TANPA PENA
Enam Puluh Detik Senja

Enam Puluh Detik Senja

145 Menit Baca
0 Suka
20 Bab

Sinopsis

"Aku melihatnya lagi. Bunga itu, di ambang jendela kamarku." Lara berbisik, suaranya bagai gemerisik daun kering. Ia menatap kosong ke arah taman yang mulai diselimuti senja, setiap bayangan yang memanjang seolah berbisik nama orang-orang yang hilang darinya. Ini bukan pertama kalinya pola-pola aneh muncul, bukan pertama kalinya ia merasa dunia di sekelilingnya mulai membelok dari realitas yang ia kenal. Sejak kematian mendadak ibunya dan kecelakaan yang merenggut adiknya dalam rentang waktu yang berdekatan, Lara mendapati dirinya terjebak dalam siklus kebingungan. Ia mulai melihat pola-pola di tempat yang seharusnya tidak ada: awan yang menyerupai wajah sedih, noda air di dinding yang tampak seperti peta dunia, dan tentu saja, bunga gladiolus merah yang selalu muncul di momen-momen krusial. Keinginan awalnya untuk memahami apa yang terjadi berubah menjadi perang melawan kewarasannya sendiri, karena setiap upaya mencari jawaban justru membawanya semakin dalam ke jurang kecurigaan, terutama terhadap sosok yang paling dekat dengannya. Di tengah keputusasaan, Lara menemukan secercah harapan dalam pertemanan baru dengan Kai, seorang mahasiswa yang tampak tulus dan penuh perhatian, serta Lena, seorang jurnalis investigasi yang memiliki naluri tajam. Namun, semakin dalam Lara menggali, semakin ia menyadari bahwa di balik wajah-wajah ramah itu, ada rahasia yang lebih gelap dari senja yang merayap. Manipulasi halus, kebohongan yang terstruktur rapi, dan sebuah permainan psikologis yang dirancang untuk menghancurkannya secara perlahan mulai terkuak, menyingkap bahwa ancaman terbesar bukanlah dari kekuatan supranatural, melainkan dari kerapuhan hati manusia yang tergelincir dalam obsesi dan balas dendam.

Bab 1
published

Bisikan Gladiolus Merah

Bunga itu. Di sana. Di ambang jendela kamarku. Jantungku berdebar tak beraturan, seperti burung yang terperangkap dalam sangkar rusuk. Aku tak yakin berapa lama aku menatapnya, jari-jariku dingin menggenggam tepi meja. Merah tua, kelopak-kelopaknya yang terkulai nyaris menyentuh kaca. Gladiolus. Aku yakin aku sudah membuangnya. Entah kapan, entah di mana. Tapi ia ada di sini, seolah tumbuh dari retakan jiwa yang tak terlihat.

Udara di apartemen terasa pengap, meskipun jendela kamar terbuka lebar. Senja mulai merayap masuk, memanjangkan bayangan perabot hingga menyerupai siluet-siluet menakutkan. Sebuah bayangan di dinding, membentuk garis wajah yang samar. Bukan wajah yang kukenal, bukan wajah yang ingin kukenal. Hanya bentuk, sebuah penampakan yang dipaksakan oleh mata yang lelah.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir rasa dingin yang merayap dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun. Ingatanku melayang pada beberapa bulan lalu. Ibu. Senyumnya yang memudar. Ruangan putih yang dingin. Sebuah keheningan yang tak pernah benar-benar berakhir. Dulu, aku hanya seorang mahasiswi biologi yang cenderung analitis. Sekarang? Sekarang aku adalah pengamat pola-pola aneh, pencari makna di tempat yang tak berarti. Terjebak dalam pusaran peristiwa yang tak kukerti, meragukan kewarasanku sendiri.

Aku mencoba mengalihkan perhatian. Jemariku meraih ponsel, membuka sebuah artikel yang baru saja kusimpan. 'Pareidolia: Fenomena Psikologis di Balik Persepsi Bentuk Tak Beraturan'. Kata-kata itu melayang di layar, mencoba menenangkan. Bentuk awan yang menyerupai wajah sedih, noda air di dinding yang tampak seperti peta dunia. Aku tahu ini. Aku mempelajarinya. Otak kita terprogram untuk mencari pola, untuk menemukan wajah dalam keramaian, untuk mencari makna dalam kekacauan. Tapi bunga itu... bunga itu terasa berbeda. Bukan sekadar pola yang diciptakan oleh mata lelah. Ia nyata, entah bagaimana, ia ada di sana.

