TANPA PENA
Debu

Debu

344 Menit Baca
20 Suka
20 Bab

Sinopsis

Bagaimana jika seseorang yang telah lama terbiasa bersembunyi di balik bayang-bayang kehati-hatian, tiba-tiba dihadapkan pada pilihan yang memaksanya untuk bersinar, meski setiap kilauannya berpotensi membakar segalanya? Di sebuah kota metropolitan yang tak pernah tidur, Arsa Pradipta menjalani hidup yang dirajut dari ketidakpastian. Sebagai seorang penjahit pakaian custom, ia terampil merangkai kain dan benang menjadi karya seni, namun kemampuannya terbungkus dalam kesederhanaan yang mematikan ambisinya. Ia bukan hanya berjuang untuk menafkahi dirinya sendiri dan ibunya yang sakit, tetapi juga terbebani oleh hutang warisan yang terus menghantuinya. Setiap jahitan yang ia selesaikan adalah langkah kecil untuk bertahan hidup, sebuah narasi bisu tentang ketekunan yang terpinggirkan. Dikelilingi oleh gemerlap dunia mode yang seringkali terasa asing, Arsa bersembunyi di balik dinding studio kecilnya, menghindari sorotan yang ia anggap sebagai ancaman, bukan peluang. Namun, takdir memiliki cara yang kejam untuk menarik individu yang paling enggan keluar dari zona nyamannya. Sebuah kesempatan tak terduga hadir dalam bentuk undangan untuk berpartisipasi dalam kompetisi desain pakaian bergengsi yang diselenggarakan oleh salah satu label mode ternama. Kesempatan ini tidak hanya menawarkan hadiah finansial yang dapat melunasi semua hutangnya, tetapi juga pengakuan yang selama ini ia dambakan, meskipun ia tak berani mengakuinya. Keputusan untuk menerima undangan tersebut menjadi awal dari sebuah perjalanan transformatif, di mana Arsa harus menghadapi ketakutan terbesarnya: tampil apa adanya, tanpa selubung, dan berinteraksi dengan dunia yang mungkin tidak siap untuk menerima kilaunya, atau malah menghancurkannya.

Bab 1
published

Jepitan Jarum di Ujung Senja

Mesin jahit antik itu berdecit, iramanya yang monoton menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan malam di studio sempit Arsa. Jarum baja menusuk lapisan sutra ungu tua, meninggalkan jejak benang emas yang berkilauan di bawah sorotan lampu neon yang berdengung. Tangan Arsa bergerak sigap, setiap gerakannya terukur, terbiasa menavigasi kerumitan sebuah gaun malam yang harus selesai sebelum fajar menyingsing. Bukan karena tuntutan artistik semata, melainkan rentetan cicilan bulanan sang ibu yang terus berdetak bagai bom waktu di dadanya. Di sudut ruangan, tumpukan kain sisa tergeletak, saksi bisu dari setiap perjuangan kecil yang ia jalani.

Lampu meja yang remang-remang menerangi deretan amplop berwarna cokelat yang tertata rapi di laci meja kerjanya. Laporan keuangan, tagihan, surat peringatan—semuanya bercerita tentang utang warisan mendiang ayahnya yang terus menggerogoti sisa-sisa kedamaiannya. Ia menyentuh salah satu amplop itu, merasakan tekstur kertasnya yang agak kasar di ujung jarinya. Senyum getir terukir di bibirnya, senyum yang lebih banyak menyembunyikan rasa lelah daripada kelucuan. Sesekali, pandangannya tertumbuk pada sebuah foto usang yang terpajang di dinding—dirinya dan sang ayah, keduanya tersenyum lebar di depan sebuah mesin jahit yang lebih tua lagi. Ayahnya, seorang penjahit ulung yang tak pernah gentar pada kesulitan. Arsa sering bertanya-tanya, apakah ia mewarisi ketangguhan itu, atau hanya beban dan kegelisahannya.

Sebuah panggilan telepon tiba-tiba saja memekakkan telinga, memecah konsentrasinya. Layar ponselnya menyala, menampilkan nomor tak dikenal. Kerutan di dahinya semakin dalam. Dengan enggan, ia menggeser tombol terima. “Halo?” Suaranya terdengar sedikit serak, hasil dari berjam-jam menghela napas dalam ruangan pengap.

“Selamat malam, dengan Bapak Arsa Pradipta?” Suara di seberang terdengar formal, dingin, dan nyaris tanpa emosi. Jantung Arsa berdebar lebih cepat. Ia tahu suara seperti ini, suara yang biasanya membawa kabar buruk.

“Ya, benar. Saya sendiri.”

“Mohon maaf mengganggu istirahat Bapak. Saya dari Rumah Sakit Cipta Sehat. Kami menghubungi Bapak terkait tagihan medis Ibu Sari.” Ada jeda singkat, cukup untuk membuat Arsa menahan napas. “Tagihan Ibu Sari per tanggal hari ini telah mencapai nominal yang cukup signifikan, Bapak. Kami berharap ada pembayaran segera untuk meringankan beban Ibu Sari dan memfasilitasi perawatan lanjutan beliau.”

Arsa memejamkan matanya sejenak. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, tumpang tindih dengan deretan angka di laci meja. 'Nominal yang cukup signifikan'. Kalimat yang selalu mampu membekukan darahnya. Ia membuka matanya, pandangannya tertuju pada gaun sutra yang separuh jadi di mesin jahit. Kilauannya kini terasa mengejek.

“Baik,” jawabnya, berusaha menahan nada suara yang bergetar. “Saya akan segera mengurusnya.”

