
Menjemput Takdir Ilahi
Sinopsis
Aroma tanah basah pasca hujan menyusup melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa serta bau embun pagi yang dingin dan kesegaran yang menenangkan. Ini adalah pagi yang berbeda bagi Ardan Mahendra. Bukan lagi hiruk-pikuk kota yang menghempas indranya, melainkan keheningan pedesaan yang merayap ke dalam jiwanya. Dulu, ia adalah pemuda yang larut dalam pusaran kesenangan duniawi, ambisi seni yang menguasai pikirannya, dan penyesalan yang menggerogoti hati atas keluarga yang ia abaikan. Namun, sebuah kehilangan besar telah memaksanya merenung, membuka mata hati, dan memulai perjalanan hijrah yang panjang. Di sisi lain, di sebuah kota kecil yang tenang namun menyimpan luka tersembunyi, Laila Az-Zahra mengawali harinya dengan lantunan ayat suci. Hidupnya adalah potret perjuangan seorang wanita muda yang berupaya bangkit dari tragedi bencana alam yang menghancurkan segalanya, menolak terperangkap dalam godaan masa lalu yang kelam. Ia berjuang membangun kemandirian, menolak pernikahan demi menghindari luka lama, dan mencari cinta yang berlandaskan keimanan. Keduanya, Ardan dan Laila, terpisah oleh jarak dan perbedaan, namun disatukan oleh kerinduan yang sama: menemukan kedamaian spiritual dan membangun kehidupan yang diberkahi. Perjalanan mereka bukanlah tanpa rintangan. Ardan harus berhadapan dengan rasa bersalah yang mendalam, dilema antara ambisi pribadi dan kewajiban agama, serta tantangan membangun kembali integritasnya di mata masyarakat. Sementara Laila, terus berjuang melawan trauma masa lalu, stigma sosial, dan keraguan dalam menemukan pasangan hidup yang sejalan dengan prinsip barunya. Melalui serangkaian peristiwa yang tak terduga, yang diatur oleh campur tangan Ilahi, takdir mulai merajut benang pertemuan mereka. Sebuah pertemuan yang awalnya dipenuhi keraguan dan perbedaan, namun perlahan berubah menjadi jalinan kepercayaan, saling menguatkan, dan penemuan cinta sejati yang tumbuh dari keimanan, menuju sebuah pernikahan yang menjadi puncak dari hijrah dan penerimaan takdir.
Bisikan Tanah Pasca Hujan
Udara dingin menusuk kulit, membawa kelembapan yang membuat selimut terasa seperti pelukan pertama setelah sekian lama. Mataku mengerjap, membiarkan cahaya pagi yang malu-malu menembus celah tirai usang. Bukan lampu neon yang silau, bukan pula deru klakson yang memekakkan telinga. Ini adalah keheningan yang asing, diselingi suara jangkrik yang masih bertahan hingga mentari mulai beranjak naik dan kokok ayam yang bersahutan dari kejauhan. Aku menggeliat, merasakan pegal di sekujur tubuh yang seolah belum terbiasa dengan permukaan kasur tipis ini. Di luar, tanah yang baru saja diguyur hujan semalam mengeluarkan keharuman yang tak pernah kurasakan di hiruk-pikuk kota.
Ini adalah rumah Ibu. Desa tempatku tumbuh besar, namun yang lama tak kusentuh. Terlalu sibuk, terlalu tenggelam dalam ambisi dan gemerlap palsu yang dulu kupuja. Jantungku berdegup lebih kencang, bukan karena takut, melainkan semacam perasaan janggal yang sulit diurai. Kehilangan itu terasa seperti luka menganga di dada, luka yang tak pernah benar-benar sembuh, hanya tertutup lapisan kepalsuan yang sekarang terkoyak.
Aku bangkit, melangkah ke sudut ruangan. Di atas meja kayu yang sedikit reyot, tergeletak buku sketsa lama. Sampulnya lusuh, beberapa sudutnya terkelupas. Tanganku terulur, jemariku menelusuri guratan-guratan garis yang dulu kukira akan membawaku pada ketenaran. Potret wajah orang-orang asing, pemandangan kota yang penuh energi, semua itu terasa begitu jauh sekarang. Dulu, aku membuang waktu berjam-jam untuk hal-hal ini, mengabaikan panggilan telepon dari Ibu, menolak pulang saat lebaran dengan alasan proyek mendesak. Proyek yang kini terasa begitu tak berarti.
Aku membuka salah satu halaman. Sketsa seorang wanita tua, matanya menyimpan cerita yang dalam. Ibu. Entah kenapa, melihatnya seperti ini, dari sudut pandang yang berbeda, membuat dadaku sesak. Ia tidak pernah meminta apa-apa, hanya doa dan rindu yang tak terucap. Sementara aku? Aku memberinya kekecewaan dan jarak.
“Ardan, sudah bangun?” Suara lembut Ibu memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu, membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat. Wajahnya masih sama, kerutan di sudut matanya semakin dalam, namun sorot matanya tetap memancarkan kehangatan yang tak pernah berubah.
Aku berbalik, berusaha menyembunyikan wajahku yang mungkin terlihat muram. “Iya, Bu. Ini sudah pagi sekali ya?”
