
360 Derajat Hati
Sinopsis
Apakah cinta adalah takdir yang tak terhindarkan, ataukah sekadar pilihan yang pahit, dirajut dari kerentanan dan ketakutan akan kehilangan? Bagi Kamila, seorang perencana event korporat senior yang hidupnya terbingkai sempurna di antara jadwal ketat dan ekspektasi tinggi, pertanyaan itu bersemayam di inti jiwanya. Ia mencintai Renaldy, kurator seni digital dengan jiwa bebas, namun perasaan itu adalah rahasia yang terbungkus rapi di balik humor sarkastik dan profesionalisme. Untuk melarikan diri dari bayang-bayang cinta tak berbalas yang menusuk, Kamila memulai hubungan 'santai' dengan Krisna, pemilik startup kuliner yang energik, mengira ia bisa mengendalikan emosinya seperti mengelola proyek-proyek besar di kantor. Namun, semakin ia berusaha lari, semakin erat jaring-jaring perasaannya terpilin. Lingkaran persahabatan mereka yang semula kokoh—Kamila, Renaldy, Damian si analis keuangan yang selalu menjadi 'pelabuhan'nya, dan Amara si jurnalis online yang ekspansif—mulai retak. Krisna, yang awalnya hanyalah pengalihan, justru mengembangkan perasaan serius, memaksa Kamila menghadapi kenyataan pahit tentang kebohongan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri. Di tengah kekacauan ini, sebuah keadaan darurat yang menimpa Amara memicu serangkaian konfrontasi emosional yang tak terhindarkan, menelanjangi semua topeng dan rahasia yang selama ini tersimpan. Dari gemerlap lobi hotel di Bali hingga hiruk pikuk kafe urban di Distrik Kencana, Kamila dipaksa menavigasi labirin hatinya. Ia harus memilih antara terus berlindung di balik mekanisme kopingnya atau menghadapi kebenaran pahit bahwa terkadang, cinta yang paling dicari adalah cinta yang tidak akan pernah ia miliki. Ini adalah kisah tentang penemuan diri yang menyakitkan, konsekuensi dari pilihan yang salah, dan bagaimana penerimaan realistis—meskipun pahit—dapat mengantar pada kedamaian yang tak terduga, melukis kembali definisi kebahagiaan sejati.
Labirin yang Teratur
Jari-jariku mengetuk layar tablet dengan ritme cepat, menggeser barisan jadwal yang saling berdesakan di kalender digital Nexus Kreatif. Layar itu menampilkan daftar panjang koordinasi vendor, tenggat waktu proposal, dan rincian teknis untuk acara besar bulan depan. Aku duduk di tepi tempat tidur apartemen Distrik Kencana, membiarkan mesin pembuat kopi di sudut dapur bekerja sendiri. Suara dengung mesin itu menjadi latar belakang satu-satunya di ruangan yang terlalu rapi ini.
Pandanganku beralih ke jendela besar yang menampilkan kesibukan Jakarta di pagi hari. Pikiranku justru tersangkut pada satu nama: Renaldy. Kemarin pria itu mengirimkan pesan singkat tentang sebuah pameran seni, dan jantungku langsung bereaksi di luar kendali. Aku membenci reaksi fisik ini. Aku benci bagaimana bayangannya selalu terselip di antara tumpukan pekerjaan profesional yang kususun sedemikian rupa untuk melindungiku.
Ponselku bergetar di atas seprai. Sebuah notifikasi muncul dari Krisna. Pria pemilik perusahaan rintisan kuliner itu mengirimkan foto sarapan sehat dengan keterangan singkat: Jangan lupa makan, Kamila. Semangat untuk rapatnya hari ini.
Aku mengetik jawaban pendek. "Terima kasih, Krisna. Kamu juga."
Krisna adalah tombol senyap. Menjalani hubungan santai dengannya memberikan ilusi bahwa aku memegang kendali. Dia adalah pengalihan yang kubutuhkan agar aku tidak tenggelam dalam keinginan konyol untuk memiliki sahabatku sendiri. Aku berdiri, merapikan blazer hitam modis yang kukenakan, lalu menyambar tas kerja. Tidak ada waktu untuk keraguan. Profesionalisme adalah tameng terbaikku.
