku menoleh, mencari sumber keributan. Ghani berdiri di tengah kerumunan, punggungnya tegak, aura dominan seperti raja yang baru dinobatkan. Wajahnya keras, rahangnya mengeras di bawah tatapan mata tajam yang kini terarah pada seorang mahasiswa baru yang pucat, Tyo.
Tyo, dengan bahu menyusut, mencengkeram erat buku-buku di dadanya. Piringan hitam berukiran logo 'Patriot' yang terpasang di jaket varsity Ghani menyilaukan mata, simbol kekuasaan yang absolut di kampus ini. Ghani mendominasi Tyo dengan tatapan menghina. Aku mengepalkan tangan, kuku jariku menusuk telapak tangan.
"Lo dengar enggak, sih?" Ghani membentak. "Jangan sentuh barang gue tanpa izin! Itu jaket kesayangan gue!"
Tyo mencoba menjelaskan, suaranya bergetar. "Maaf, Ghani. Aku… aku enggak sengaja menyentuh jaketmu waktu lewat."
Ghani terkekeh, suara tawa para pengikutnya terdengar di belakangnya. "Enggak sengaja? Di Cakra Buana ini, enggak ada yang namanya enggak sengaja, tahu enggak? Semuanya punya konsekuensi." Ia melangkah maju, mendekat ke arah Tyo. Pundak Tyo gemetar hebat. Ghani mengambil buku-buku dari tangan Tyo, lalu melemparkannya ke tanah dengan kasar. "Ambil. Dan ingat, lain kali, tatapan lo pun jangan sampai menyentuh gue."
Darahku mendidih. Aku melihat bagaimana tubuh Tyo bergetar saat ia membungkuk mengambil buku-bukunya yang berserakan. Aku tahu rasa tidak berdaya itu. Aku tahu rasanya menjadi target. Ini bukan hanya tentang sebuah jaket. Ini tentang kekuasaan, tentang menindas yang lemah. Dan aku tidak akan membiarkannya.
Aku menarik napas dalam, memfokuskan pandangan pada Ghani yang kini berjalan menuju kafetaria, ditemani para pengikutnya. Baki makanan di tangannya mengepulkan uap, sarapan mewah yang kontras dengan isi perut mahasiswa beasiswa. Aku mengamati langkahnya, ritme ayunan tangannya, sudut beloknya. Otakku menghitung. Satu, dua, tiga langkah. Aku mempercepat langkahku, mensejajarkan diri dengan Ghani.
Pada hitungan keempat, saat Ghani mengangkat kakinya untuk melangkah maju, kakiku bergeser. Bukan tabrakan frontal, melainkan sapuan halus yang nyaris tak terlihat, tepat di pergelangan kakinya. Secepat kilat. Gerakan yang akan disangka orang sebagai kecelakaan semata.
"Aduh!" serunya, kehilangan keseimbangan. Baki makanan di tangannya terlepas, melayang di udara sesaat sebelum menghantam lantai keramik dengan bunyi nyaring. Telur orak-arik, sosis, dan remah-remah roti tumpah ruah, berhamburan di lantai, mengotori sepatu kulit mahalnya. Para mahasiswa di sekitar kami terdiam, menahan napas.
Ghani berdiri terpaku, jaket varsity-nya sedikit terkena noda saus. Wajahnya memerah, antara malu dan marah. Aku menunduk cepat, memungut kacamata yang sengaja kujatuhkan. "Astaga! Maaf banget, Kak! Aku... aku enggak sengaja kesandung," ucapku, berpura-pura panik, suaraku sedikit bergetar. Aku menatapnya dengan mata terbelalak di balik kacamata tebal, berusaha terlihat serapuh dan serapuh mungkin.
Ia menatapku, tatapannya menyala. Matanya memicing, mencari kebohongan di mataku. Tapi aku sudah berlatih ini seumur hidup. Menyembunyikan. Berpura-pura. Aku hanya seorang mahasiswi beasiswa yang canggung, kan? Tak mungkin berani menantang 'Patriot'. Ghani tak menemukan apa pun. Ia mendengus kesal, frustrasi tergambar jelas di wajahnya.
"Minggir," ia menggeram. "Dasar ceroboh!"
Aku segera menyingkir, membiarkan para pengikutnya yang kini mulai membersihkan kekacauan. Aku menoleh sebentar ke arah Tyo, yang kini menatapku dengan mata terkejut. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat tersungging di bibirku. Misi berhasil. Ketidakadilan kecil ini sudah kubalaskan.
