TANPA PENA
Sula

Sula

217 Menit Baca
0 Suka
20 Bab

Sinopsis

Hujan deras mengguyur tanah merah Perkebunan Alas Kemuning, menyamarkan suara cangkul yang menghantam benda lunak di sela-sela akar beringin tua. Lindu tidak berhenti, napasnya memburu bercampur uap dingin, sementara lumpur pekat seolah ingin menelan mata kakinya hidup-hidup. Ia tidak sedang menanam benih, melainkan berusaha menarik keluar sesuatu yang menyerupai tangan manusia dari dalam lilitan akar yang berdenyut layaknya organ tubuh. Teriakan tertahan di tenggorokannya saat jemari pucat dari dalam tanah itu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang, sebuah sapaan selamat datang dari tanah yang lapar. Lindu Aji, seorang ahli agronomi yang rasional, datang ke Kediaman Wangsa Sastro dengan misi memulihkan produktivitas lahan kopi yang misterius. Namun, ia segera menyadari bahwa kesuburan tanah di Alas Kemuning tidak berasal dari pupuk biasa, melainkan dari 'Ikatan Pasak'. Para pekerja di sana bukanlah buruh biasa, melainkan 'Abdi Sula'—jiwa-jiwa yang terikat sumpah leluhur, di mana tubuh mereka secara harfiah menjadi pasak hidup yang menahan bendungan kekuatan gelap agar tidak jebol, sekaligus menjadi tumbal periodik bagi entitas yang disembah sang Tuan Tanah. Di pusat pusaran teror ini, Kanthi Mayangsari, pewaris tunggal wangsa yang anggun namun rapuh, sedang dipersiapkan untuk sebuah 'Pernikahan Agung'. Lindu, yang awalnya hanya ingin bekerja, terseret ke dalam intrik berdarah ketika menemukan bahwa dirinya bukanlah orang asing bagi tanah itu. Darahnya membawa residu perjanjian lama yang dilupakan, dan 'Pernikahan' yang dirancang Gusti Sastro bukanlah penyatuan dua insan, melainkan ritual penyembelihan massal untuk memperbarui segel kekuasaan. Dalam upaya menyelamatkan Kanthi, Lindu harus memilih: menjadi martir yang hancur atau menjadi monster baru demi bertahan hidup.

Bab 1
published

Tanah yang Menolak

Roda jip tua Lindu Aji berdecit melintasi batas Perkebunan Alas Kemuning, menggulirkan kerikil merah yang segera melesak ke dalam ban. Lindu memegang kemudi erat, tubuhnya condong ke depan, napasnya keluar sebagai uap tipis di tengah udara pagi yang dingin. Di hadapannya terhampar lautan hijau kopi yang rapi, barisan pohon tegak menjulang ke langit seperti tentara yang siap berbaris. Ia tersenyum tipis. Pekerjaan yang menanti seorang ahli agronomi.

Jip melaju lebih dalam. Jalannya bergelombang, beberapa lubang dipenuhi genangan air sisa hujan semalam. Lumpur pekat sesekali terciprat ke kaca depan. Lindu menyipitkan mata, mengamati setiap jengkal lahan yang dilewatinya. Daun-daun kopi terlihat subur, tetapi ada semacam anomali. Pertumbuhan yang terlalu seragam, terlalu sempurna. Ada keganjilan yang menari-nari di sudut pandaknya. Ia menggeleng, mungkin hanya kelelahan setelah perjalanan panjang.

Lindu menekan klakson pendek saat melihat beberapa pekerja berdiri di pinggir jalan. Mereka tidak bergerak. Tubuh-tubuh kurus dengan topi caping tua, wajah mereka tertutup bayangan. Jip berhenti di depan mereka. Lindu menurunkan kaca jendela, menyunggingkan senyum ramah. "Selamat pagi, Pak. Saya Lindu Aji. Apakah jalan ke Ndalem masih lurus?"

Tidak ada yang menjawab. Mata mereka menatap lurus ke depan, ke hamparan pohon kopi di seberang jalan. Pupil mereka tampak kosong, tak beriak, seolah terbuat dari kaca buram. Lindu menunggu. Satu menit berlalu. Ia menarik napas dalam, merasakan udara dingin mengisi dadanya. Sebuah hawa tak nyaman merambati tengkuknya. Lindu mengangguk kecil. "Baiklah kalau begitu." Ia menarik tuas persneling, melajukan jipnya perlahan.

