TANPA PENA
Bayangan dan Benang Merah

Bayangan dan Benang Merah

60 Menit Baca
0 Suka
21 Bab

Sinopsis

Sejak kecil, Aruna selalu melihat dirinya sebagai sekadar bayangan, sosok yang hidup dalam ketidakpastian finansial dan bayang-bayang kekecewaan orang tuanya. Keinginannya adalah membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar apa yang terucap dari bibir mereka yang sering meremehkannya, bahwa hidupnya bisa dianyam dengan benang-benang keberhasilan yang gemilang, bukan sekadar menopang eksistensi. Terlahir dari keluarga sederhana di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, Aruna adalah saksi bisu perjuangan ibunya yang tak kenal lelah berdagang kue keliling, dan ayahnya yang selalu mengeluh tentang nasib buruk yang menimpanya. Misi Aruna untuk meraih pendidikan tinggi di ibu kota, tepatnya di sebuah universitas bergengsi yang terkenal dengan program beasiswanya yang ketat, adalah wujud bakti terbesarnya. Ia memikul beban harapan yang terbungkus dalam doa-doa ibunya dan kritik tertahan ayahnya. Di tengah belantara metropolitan Jakarta yang asing, Aruna harus menavigasi labirin bahasa, budaya, dan prasangka yang menghantuinya. Ia berjuang melawan keraguan diri yang menggerogoti, rasa kesepian yang menusuk saat malam tiba, dan pertentangan batin antara mimpi pribadinya untuk menjadi seorang peneliti lingkungan dan tuntutan praktis untuk bertahan hidup di kota besar. Kesuksesan bagi Aruna bukanlah sekadar akademis, melainkan perwujudan nyata dari filosofi "Man Jadda Wajada". Ia harus membuktikan bahwa ketekunan, ditambah dengan keteguhan spiritual dan keyakinan pada kekuatan tak terlihat, dapat mengukir takdir di jalur yang paling tak terduga sekalipun. Melalui kerja keras yang melebihi batas, adaptasi budaya yang gigih, dan hubungan yang terjalin dengan komunitas perantau lain, Aruna perlahan menemukan bahwa benang-benang takdirnya ternyata jauh lebih kuat dan berwarna daripada bayangan yang pernah mengelilinginya. Kisahnya adalah pengingat bahwa harapan bisa tumbuh di tanah yang paling gersang, dan kemenangan sejati terukir dalam perjalanan diri.

Bab 1
published

Bayang-Bayang Desa Sukamaju

Embun pagi masih menempel dingin di helai daun pisang yang menjuntai di pekarangan rumah. Tanganku bergerak lincah, memilah tumpukan singkong parut yang semalam sudah kusiapkan. Ibu Sarmini, di sampingku, tangannya lebih cepat, lebih cekatan. Jemarinya yang keriput tapi kuat itu membentuk adonan kue-kue tradisional dengan presisi yang hanya bisa dikuasai oleh bertahun-tahun pengalaman. Sebuah senandung lirih keluar dari bibirnya, lagu Jawa kuno yang selalu membuatku merasa aman sekaligus melankolis.

“Aruna, jangan melamun,” tegurnya lembut, tanpa mengalihkan pandangan dari adonan getuk yang sedang ia tata rapi di nampan bambu. “Nanti kuenya gosong.”

Aku menarik napas perlahan, bukan napas panjang yang klise, melainkan embusan pelan, mencoba menghalau pikiran yang berkecamuk sejak subuh. Udara segar desa Sukamaju menusuk hidung, bercampur dengan uap kukusan dari dapur kecil kami. Setiap pagi adalah ritual yang sama: membangunkan diri dengan alarm alam, suara ayam berkokok dan jangkrik yang mulai diam, lalu berjibaku dengan bahan-bahan pangan, mengubahnya menjadi rezeki yang tak seberapa.

“Iya, Bu,” jawabku, mencoba memusatkan perhatian pada pisang goreng yang sudah mulai keemasan di penggorengan. Minyaknya mendesis pelan, mengeluarkan gelembung-gelembung kecil yang pecah di permukaan.

Ibu Sarmini memanggul nampan besar berisi aneka kue. Kain jariknya bergoyang mengikuti langkah kakinya yang mantap. Meski tubuhnya tak lagi muda, semangatnya seolah tak pernah lekang. Ia keluar, menyusuri jalan setapak berkerikil, menuju pasar desa yang ramai. Aku mengikutinya dengan pandangan sampai punggungnya menghilang di balik deretan pohon jambu.

Kemudian, suara berat dari dalam rumah memecah kesunyian. “Sarmini mana? Sudah berangkat lagi?” Suara Ayah, Pak Agus, serak khas bangun tidur. Aku tahu, pertanyaan itu bukan pertanyaan sesungguhnya, melainkan semacam keluhan pembuka hari.

“Iya, Yah. Ibu sudah ke pasar,” sahutku, masuk ke dalam rumah. Ayah sudah duduk di lincak bambu, menyeruput kopi hitamnya. Matanya menatap kosong ke luar jendela, ke sawah yang membentang hijau. Guratan lelah terpahat jelas di wajahnya yang kuyu. Bahunya yang dulu tegap kini sedikit membungkuk, seolah memikul beban tak terlihat yang tak pernah usai.

