TANPA PENA
Simfoni Retak Lirih

Simfoni Retak Lirih

106 Menit Baca
0 Suka
19 Bab

Sinopsis

Di balik gemerlap gedung pencakar langit Jakarta dan kemewahan apartemen penthouse yang dingin, terbentang jurang tak kasat mata antara dua dunia. Di satu sisi, Elara, seorang 'kurir logistik' yang berjuang setiap hari untuk sesuap nasi dan menanggung beban trauma masa lalu. Di sisi lain, keluarga Wijaya, penguasa konglomerat properti, yang dipenuhi intrik tak berkesudahan, ambisi buta, dan cinta yang terbungkus kepalsuan. Takdir mempertemukan Elara dengan Arion Wijaya, pewaris tunggal yang terbebani oleh ekspektasi keluarganya, dan merasakan kehampaan di tengah kekayaan melimpah. Elara, dengan ketulusan hati dan kekuatan internal yang tersembunyi, tanpa disadari menjadi percikan api yang membangkitkan rasa ingin tahu Arion, sekaligus mengusik ketenangan para musuh yang telah lama berkuasa di lingkaran keluarga Wijaya. Kehadirannya di tengah-tengah mereka bukan sekadar kebetulan, melainkan simfoni retak yang mulai mengalunkan nada balas dendam dan penemuan jati diri, terpicu oleh pengkhianatan masa lalu yang melibatkan sosok 'adik angkat' yang pernah sangat dipercayainya. Perjalanan Elara bukanlah sekadar perjuangan meraih kekayaan atau status, melainkan penemuan kembali kekuatan dalam dirinya yang terpendam, sebuah transformasi dari seseorang yang dianggap tak berarti menjadi sosok yang mampu mengguncang fondasi kekuasaan. Diwarnai dengan dilema moral, persaingan cinta yang kejam, serta ancaman dari lingkungan kerja yang toksik, Elara harus belajar membedakan mana cinta sejati dan mana jebakan ambisi. Kisah ini adalah tentang pengorbanan yang tak terhitung, tentang bagaimana hati yang tulus dapat menemukan kekuatan untuk memperbaiki retakan dalam simfoni kehidupan, dan pada akhirnya, meraih kebahagiaan yang sesungguhnya.

Bab 1
published

Antara Lorong Sepi dan Gedung Emas

Asap knalpot menyengat, melapisi visor helm yang retak, menambah tebal kabut di depan mata Elara. Pukul tujuh pagi di Jalan Sudirman, dan neraka Jakarta telah membuka gerbangnya. Klakson bersahutan memekakkan telinga, teriakan teriakan para pedagang kaki lima bercampur baur dengan dengungan mesin-mesin yang merayap tanpa henti. Elara menarik gas, memacu motor bebeknya yang ringkih menyalip sebuah truk besar yang mengeluarkan gumpalan hitam pekat. Jantungnya berdebar, bukan hanya karena adrenalin mengejar waktu, tapi juga karena napasnya yang tercekat oleh polusi yang semakin menggila. Ia harus tiba sebelum jam delapan, pengiriman paket penting ke salah satu menara tertinggi di kawasan ini.

Tangannya yang kapalan mencengkeram setang, buku-buku jarinya memutih. Setiap kilometer yang ditempuh adalah perjuangan. Perjuangan melawan waktu, melawan kekacauan, dan yang terpenting, melawan ingatan yang terus saja membisik. Wajahnya yang keras menegang saat ia melewati sebuah kafe dengan jendela kaca besar. Di dalamnya, sepasang kekasih tertawa riang sambil menyeruput kopi. Pemandangan yang terasa begitu asing, begitu jauh dari dunianya. Dunia yang pernah ia miliki, sebelum Bima datang dan merenggut segalanya.

Sebuah tikungan tajam, seorang pengendara motor lain menyalip terlalu dekat. Elara mengerem mendadak, motornya oleng. Ia berhasil mengendalikan, namun tawa sekilas dari pengendara lain itu menusuknya. Sindiran. Selalu ada yang merendahkan, selalu ada yang melihatnya sebagai sampah masyarakat. Ia menelan ludah, rasa pahit menjalar di lidahnya. Kemarahan yang lama terpendam mulai mendidih di bawah permukaan yang tenang. Ia bersumpah, suatu hari nanti, ia tidak akan lagi menjadi objek hinaan. Ia akan membalas.