Para pekerja itu tetap berdiri. Mereka tidak menoleh, tidak mengedip, tidak mengeluarkan suara. Patung-patung hidup yang membisu. Lindu melihat ke kaca spion. Bayangan mereka semakin mengecil, tidak berubah posisi. Rasa tidak nyaman itu kini menekan dadanya. Bukan ketakutan, tetapi kebingungan yang menggerogoti logika. Ada yang salah. Sangat salah.

Jip melintasi sebuah jembatan batu, di bawahnya mengalir sungai keruh yang membawa sisa-sisa lumpur. Tak jauh dari sana, berdiri megah Ndalem, rumah utama Wangsa Sastro. Bangunan kolonial-Jawa itu tampak angkuh dengan tembok putih yang sedikit kusam, dikelilingi taman rimbun. Sebuah gerbang kayu berukir naga menyambutnya. Dua penjaga berdiri di sisi gerbang, mengenakan seragam lurik. Kali ini, mereka bergerak, membuka gerbang untuknya. Tatapan mereka juga datar, tetapi setidaknya ada respon fisik.

Seorang pria berbadan besar dengan kumis tebal keluar dari bangunan Ndalem. Pakaiannya sederhana, kemeja batik usang dan celana kain. Darsana, mandor yang disebutkan dalam surat pengantar. Pria itu tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk pendek saat Lindu melangkah keluar dari jip. "Tuan Lindu Aji. Selamat datang di Alas Kemuning." Suaranya berat, nyaris berbisik.

Lindu mengulurkan tangan. Darsana menyambutnya dengan genggaman dingin, keras seperti cengkeraman kayu. "Terima kasih, Pak Darsana. Saya berharap bisa segera bekerja."

"Sudah disiapkan penginapan di paviliun sebelah timur," kata Darsana, menunjuk bangunan yang lebih kecil, terpisah dari Ndalem utama. "Gusti Sastro sedang menunggu. Setelah beristirahat, Tuan bisa menghadap."

Darsana membalikkan badan, berjalan mendahului. Lindu mengikutinya, membawa tas ransel berisi perlengkapan kerjanya. Paviliun tamu terbuat dari kayu jati, dengan teras depan yang menghadap ke kebun belakang. Pintunya terbuka. Udara di dalam ruangan terasa pengap, dingin. Sebuah ranjang berkanopi diletakkan di tengah, di sampingnya ada meja dan kursi rotan. Lindu meletakkan tasnya di lantai kayu.

"Semoga Tuan nyaman," kata Darsana, berdiri di ambang pintu. Lindu menoleh. Mata Darsana menatap tajam, menembus. Bukan tatapan kosong seperti para pekerja, melainkan tatapan yang mengukur, menilai. Lindu membalas pandangan itu. Sebuah sinyal peringatan berdesir di benaknya. "Jika ada keperluan, panggil saja penjaga." Darsana menghilang dari pandangan.

Lindu menutup pintu. Kayu tua itu berderit pelan. Ia menjatuhkan diri di tepi ranjang. Kasurnya empuk, namun ada bau apak yang samar. Lindu menyentuh seprai putih, permukaannya terasa lembap. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kacau. Lingkungan baru, orang-orang aneh. Mungkin hanya jet lag dan perbedaan budaya pedesaan.

Lindu melemparkan ransel ke lantai. Ia memutuskan untuk berbaring sebentar, mengusir lelah. Saat kepalanya menyentuh bantal, ia merasakan sebuah gumpalan. Tidak keras, tetapi cukup menonjol. Ia bangkit kembali, menarik bantal itu. Di bawah bantal katun putih, di atas seprai yang sama lembapnya, teronggok segumpal tanah liat basah. Warnanya merah kecokelatan, seperti tanah di Alas Kemuning. Aroma anyir menusuk hidungnya. Bau amis yang tajam, seperti darah segar yang mengering di bawah terik matahari.

Lindu membeku. Ia menunduk, mengendus gumpalan tanah itu sekali lagi. Kerutan di keningnya semakin dalam. Matanya menelusuri sudut-sudut kamar. Tidak ada tanda-tanda yang menjelaskan. Siapa yang menaruhnya di sana? Mengapa? Ini bukan lelucon. Bau darah itu nyata, begitu pekat, seolah gumpalan tanah itu baru saja diambil dari tempat kejadian mengerikan. Lindu menarik tangannya menjauh. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya. Antusiasme profesionalnya yang tadi menggebu kini hancur lebur, digantikan oleh kecurigaan dingin yang menggigit hingga ke tulang.

Memuat komentar...