Perlahan, aku bangkit dari kursi. Setiap langkah terasa berat, lututku sedikit gemetar. Aku berjalan ke jendela, mataku tak lepas dari bunga itu. Jika aku membuangnya, lalu siapa yang membawanya kemari? Dan mengapa? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti gasing yang tak mau berhenti. Aku menjulurkan tangan, ragu-ragu, namun sebelum jemariku menyentuh kelopaknya, sebuah suara dari lorong membuatku terkesiap. Suara yang familiar. Terlalu familiar. Detak jantungku kembali melonjak.

“Lara?”

Suara itu memanggil namaku. Lembut, namun entah mengapa terasa seperti sengatan listrik. Bukan suara yang biasa terdengar di lorong apartemenku, apalagi di jam-jam seperti ini. Aku membeku. Sejenak, aku berpikir itu hanya imajinasiku, gema dari pikiran yang semakin terfragmentasi. Namun, kemudian terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

“Lara, apa kamu di dalam?”

Suara itu bergetar ringan, terdengar seperti kekhawatiran yang tulus. Tapi kecurigaan yang telah lama bersarang di dadaku tak mau pergi. Aku menahan napas, mataku terpaku pada pintu apartemenku. Jantungku berdebar semakin kencang, memompa ketakutan dingin ke seluruh nadiku. Lalu, yang paling mengerikan, pintu itu berderit pelan. Perlahan terbuka, seolah ada tangan tak terlihat yang menariknya.

Dalam kesamaran cahaya senja yang mulai memudar, aku bisa melihat siluet seseorang berdiri di ambang pintu. Sosok itu bergerak maju, dan seketika, aku tahu siapa itu. Kai.

Senyumnya terlihat di kegelapan yang mulai merayap, senyum yang selalu membuatku merasa aman. Tapi malam ini, senyum itu terasa seperti topeng. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan suara pelan yang bergema di keheningan apartemenku. Ia tidak terburu-buru, gerakannya tenang, seolah ia adalah pemilik tempat ini. Matanya mencari-cari, lalu tertuju padaku, yang masih berdiri membeku di dekat jendela.

“Lara?” ulangnya, kali ini dengan nada sedikit berbeda, lebih… posesif? “Kenapa kamu diam saja di sana?”

Aku hanya bisa menatapnya, otakkku mencoba memproses segalanya. Bunga itu. Suara di luar. Kai yang tiba-tiba muncul. Semua terasa seperti potongan puzzle yang tak pernah bisa kususun dengan benar.

“Bunga itu…” akhirnya aku berhasil bersuara, suaraku serak. Aku menunjuk ke arah jendela, ke arah gladiolus merah yang kini tertutup bayangan.

Kai mengikuti arah pandanganku. Dahinya berkerut sejenak, seolah bingung. “Bunga apa?”

Ia berjalan mendekat, langkahnya mantap, tak seperti aku yang masih tertatih. Ia berhenti di sampingku, menatap ke arah jendela. Untuk sesaat, ia terdiam. Lalu, ia tertawa kecil, suara yang biasanya menghibur kini terdengar dingin di telingaku.

“Oh, bunga itu,” katanya, suaranya merendah. Ia mencondongkan tubuh sedikit, seolah ingin menunjukkan sesuatu yang tersembunyi di balik bayangan. “Kamu yakin itu ada di sana?”

Aku menatapnya, matanya yang tajam menusukku. Kebingungan di wajahnya terasa begitu nyata, namun sesuatu di dalam diriku memberontak. Ada kebohongan di balik setiap katanya. Sesuatu yang salah. Sangat salah.

“Kau… kau yang membawanya kemari?” tanyaku lirih, nyaris tak terdengar. Dinding-dinding apartemen terasa semakin menyempit, memenjarakanku bersama ketakutan yang semakin membesar.

Kai menoleh padaku, tatapannya kini lebih dalam, lebih intens. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang tak bisa kubaca. Dingin. Perhitungan. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menyentuhku, tapi untuk menyentuh pipiku, jari-jarinya hanya berjarak beberapa senti. Aku mundur selangkah secara naluriah.

“Lara,” bisiknya, suaranya kini terdengar seperti bisikan iblis yang menggoda. “Kadang, apa yang kita lihat hanyalah apa yang ingin kita lihat. Kebenaran bisa sangat… fleksibel.”

Ia kemudian berbalik, berjalan santai ke arah dapur. Aku hanya berdiri di sana, menyaksikan punggungnya menjauh, meninggalkan aku dalam keheningan yang pekat, dengan bunga merah itu di ambang jendela, dan pertanyaan yang semakin menggerogoti jiwa.

Memuat komentar...