Damian meletakkan laporan analisis pasar dengan suara berdebam pelan di atas meja kayu Kafe Sudut Tersembunyi. Ia memperbaiki letak kacamata dan meluruskan posisi duduknya saat melihat Kamila melangkah masuk. Wanita itu berjalan dengan langkah tegas, namun Damian menangkap ada sesuatu yang berbeda pada sorot matanya yang tajam.
"Kamu terlambat lima menit," ucap Damian saat Kamila duduk di hadapannya.
Kamila hanya mengangkat bahu dan langsung meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. "Vendor katering bermasalah lagi. Jakarta tidak pernah membiarkan hariku berjalan mulus."
Damian memperhatikan jemari Kamila yang mengetuk-ngetuk pinggiran gelas air mineral. Ada kecemasan yang tidak terucap di sana. Ia tahu setiap gerak-gerik wanita ini. Ia tahu kapan Kamila benar-benar tenang dan kapan wanita itu sedang memakai topeng keteraturannya. Damian ingin bertanya tentang Krisna, pria baru yang sering disebut-sebut dalam lingkaran pertemanan mereka, namun ia menahan lidahnya. Pertanyaan itu hanya akan merusak keseimbangan yang ia jaga selama bertahun-tahun.
"Bagaimana kabar pameran Renaldy?" Damian mencoba mengalihkan pembicaraan, meski ia tahu menyebut nama itu adalah langkah berisiko.
Bahu Kamila menegang. Ia mengambil gelas dan meneguk air di dalamnya sampai habis. "Dia sibuk. Sepertinya pameran di Galeri Artemis ini sangat penting baginya. Kamu tahu sendiri bagaimana dia kalau sudah masuk ke dunianya.".
Damian mengangguk perlahan. Ia melihat kesedihan yang lewat sekilas di mata Kamila. Keinginan untuk meraih tangan wanita itu dan memberikan ketenangan muncul di benaknya, namun ia tetap diam. Ia adalah pelabuhan, batu karang yang harus tetap stabil, meski ia sendiri harus menekan perasaannya sedalam mungkin agar persahabatan ini tidak hancur berantakan. Baginya, melihat Kamila tetap berada di dekatnya sudah lebih dari cukup, meski ia harus berbagi ruang dengan bayangan Renaldy.
Renaldy menggeser tuas pada panel kontrol lampu galeri, menyesuaikan intensitas cahaya yang jatuh tepat di atas layar besar di tengah ruangan. Di sana, sebuah karya seni abstrak digital miliknya berpendar dengan warna-warna neon yang berani. Ia mundur beberapa langkah, menyipitkan mata untuk memastikan setiap sudut proyeksi sudah sempurna.
Ponsel di saku celana linennya bergetar berkali-kali. Notifikasi grup percakapan mereka penuh dengan pesan dari Amara yang sedang antusias membahas rencana akhir pekan. Renaldy mengambil ponselnya, namun ia tidak membaca pesan-pesan sebelumnya. Ia hanya membuka kamera, memotret detail tekstur pada karyanya, dan mengirimkannya ke grup tanpa kata-kata.
Bagi Renaldy, seni adalah segalanya. Dunia di luar galeri ini seringkali terlihat kabur dan penuh dengan emosi manusia yang rumit untuk dipahami. Ia menyayangi Kamila dan Damian, namun ia lebih suka melihat mereka sebagai bagian dari rutinitasnya yang menyenangkan tanpa harus menggali lebih dalam tentang apa yang mereka rasakan.
Ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari kurator senior masuk. Renaldy segera menjawabnya sambil berjalan menuju kantor belakang, sama sekali tidak menyadari bahwa foto yang ia kirimkan baru saja mengacaukan ritme jantung seseorang di sudut kota yang lain. Baginya, hari ini hanyalah tentang warna, cahaya, dan bagaimana karya digitalnya bisa berbicara kepada dunia. Tentang perasaan orang-orang terdekatnya, itu adalah variabel yang sering ia lupakan dalam persamaannya yang artistik.