Ibu tersenyum tipis, meletakkan nampan di meja. “Pagi adalah waktu yang baik untuk bersyukur, Nak. Dulu kau suka bangun pagi untuk mengejar matahari terbit di sawah, ingat?”
Aku menelan ludah. Kenangan itu seperti pukulan ringan yang membangkitkan kesadaran. “Iya, Bu.” Hanya itu yang bisa kuucap.
Ibu duduk di tepi ranjang, menatapku dengan tatapan yang penuh pengertian. “Ibu tahu ini berat, Nak. Kehilangan itu memang ujian terberat. Tapi jangan biarkan penyesalan membuatmu semakin tenggelam. Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bangkit.”
Aku terdiam. Kata-kata Ibu sederhana, namun memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia tidak pernah menghakimi, hanya mengingatkan. Mengingatkan pada pondasi yang selama ini kulupakan.
“Makanlah dulu. Nanti Ibu siapkan air untuk mandi. Dan setelah itu, kita ke masjid, salat Dhuha bersama. Sudah lama sekali kau tidak melakukannya,” lanjut Ibu, tangannya mengusap lenganku lembut.
Aku mengangguk, rasa bersalah itu perlahan tergantikan oleh sesuatu yang lain. Sebuah keinginan untuk memulai. Untuk benar-benar memperbaiki segalanya, bukan hanya di mata manusia, tapi di hadapan Sang Pencipta. Aku memandang keluar jendela. Sawah yang hijau membentang luas, dihiasi embun pagi yang berkilauan seperti permata. Ini bukan hanya sekadar pemandangan, ini adalah panggilan. Panggilan untuk kembali pulang, pulang pada jati diri yang sesungguhnya.
“Baik, Bu. Saya akan ikut,” kataku, suara ku sedikit bergetar. Ini adalah langkah pertama. Sangat kecil, namun terasa sangat berarti. Seolah ada beban yang terangkat dari pundakku, digantikan oleh harapan yang baru tumbuh, setipis embun pagi yang akan segera menguap bersama teriknya mentari.
Beberapa jam kemudian, setelah bubur dan teh hangat menghangatkan perut, aku melangkah keluar rumah. Udara pagi kini terasa lebih segar. Bersama Ibu, aku berjalan menyusuri jalan setapak yang sedikit becek. Masjid tua berjarak tak terlalu jauh, menara mungilnya menjulang di antara pepohonan rindang. Beberapa warga desa sudah terlihat menuju arah yang sama, menyapa Ibu dengan ramah.
Di dalam masjid, suasana terasa khusyuk. Lantunan ayat suci terdengar syahdu. Aku duduk di shaf belakang, mencoba meniru gerakan Ibu dalam setiap takbir dan sujud. Sensasi itu kembali terasa, kedamaian yang berbeda. Bukan kedamaian yang didapat dari kesenangan sesaat, melainkan ketenangan batin yang meresap perlahan.
Setelah salat Dhuha selesai, dan kami sudah merapikan diri, aku berpamitan pada Ibu untuk berjalan-jalan sebentar. Aku ingin menyusuri tepian sawah, merasakan langsung tanah tempatku berpijak. Langkahku membawaku menjauh dari rumah, menuju pematang yang membelah hamparan hijau itu.
Saat aku tengah asyik memandangi padi yang bergoyang tertiup angin, sebuah suara memanggil. “Permisi, Pak. Maaf mengganggu. Apa Bapak tahu di mana jalan menuju pondok pesantren Al-Hidayah?”
Aku menoleh. Berdiri tak jauh dariku adalah seorang wanita muda, mengenakan hijab syar'i berwarna coklat muda, dan pakaian yang sederhana namun rapi. Wajahnya tampak sedikit bingung, tangannya memegang sebuah peta yang kusut. Tatapannya bertemu denganku, dan untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang membuatku terdiam.
“Oh, Al-Hidayah ya? Jauh juga dari sini,” jawabku, berusaha mengendalikan detak jantungku yang mulai tak beraturan. “Anda harus kembali ke jalan besar, lalu belok kiri di pertigaan dekat warung kopi itu. Nanti ada petunjuknya kok.”
Wanita itu tersenyum, senyum yang manis dan tulus. “Terima kasih banyak, Pak. Saya Laila.” Ia mengulurkan tangannya, namun kemudian ia menariknya kembali, seolah teringat sesuatu. “Maaf, saya lupa. Kita kan baru bertemu.”
Aku terkekeh pelan. “Ardan. Tidak apa-apa. Sudah biasa di sini.” Aku membalas senyumnya, merasakan kehangatan yang berbeda dari kehangatan di dalam masjid tadi. Sebuah kehangatan yang terasa... baru.
Ia mengangguk, lalu kembali menatap peta. “Baiklah, Pak Ardan. Sekali lagi terima kasih. Semoga hari Bapak menyenangkan.”
Aku memperhatikannya melangkah pergi, punggungnya yang tegak di bawah balutan hijab semakin menjauh. Sebuah pertemuan singkat, tanpa janji, tanpa agenda. Namun entah mengapa, perkenalan itu meninggalkan jejak yang berbeda. Seolah takdir baru saja mengetuk pintu, dengan lembut, di tengah hamparan persawahan yang baru saja tersentuh fajar.