Di sisi lain kota, di dalam kemegahan menara Wijaya Corp, Arion Wijaya menatap kosong ke arah kota dari jendela lantai lima puluh. Pesta semalam masih membekas di benaknya; senyum-senyum palsu, basa-basi kosong, dan tatapan menilai dari setiap anggota keluarga besarnya. Ia merasa seperti boneka yang dipamerkan, sebuah aset yang nilainya diukur dari seberapa banyak ia bisa menaikkan angka di laporan keuangan perusahaan. Sarapannya yang mewah – salmon asap dan telur benedict – terasa hambar di lidahnya. Pagi ini, bahkan mentari yang seharusnya membawa kehangatan pun terasa dingin menembus kaca.

“Arion, ada yang ingin bertemu denganmu pagi ini. Kurir dari paket yang kemarin malam, katanya ada sesuatu yang harus diserahkan langsung.” Suara asisten pribadinya, Rendra, terdengar melalui interkom. Arion mengernyit. Paket? Ia tidak ingat memesan sesuatu yang mendesak pagi-pagi begini. Namun, kebosanan yang melingkupinya membuatnya mengangguk.

“Baiklah, suruh dia naik ke sini. Lantai lima puluh, ruang pribadiku.”

Beberapa menit kemudian, pintu ruang pribadinya terbuka. Elara berdiri di sana, napasnya masih terengah-engah, helmnya di tangan. Wajahnya sedikit berkeringat, pakaiannya sedikit kusut. Di tangannya, sebuah amplop cokelat sederhana. Ia tampak seperti sosok yang tersesat di lautan kemewahan ini, kontras yang mencolok dengan arsitektur modern dan furnitur mahal di sekelilingnya. Mata Arion tertuju pada mata Elara. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang sulit diartikan – keteguhan, kelelahan, dan kilatan yang tak bisa ia tebak. Elara menatap Arion, terkejut oleh penampilan pria itu. Pria dengan aura yang begitu berbeda dari orang-orang yang biasa ia temui. Ketampanannya terpampang jelas, namun matanya memancarkan kesedihan yang tersembunyi.

“Permisi, Pak. Ini paketnya,” suara Elara sedikit bergetar, ia mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.

Arion mengambil amplop itu, jari-jemarinya menyentuh jemari Elara sekilas. Sebuah sengatan listrik halus terasa. Ia menarik tangannya kembali, matanya masih terpaku pada wajah Elara yang terpoles debu jalanan. “Terima kasih. Apa ada masalah?” Ia bertanya, nadanya lebih ramah dari yang biasa ia gunakan.

Elara menggeleng. “Tidak, Pak. Hanya saja… ini adalah pesanan khusus, jadi saya harus menyerahkannya langsung. Atas nama…” ia melirik secarik kertas di tangannya. “Atas nama Tuan Bima.”

Nama itu membuat Arion sedikit terkejut. Bima? Sepupu jauhnya yang selalu berusaha mencari perhatian. Arion tidak begitu mengenal Bima, namun ia tahu pria itu selalu mencoba memanfaatkan kedekatannya dengan keluarga Wijaya untuk keuntungan pribadi. “Bima? Baik, terima kasih.” Arion membuka amplop itu. Di dalamnya, hanya secarik kertas bertuliskan alamat dan waktu sebuah pertemuan rahasia. Tujuannya tidak jelas, namun cara Bima mengaturnya, dengan menggunakan kurir yang entah dari mana, terasa mencurigakan.

Sementara itu, di sebuah sudut tersembunyi di sebuah kafe kumuh di bilangan Jakarta Pusat, Bima sedang berhadapan dengan seorang pria berwajah keras. Udara di sekeliling mereka terasa berat, penuh dengan ketegangan yang tak terucap. “Kau yakin ini akan berhasil?” Bima bertanya, senyumnya tersungging. Di tangannya, terbungkus plastik, sebuah botol kecil berisi cairan berwarna gelap. Sebuah ‘obat perangsang’ yang dijanjikan akan membantunya menyingkirkan siapa saja yang menghalanginya.

Pria berwajah keras itu terkekeh. “Sangat yakin. Setelah ini, Arion akan menjadi boneka yang bisa kau kendalikan. Dan kau, Bima, akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Jangan lupakan janjimu. Sebagian dari apa yang kau dapatkan.” Pria itu menepuk bahu Bima, tatapannya dingin dan penuh perhitungan. Di sudut lain kafe, jauh dari pandangan mereka, Ibu Elina Wijaya sedang memantau pergerakan Arion melalui rekaman CCTV yang dipasang secara diam-diam. Ia melihat Arion menerima paket dari Elara. Senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya. Elara, si anak malang itu, kini berada dalam genggamannya, tanpa ia sadari.

“Elara,” bisiknya pada diri sendiri, matanya menyipit. “Kau akan menjadi bidak yang menarik.”

Memuat komentar...