TANPA PENA
Mengurai Senyap

Mengurai Senyap

65 Menit Baca
0 Suka
7 Bab

Sinopsis

Naraswari ingin agar dunia memahami keindahan dalam diamnya, di mana setiap goresan pensil dan untaian kata adalah jembatan menuju jiwanya yang kompleks. Namun, hasrat terbesar itu selalu terhalang oleh sebuah tembok tak terlihat: ketidakmampuannya untuk mengucapkan apa yang sebenarnya bergemuruh di dalam hatinya, sebuah kelemahan fatal yang membuatnya seringkali disalahpahami oleh orang-orang di sekitarnya. Di koridor SMA Adiwarna yang riuh, Naraswari hidup dalam bayangan, menggunakan buku sketsa lusuhnya sebagai benteng dari sorot mata yang menghakimi. Jati, kapten tim basket yang karismatik dan populer, adalah magnet bagi setiap pasang mata—termasuk mata Naraswari yang diam-diam mengaguminya. Namun, hubungan mereka terjalin dari serangkaian kesalahpahaman, bermula dari surat anonim yang ditulis Naraswari dalam sebuah proyek bahasa dan salah diinterpretasikan oleh Ranu, pengelola media sekolah yang culas, sebagai deklarasi cinta dari gadis lain. Gejolak emosi remaja dan rumor yang beredar di media sosial sekolah semakin memperumit segalanya, mengubah Jati dari sekadar pengagum menjadi individu yang kebingungan akan niat sebenarnya dari Naraswari. Kembang, sahabat pragmatis Naraswari, mencoba menjembatani jurang komunikasi ini, namun tekanan sosial dan isolasi yang dirasakan Naraswari semakin dalam. Kisah ini bukan hanya tentang cinta pertama yang canggung, melainkan tentang perjalanan pahit manis dalam menemukan suara diri di tengah hiruk pikuk ekspektasi sosial, dan belajar bahwa terkadang, yang paling sulit diungkapkan justru adalah kebenaran paling mendalam tentang siapa diri kita sebenarnya. Ini adalah eksplorasi mendalam tentang bagaimana kesunyian dapat berbicara lebih keras daripada kata-kata, jika saja ada yang mau mendengarkan dan memahami.

Bab 1
published

Bisikan dari Dalam Diri

Naraswari menarik napas panjang, menahan diri untuk tidak menubruk punggung seragam di depannya. Koridor SMA Adiwarna di hari pertama tahun ajaran baru itu mendidih, dipadati siswa yang berdesakan, suaranya menggelegar seperti ombak pecah. Sebuah senyum tipis melengkung di bibirnya, bercampur antara antisipasi akan hal baru dan kecemasan yang selalu menyelimutinya.

Ia membelah keramaian, mencari celah di antara tawa dan obrolan yang memekakkan telinga. Jemarinya mencengkeram erat buku sketsa lusuh yang menjadi benteng pertahanannya. Di dalamnya, ada seluruh dunia yang tidak sanggup ia ucapkan, setiap garis dan coretan adalah bisikan hatinya yang paling rahasia.

“Nara!” Suara nyaring itu menembus kebisingan, diikuti sebuah tepukan keras di bahunya. Naraswari tersentak, sedikit oleng. Kembang berdiri di sampingnya, rambut keriting pendeknya bergoyang ceria, wajahnya memancarkan energi yang seolah tidak pernah habis. Tas selempang berwarna cerah yang dikenakannya ikut melambai-lambai.

“Kebiasaan ya, kayak mau hilang ditelan bumi.” Kembang nyengir, matanya menangkap buku sketsa di tangan Naraswari. “Sudah nambah lagi ‘penghuni’ baru?”

Naraswari menggeleng. Pipi Kembang sedikit mengempis. “Ayolah, ini hari pertama. Jangan langsung sembunyi di pojok perpustakaan lagi.” Kembang meraih tangan Naraswari, menariknya pelan ke arah kantin. “Kita harus cari tempat duduk paling strategis. Banyak ‘pemandangan’ baru, kan?”

Naraswari membiarkan dirinya ditarik. Matanya menyapu deretan bangku di kantin, melihat sekelompok anak laki-laki dengan jaket basket kebanggaan sekolah. Di tengah mereka, Jati tertawa lebar, menepuk bahu salah seorang temannya. Rambut hitam ikalnya yang rapi memantulkan cahaya, senyumnya menyala, seolah memiliki gravitasi sendiri yang menarik setiap pasang mata. Jati, kapten tim basket yang karismatik, adalah pusat semesta di Adiwarna.

Perut Naraswari sedikit melilit. Ia menunduk, memandang sepatu kanvasnya. Perasaan itu, yang terlalu besar dan menakutkan untuk diungkapkan, kembali bergemuruh di dadanya. Sejak kelas sepuluh, Jati adalah objek rahasianya, inspirasi di balik sebagian besar sketsa wajah dan siluet yang terukir di buku lusuh itu.

“Cie, langsung mode pengamat.” Kembang menyikutnya pelan, senyum jailnya merekah. “Baru juga masuk, sudah betah lihatin Kapten Jati, ya?”

Naraswari spontan menggeleng, telinganya memerah. “Bukan. Aku cuma... mengamati suasana.”