Ia memutuskan sambungan telepon. Keheningan yang kembali menyelimuti studio kini terasa lebih berat, lebih mencekam. Ia bersandar pada kursi, membiarkan kain sutra yang belum selesai menyentuh pipinya. Bau debu yang bercampur dengan aroma lilin jahit tua menyeruak. Ia membayangkan wajah ibunya yang lemah, dan kemudian tagihan itu kembali menghantuinya. Pesaing-pesaingnya di dunia mode—mereka yang bergaun sutra dan berkumpul di acara-acara gemerlap—pasti tidak pernah mengalami hal seperti ini. Mereka mungkin bersaing memperebutkan tren terbaru, bukan sekadar untuk tetap bernapas.

Ia beranjak dari kursinya, berjalan menuju jendela yang tertutup tirai tebal. Di baliknya, gemerlap lampu kota Jakarta seakan mengejek. Gedung-gedung pencakar langit menjulang, lambang kemakmuran yang terasa begitu jauh. Ia menarik salah satu sudut tirai, mengintip keluar. Ada begitu banyak kehidupan di luar sana, begitu banyak kesempatan, namun ia merasa terjebak dalam gelembung kecil studio jahitnya, terikat oleh benang-benang tak terlihat dari tanggung jawab dan ketakutan. Ia pernah bermimpi, sebelum ayahnya jatuh sakit dan meninggalkan hutang segunung, untuk menciptakan sesuatu yang besar. Kini, mimpi itu hanya tersisa sebagai debu yang menempel di sudut-sudut ruangan.

Tiba-tiba, pandangannya menangkap sebuah poster kecil yang ditempel di tiang lampu seberang jalan. Poster itu menampilkan siluet seorang wanita elegan mengenakan gaun yang dramatis, dengan logo sebuah label mode ternama yang familier. Di bawahnya, tertera pengumuman: 'Kompetisi Desain Pakaian Internasional – Pemenang Berhak Mendapatkan Modal Usaha dan Kesempatan Berkolaborasi dengan Maison Elara.' Maison Elara. Nama itu selalu ia dengar sebagai puncak dari segala pencapaian dalam dunia mode. Ia merasa tertarik, sekaligus jijik pada dirinya sendiri. Kesempatan seperti itu? Untuknya? Ia yang bahkan kesulitan membayar tagihan rumah sakit?

Ia kembali ke mesin jahitnya. Jarum itu terangkat, menggantung di udara. Sutra ungu itu berkilauan, seolah menantang. Ia teringat kata-kata ibunya, “Nak, jangan pernah menyerah. Kamu punya bakat yang luar biasa. Ayahmu pasti bangga padamu.” Dukungan ibunya selalu menjadi jangkar di tengah badai ketidakpastiannya. Namun, hari ini, jangkar itu terasa semakin berat terbebani.

Ia mengambil sebuah kertas kosong dan sebuah pensil dari meja. Tangannya yang cekatan kini sedikit gemetar. Ia mulai membuat sketsa. Bukan untuk pesanan klien yang menuntut kepatuhan pada tren, tapi sesuatu yang berasal dari dalam dirinya. Garis-garis tegas, siluet yang berani, detail yang tak biasa. Ia menggambar, melupakan sejenak tagihan rumah sakit, melupakan desakan cicilan. Ia menggambar apa yang selama ini ia sembunyikan, apa yang ia takutkan akan ditolak. Karyanya yang paling jujur.

Ia membuat garis terakhir, lalu menarik napas dalam. Ia memandangi sketsa di tangannya. Sebuah gaun yang terinspirasi dari kepompong yang akan merekah. Warnanya gelap namun bertekstur, seolah menampilkan perjuangan sebelum keindahan. Di sudut kanan bawah kertas, ia menuliskan namanya, Arsa Pradipta, dengan goresan yang mantap. Kemudian, ia teringat poster itu lagi. Kakinya melangkah perlahan menuju komputer tua di sudut ruangan. Ia membuka situs web Maison Elara. Matanya menelusuri informasi tentang kompetisi. Hadiahnya bukan hanya uang, tapi sebuah pintu. Pintu yang selama ini ia anggap tertutup rapat untuknya. Sebuah keraguan besar masih menyelimutinya, namun kali ini, ada secercah api kecil yang mulai menyala di dalam dirinya. Api yang menolak untuk padam, api yang mungkin bisa membakarnya, atau justru meneranginya.

Malam semakin larut. Studio jahit yang biasanya terasa seperti benteng pelindung kini terasa seperti penjara yang semakin sempit. Arsa duduk kembali di depan mesin jahitnya, menatap sketsa yang tergeletak di sampingnya. Ia tahu menerima tantangan ini berarti membuka diri terhadap tatapan dunia, terhadap penilaian yang bisa saja menghancurkannya. Tapi, jika ia tidak mencoba, bukankah ia akan tetap terperangkap dalam debu ini selamanya? Sebuah keputusan mulai terbentuk di benaknya, keputusan yang penuh risiko, keputusan yang mungkin akan mengubah segalanya. Ia menekan tombol power mesin jahitnya. Cahaya lampu neon kembali memantul di matanya. Kali ini, kilauannya tidak lagi terasa mengejek, melainkan seperti sebuah janji. Janji akan sebuah kemungkinan.

Di luar studio, fajar mulai mengusir kegelapan. Namun, di dalam, Arsa Pradipta baru saja memulai perjalanannya, sebuah perjalanan yang dimulai dengan keberanian untuk menciptakan, dan ketakutan yang perlahan berganti menjadi secercah harapan.

Memuat komentar...