
Simpul
Sinopsis
Di satu sisi, Ayana Pratiwi memeluk erat mimpinya akan ketenangan dan kesetiaan dalam biduk pernikahan yang ia rajut dengan Banyu Atmaja; di sisi lain, kenyataan menghempasnya dengan pengkhianatan yang kejam, merobek janji suci itu hingga ke seratnya yang paling halus. Ayana, seorang Kurator Dokumentasi Sejarah yang cenderung introspektif, selalu memandang pernikahan sebagai benteng terakhir yang akan melindunginya dari kerapuhan dunia, ironisnya ia justru menemukan jurang terdalam di dalamnya. Pengkhianatan Banyu, suaminya yang ambisius sebagai Pengembang Kota Mandiri, dengan Freya Danastri, Konsultan Pemasaran Proyek mereka, bukan sekadar luka. Ia adalah gempa yang meruntuhkan identitas Ayana, memaksanya menghadapi jurang trauma dan harga diri yang terkoyak. Namun, di tengah reruntuhan itu, sebuah kehamilan tak terduga muncul, bukan sebagai beban, melainkan sebagai percikan api yang menyulut kembali kekuatan yang lama terkubur. Ayana dipaksa bergeser dari pasif menjadi strategis, dari seorang yang memendam rasa menjadi wanita yang lantang menuntut keadilan. Perjalanannya adalah pertarungan untuk merebut kembali agensinya, untuk melindungi calon anaknya dari bayang-bayang pengkhianatan, dan untuk menghadapi eskalasi berbahaya dari Freya yang obsesif—bukan lagi sekadar selingkuhan, melainkan ancaman kriminal yang tak segan melakukan pembakaran hingga percobaan penculikan. Bersama dengan dukungan tak tergoyahkan dari keluarganya, Ayana dan Banyu, yang kini terpaksa menghadapi konsekuensi pahit dari tindakannya, harus menemukan cara untuk berkomunikasi, membangun kembali kepercayaan, dan menghadapi badai yang mengancam untuk menelan mereka semua.
Getir di Balik Pintu Kamar
Ayana menyambar ponsel yang bergetar di atas nakas kayu sebelum suaranya membangunkan Banyu. Cahaya dari layar gawai itu menyengat matanya di tengah remang kamar yang masih tertutup gorden abu-abu. Jari telunjuknya menyentuh permukaan kaca, menggeser notifikasi yang muncul di bagian atas. Sebuah pesan singkat dari kontak bernama 'F' terpampang jelas.
"Aku rindu semalam. Sampai ketemu di kantor, Sayang."
Dada Ayana berdegup kencang hingga tulang rusuknya nyeri. Jemarinya kaku, membuat ponsel itu hampir merosot dari genggaman. Ia melirik pria yang masih bergelung di balik selimut di sampingnya. Bahu Banyu naik turun dengan ritme yang teratur. Lelaki itu tidak bergerak sedikit pun, tidak menyadari bahwa benteng yang selama ini Ayana bangun dengan penuh ketelitian sedang retak dalam hitungan detik.
Ayana meletakkan kembali ponsel itu ke posisi semula, persis seperti sebelum ia mengambilnya. Ia bangkit dari tempat tidur. Telapak kakinya menyentuh lantai parket yang dingin. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia berjalan menuju kamar mandi, mengunci pintu dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan bunyi klik yang tajam. Di depan cermin, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Matanya yang cokelat gelap tidak meneteskan air mata, namun tangannya terus bergetar hebat. Ia mencengkeram pinggiran wastafel porselen putih itu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sendok logam berdenting menabrak dinding cangkir porselen di dapur. Ayana menuangkan air panas ke dalam gelas berisi bubuk kopi hitam milik Banyu. Uap panas membubung, membawa aroma tajam yang biasanya ia sukai. Namun kali ini, bau itu menusuk pangkal hidungnya. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja makan kayu yang kosong.
Banyu muncul dengan kemeja putih yang sudah rapi, meski kancing bagian atasnya masih terbuka. Ia menarik kursi di depan Ayana. "Kopinya sudah siap, Ay?"
Ayana mengangguk. Ia mendorong cangkir itu ke arah suaminya tanpa menatap mata pria itu. Ia menyibukkan diri dengan memotong roti gandum, meskipun perutnya sendiri menolak bayangan makanan apa pun masuk ke sana. Pisau roti di tangannya bergerak maju mundur di atas talenan kayu.
"Hari ini aku ada rapat besar dengan tim pemasaran," kata Banyu sambil menyesap kopinya. Ia meletakkan cangkir dan melihat ke arah jam dinding. "Mungkin aku pulang terlambat lagi. Freya bilang ada detail strategi yang harus segera difinalisasi."