Ghani berdiri di sana, mengawasi para pengikutnya yang sibuk. Wajahnya masih memerah, namun kini ada kerutan samar di dahinya, seperti sedang memecahkan teka-teki yang sulit. Gadis culun itu, si mahasiswi beasiswa yang canggung, memandangku dengan mata polos di balik kacamata tebalnya. Sebuah kecelakaan? Dia tahu itu bukan. Aku tahu itu bukan. Tapi bagaimana dia melakukannya? Gerakannya terlalu halus, terlalu cepat untuk disadari mata biasa.
Aku menendang sisa-sisa sosis di lantai dengan ujung sepatu. Rasa malu melumuri tenggorokanku. Di depan umum. Di depan seluruh kampus. Aku, Ghani Mahendra, 'Patriot' Institut Cakra Buana, dipermalukan oleh... kecerobohan seorang gadis. Atau memang begitu? Instingku berteriak bahwa ini bukan kebetulan. Bahwa gerakan kakinya itu disengaja.
Mataku menyapu kerumunan yang mulai bubar. Mereka semua pasti melihatnya. Para mahasiswa yang tunduk padaku, kini menyaksikan rajanya jatuh tersungkur bersama sarapannya. Ayah. Wajah Ayah muncul di benakku, tatapan kecewanya yang selalu menghantui. Aku harus selalu sempurna. Selalu mengendalikan. Tidak ada ruang untuk kesalahan, apalagi dipermalukan.
"Sudah beres, Ghani," salah satu pengikutku mendekat, tangannya berlumuran saus. Aku hanya mengangguk, tanpa suara. Aku merasakan mataku mencari gadis itu lagi. Dia sudah menghilang di antara kerumunan, seperti hantu. Kacamata bulatnya. Rambut cokelatnya yang diikat asal. Pakaian longgarnya. Penampilannya yang sangat biasa membuatnya sulit dilacak. Tapi aku tidak akan lupa.
Seseorang berani menantangku. Seseorang berani membuatku terlihat lemah. Siapa pun dia, aku akan menemukannya. Dan saat aku menemukannya, dia akan membayar mahal. Tak ada yang boleh meruntuhkan otoritas yang kubangun dengan susah payah. Bukan di hadapan mata ayahku yang selalu menuntut, dan bukan di hadapan kampus yang kupegang teguh.
Beberapa jam kemudian, gerbang tinggi Kediaman Adiwangsa terbuka dengan mulus. Aku memasuki halaman, memarkir mobil di garasi bawah tanah. Rumah ini begitu besar, begitu megah, tapi selalu terasa kosong. Gema langkah kakiku di lantai marmer terasa hampa. Foto-foto keluarga di dinding menampilkan wajah-wajah serius, leluhur Adiwangsa yang menatap dengan mata menilai.
Aku naik ke kamar tidurku di lantai dua. Smartwatch-ku kembali bergetar, lebih intens kali ini. Layarnya menunjukkan angka detak jantung yang semakin memburuk. Waktu yang kumiliki semakin menipis. Delapan jam sudah berubah menjadi kurang dari satu jam.
Dari balik lemari buku yang bergeser dengan sensor sidik jari, sebuah lemari es medis kecil tersingkap. Dinginnya udara menusuk kulit. Di dalamnya, botol-botol kecil berisi cairan bening berjejer rapi. Aku mengambil satu, jarum suntik steril, dan kapas alkohol. Pergelangan tanganku kuusap, tepat di atas tato Adiwangsa yang selalu tertutup. Aku menarik napas panjang, menusuk kulit dengan cepat.
Cairan itu menyebar dalam nadiku, dingin dan asing, namun familiar. Detak jantung di arloji mulai stabil, garis merah yang semula liar kini merangkak turun, kembali ke ritme yang lebih normal. Aku bersandar di dinding, mata terpejam, kelegaan merayap perlahan. Ritual ini, dua kali sehari, setiap hari. Tanpa gagal. Itu adalah harga yang harus kubayar untuk bisa 'menyamar', untuk bisa punya kesempatan hidup normal, meskipun singkat.
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Nadi Adiwangsa. Pewaris terakhir. Gadis dengan kondisi genetik langka yang bisa membunuhnya kapan saja. Dan hari ini, dia adalah penyelamat anonim Tyo, yang mempermalukan 'Patriot' Ghani Mahendra. Dua identitas, dua nyawa. Sulit untuk menyatukannya. Aku mengepalkan tangan. Aku akan tetap menjadi bayangan, tidak terlihat. Darah Adiwangsa mungkin mengalir di nadiku, tetapi dunia luar tidak perlu tahu kekuatan yang tersembunyi di baliknya. Dan mereka juga tidak perlu tahu kerapuhan yang disembunyikannya.