“Begini terus… kapan kita bisa keluar dari putaran ini, Na?” keluhnya, lebih kepada diri sendiri daripada padaku. “Lihat tetangga sebelah, anak mereka sudah jadi pegawai kantoran di kota. Kita?”

Kata ‘kita’ itu seolah menunjuk tepat ke arahku, bayangan yang berdiri di ambang pintu dapur, merasakan tusukan halus dari kekecewaan yang tak terucap. Ayah selalu begitu. Tidak pernah langsung mengkritik, tapi setiap keluhannya adalah cambuk yang memecut harapan-harapanku. Ia ingin melihatku 'jadi orang', namun tak pernah benar-benar tahu bagaimana cara mendukungku selain dengan omelan dan perbandingan yang membebani.

Aku hanya mengangguk, mencuci piring-piring bekas sarapan dengan gerakan otomatis. Aku tak punya jawaban untuk pertanyaan Ayah. Yang kumiliki hanya janji pada diriku sendiri: bahwa aku bukan sekadar bayangan yang hidup dalam ketidakpastian. Aku akan menganyam benang-benang keberhasilan, bukan menopang eksistensi seperti yang Ayah selalu takuti.

Setelah memastikan semua pekerjaan rumah beres, aku melangkah keluar, mencari ketenangan di bawah pohon mangga tua di belakang rumah. Pohon itu, saksi bisu tumbuh kembangku, selalu memberiku ruang untuk bernapas. Daun-daunnya yang lebat menaungi, menciptakan area teduh yang sejuk. Aku menyandarkan punggung ke batangnya yang kasar, merasakan tekstur kulit kayu yang berlekuk-lekuk di telapak tanganku.

Dari saku rokku, kuambil secarik kertas yang sudah sedikit lusuh, kupegang erat-erat. Itu adalah salinan pengumuman beasiswa penuh untuk program sarjana di Universitas Bangsa, Jakarta. Sebuah universitas bergengsi yang terkenal dengan ketatnya seleksi. Mataku menelusuri baris-baris huruf itu lagi, meski sudah hafal di luar kepala. Namaku tertera di sana, di antara puluhan nama lainnya. Sebuah keajaiban, pikirku, dari ribuan pendaftar di seluruh Indonesia.

Jakarta. Ibu Kota. Kata-kata itu berputar di benakku, terasa asing dan menggetarkan. Aku membayangkan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, hiruk pikuk jalanan yang tak pernah tidur, dan lautan manusia dengan berbagai bahasa dan budaya. Aku, gadis desa yang baru pertama kali akan merantau, harus menavigasi semua itu. Lidahku terasa kaku memikirkan bagaimana aku harus beradaptasi dengan dialek dan gaya bicara orang kota. Kekhawatiran itu perlahan merayap, menindih rasa bangga dan harapan yang seharusnya lebih besar.

Dapatkah aku bertahan di sana? Mampukah aku bersaing dengan mahasiswa lain yang mungkin tumbuh besar dengan segala fasilitas, jauh dari keterbatasan yang selalu melingkupiku? Keraguan itu menggerogoti, membuat perutku terasa melilit. Aku tahu, impianku untuk menjadi peneliti lingkungan, untuk bisa memberikan sumbangsih nyata bagi bumi ini, terasa begitu jauh dan egois di tengah tuntutan untuk sekadar ‘bertahan hidup’ di kota besar. Beban harapan Ibu, yang selalu terbungkus dalam doa-doa tulusnya, dan kritik tertahan Ayah, semuanya seperti benang-benang tak kasat mata yang menjeratku.

Aku menutup mata, menghela napas dalam. Bisikan angin berdesir melewati dedaunan mangga, seolah membisikkan kekuatan. Aku mengingat kata-kata Ibu, ‘Man Jadda Wajada.’ Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Itu bukan hanya pepatah, tapi sebuah keyakinan yang tertanam dalam setiap serat dagingku. Kesuksesan, bagiku, bukan hanya tentang gelar sarjana atau pekerjaan bergengsi. Itu adalah tentang membuktikan bahwa tekad, kegigihan, dan keyakinan pada kekuatan tak terlihat bisa mengukir takdir. Bahwa aku bisa lebih dari sekadar bayangan yang orang lain lihat.

Jemariku meremas kertas pengumuman itu, lalu melepaskannya perlahan. Kerutan di kertas itu seperti peta perjalanan yang akan kuhadapi. Perjalanan panjang dan penuh liku, tapi aku tak akan mundur. Aku membuka mata. Cahaya matahari menembus celah-celah daun, memecah bayangan menjadi titik-titik terang. Sebuah janji terpatri dalam benakku. Aku akan menempuh jalan itu, menganyam benang-benang takdirku sendiri, menjadi lebih kuat dan lebih berwarna dari bayangan yang pernah mengelilingiku. Jakarta menunggu, dan Aruna Prameswari siap membuktikan diri.

Memuat komentar...