Ayana menghentikan gerakan pisaunya. Ujung pisau itu menancap di permukaan roti. Freya Danastri. Nama itu keluar begitu saja dari mulut Banyu dengan nada yang sangat profesional, seolah tidak ada pesan mesra yang tersembunyi di balik inisial 'F' tadi pagi. Ayana mengecap rasa pahit yang tertinggal di kerongkongannya, meski ia sendiri belum meminum apa pun.
"Freya?" Ayana akhirnya bersuara. Suaranya terdengar datar, jauh lebih tenang daripada badai yang berkecamuk di dalam perutnya.
"Ya, Konsultan Pemasaran baru untuk proyek Kota Mandiri itu. Dia sangat teliti." Banyu berdiri, meraih tas kerjanya yang tergeletak di kursi sebelah. Ia berjalan mendekat ke arah Ayana.
Banyu merunduk, mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya. Bibirnya bersentuhan dengan kulit Ayana selama dua detik. Biasanya, sentuhan itu memberikan ketenangan bagi Ayana. Sekarang, ia hanya bisa mematung. Kulit keningnya seakan terbakar di titik bekas bibir Banyu menempel.
"Aku berangkat ya," pamit Banyu. Langkah kakinya yang berat berderap menjauh menuju pintu depan.
Banyu melilitkan dasi sutra di lehernya melalui pantulan kaca spion tengah mobil di dalam garasi. Ia melihat wajahnya sendiri. Ada sedikit ketegangan di sudut matanya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia menyalakan mesin kendaraan. Deru mesin memenuhi ruang garasi yang tertutup.
Ponsel di kantong kemejanya bergetar. Ia tidak perlu melihat layarnya untuk tahu siapa yang menghubungi. Ia menginjak pedal gas, membawa mobil itu keluar ke jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan pagi. Di pikirannya, wajah Freya dan rencana pengembangan kota saling tumpang tindih. Ia mengabaikan getar ponsel itu untuk sementara, memilih fokus pada aspal di depannya.
Di dalam rumah, Ayana masih duduk di sofa ruang tengah. Ia menggenggam ponsel Banyu yang tertinggal di atas meja. Lelaki itu terburu-buru hingga lupa membawanya. Ayana menatap layar yang masih terkunci itu. Cahaya dari jendela ruang tamu jatuh di permukaan layar, menunjukkan sidik jari Banyu yang samar di sana.
Ayana mencoba memasukkan kombinasi angka tanggal pernikahan mereka. Gagal. Ia mencoba tanggal lahir Banyu. Gagal lagi. Dadanya semakin sesak. Ia memasukkan deretan angka yang merupakan tanggal lahirnya sendiri. Layar itu terbuka.
Dunia di sekitar Ayana seolah berhenti berputar. Di dalam aplikasi pesan, deretan percakapan antara Banyu dan 'F' terbentang panjang. Bukan hanya tentang pekerjaan. Ada foto-foto, janji-janji makan malam yang tidak pernah ia ketahui, dan panggilan-panggilan sayang yang merobek habis sisa-sisa kepercayaannya. Ayana menekankan punggungnya ke sandaran sofa. Ia memegang perutnya yang mendadak mual.
Tangannya berpindah ke laci meja di sampingnya. Di sana, di balik tumpukan dokumen sejarah yang sedang ia kurasi, tersimpan sebuah kotak kecil yang baru ia beli kemarin sore dari apotek. Ia belum sempat menggunakannya. Ia belum sempat memberi tahu Banyu bahwa siklus bulanannya terlambat dua minggu.
Ayana menatap kotak tes kehamilan itu, lalu beralih ke layar ponsel yang masih menunjukkan pesan-pesan pengkhianatan Banyu. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Ketika ia membukanya kembali, sorot matanya yang biasanya redup dan pasif telah berubah. Ia tidak melempar ponsel itu. Ia tidak berteriak. Dengan gerakan yang sangat terukur, ia mengambil ponsel miliknya sendiri dan mulai memotret setiap baris percakapan di layar ponsel Banyu. Satu per satu. Tanpa melewatkan satu kata pun.
Ketukan di pintu depan mengejutkannya. Ayana menyimpan kembali ponsel Banyu dan kotak tes kehamilan itu dengan cepat. Ia berdiri, merapikan blus linennya, dan berjalan menuju pintu. Di luar, hari sudah sepenuhnya terang, namun bagi Ayana, kegelapan baru saja dimulai.