Kembang tertawa geli. “Iya, iya. Suasana yang ada Jatinya, kan?” Ia menyeret Naraswari ke sebuah meja kosong di sudut, sedikit tersembunyi. “Tapi serius, Nara. Kapan kamu mau coba ‘mengamati’ dia dari dekat? Atau setidaknya, pakai mulut, bukan cuma pakai pensil?”

Naraswari membuka buku sketsanya, jarinya mengelus halaman kosong. “Aku... tidak tahu harus bilang apa.” Suara Kembang terdengar terlalu keras. Kata-kata terasa seperti batu di tenggorokannya. Untuk Jati, ia merasa seluruh perbendaharaan kata yang ia punya mendadak lenyap ditelan udara.

“Bilang saja ‘Hai’,” Kembang mengangkat bahu, seolah itu adalah hal termudah di dunia. “Atau, ‘Bagus sekali main basketmu kemarin’.”

Naraswari menggeleng lagi. “Itu... terlalu langsung.” Dunia Kembang begitu sederhana, penuh dengan aksi dan reaksi yang jelas. Dunia Naraswari, sebaliknya, adalah labirin bisu, tempat ia sering tersesat dalam keheningannya sendiri.

Di seberang kantin, Jati tertawa lagi. Suaranya sampai ke telinga Naraswari, menggetarkan sesuatu di dalam dadanya. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan bagaimana rasanya berada di dekatnya, bercakap-cakap tanpa beban. Namun bayangan itu segera hancur oleh realitas. Ia hanya bisa tersenyum tipis, menyimpan mimpinya dalam hati.

Jati menghentakkan kakinya, bola basket melenting tinggi lalu kembali ke tangannya. Ia mengoper bola itu ke Dion, temannya, lalu melompat mengambil posisi bertahan. Peluh menetes di pelipisnya, sebagian rambut ikalnya lengket di dahi. Suasana lapangan basket Adiwarna sudah panas, meski jam pelajaran baru saja dimulai. Ia mendengar sorakan beberapa siswi dari bangku penonton, wajahnya sedikit mengernyit. Bukan karena terganggu, melainkan karena kelelahan.

“Kapten, jangan terlalu serius!” teriak Dion, dribble bolanya meliuk melewati pemain lain. “Baru pemanasan!”

Jati tersenyum tipis, senyum yang sudah ia pelajari untuk ia pamerkan di depan umum. Senyum yang selalu berhasil menyembunyikan kerutan di dahinya, kerutan yang muncul setiap kali ia memikirkan tentang ekspektasi yang membayanginya. Kapten tim basket, idola sekolah, anak yang selalu sempurna. Gelar-gelar itu terasa seperti rantai, bukan mahkota.

Ia menoleh ke arah bangku penonton, melihat kerumunan siswi yang tak pernah absen. Matanya sekilas menangkap siluet seorang gadis berambut sebahu, duduk sendiri di pojokan, sibuk dengan buku yang ia pegang. Ada aura tenang yang memancar darinya, sebuah kontras mencolok dengan kegaduhan di sekelilingnya. Jati menahan pandangan sejenak. Gadis itu tidak ikut bersorak, tidak ikut memandangnya dengan mata berbinar-binar seperti yang lain. Ia hanya ada, di dunianya sendiri.

“Jati, fokus!” seru pelatih. Jati mengangguk, kembali ke lapangan. Ia berlari, melompat, menembak. Setiap gerakan adalah bentuk pelarian dari pikiran-pikiran yang mengganggu. Ia suka basket, sungguh. Tapi ia kadang lelah menjadi Jati yang ‘harus’ sempurna.

Di tepi lapangan, Kembang kembali mencoba menyemangati Naraswari. “Coba deh, Nara. Sesekali lirik dia langsung. Dia juga manusia, kok.”

Naraswari menggigit bibir, matanya masih terpaku pada Jati yang kini sedang dribble bola dengan lincah. Ada gerakan anggun dalam setiap aksinya, seolah gravitasi tidak sepenuhnya berlaku untuknya. Jati adalah perwujudan dari segala hal yang ia kagumi: kepercayaan diri, semangat, dan kemampuan untuk menarik perhatian tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.

“Aku... takut,” bisiknya, suaranya nyaris hilang. Telapak tangannya sedikit basah. Bukan karena ia membenci keramaian, ia hanya tidak pernah tahu bagaimana cara berenang di dalamnya. Di dunianya, ia hanya bisa menjadi pengamat, menorehkan bisikan hatinya ke dalam lembaran kertas. Itu adalah satu-satunya bahasa yang ia kuasai.

Kembang menghela napas, ia memahami sahabatnya. Ia tahu seberapa dalamnya ketakutan Naraswari untuk bersuara, untuk menonjol. Ia merangkul bahu Naraswari. “Ya sudah. Kalau begitu, mari kita nikmati pertunjukan gratis ini.”

Naraswari bersandar di bahu Kembang, tatapannya kembali ke lapangan. Jati melompat, menembakkan bola. Bola itu masuk mulus ke dalam ring. Gemuruh sorakan kembali meledak. Ia melihat Jati tersenyum lagi, senyum yang sama yang ia gambar berulang kali di buku sketsanya. Ada keindahan dalam senyapnya ia mengagumi Jati, sebuah keindahan yang hanya ia dan pensilnya yang tahu.

Memuat komentar...