TANPA PENA
Titik Konvergensi

Titik Konvergensi

163 Menit Baca
0 Suka
15 Bab

Sinopsis

Bagaimana jika seorang psikolog forensik yang dingin dan rasional, yang hidupnya didedikasikan untuk mengungkap kebenaran di balik pikiran kriminal, tiba-tiba harus berhadapan dengan seorang jurnalis idealis namun keras kepala, yang obsesi lamanya terhadap sebuah kasus dingin ternyata merupakan kunci takdir bagi kasus pembunuhan paling rumit yang sedang ia tangani? "Titik Konvergensi" menelusuri alur takdir yang tak terduga saat dua jiwa yang terpisah oleh profesionalisme dan trauma, terpaksa bersatu demi sebuah kebenaran yang melampaui batas-batas kasus. Kisah ini bukan hanya tentang mengungkap kejahatan, melainkan juga tentang menemukan resonansi masa lalu yang mengikat mereka, memaksa keduanya untuk menghadapi luka yang terpendam, dan pada akhirnya, menemukan sebuah jembatan antara logika dan hati.

Bab 1
published

Pengungkapan Dimulai: Sebuah Simfoni Kematian

Dinginnya udara pagi bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari embusan angin yang menusuk tulang, membawa serta kelembaban tanah basah dan desingan sirene yang samar. Adara Larasati, dalam balutan blazer abu-abu yang rapi, melangkah melewati pita kuning polisi tanpa sedikitpun keraguan. Matanya yang tajam langsung memindai sekeliling, mengabaikan kerumunan media dan warga yang memanjang di balik batas. Baginya, setiap detail di tempat kejadian perkara (TKP) adalah kepingan puzzle, dan emosi hanyalah pengganggu.

“Adara, kau datang,” sapa Brigadir Rinjani, suaranya sedikit teredam oleh masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Rinjani mengibaskan tangan, menunjuk ke arah sudut ruangan yang lebih sepi. “Pemandangan yang… artistik.”

Adara tidak menjawab. Pandangannya sudah terkunci pada titik fokus. Di tengah ruang tamu mewah yang berantakan, terbaring tubuh seorang pria paruh baya, Bramantyo—pemilik jaringan properti raksasa—dengan posisi yang tak wajar. Tubuhnya membentuk huruf ‘V’ yang sempurna, tangan terentang seolah merangkul kehampaan, dan kepalanya miring ke kiri. Darah mengering di sekelilingnya, membentuk pola simetris yang aneh di atas karpet Persia. Bukan sabetan pisau atau tembakan biasa. Ini adalah sebuah pernyataan.

“Saksi pertama adalah asisten rumah tangga. Menemukan korban jam enam pagi saat hendak menyiapkan sarapan,” Rinjani melanjutkan, seolah menjelaskan kepada dirinya sendiri. “Tidak ada tanda-tanda perampokan. Barang berharga utuh. Pintu dan jendela terkunci dari dalam. Jelas ini bukan maling biasa.”

Adara mendekat, menyilangkan tangannya di dada. Matanya bergerak cepat, dari setiap helai rambut korban hingga lipatan kain di bajunya. Tidak ada jejak perjuangan yang berarti. Korban tampak pasrah, atau mungkin tak sempat melawan. Sisi analitis otaknya sudah bekerja, menyusun profil psikologis pelaku dari detail-detail yang nyaris tak terlihat. Posisi tubuh itu, pola darah itu… ada pesan tersembunyi. Pelaku ingin korban ditemukan dalam kondisi seperti itu. Sebuah ritual? Sebuah simbol?

Ia membungkuk, menyorot area sekitar kepala Bramantyo dengan senter kecilnya. Sebuah ukiran kecil di dahi korban, nyaris tak terlihat, membuat napasnya tertahan sesaat. Bukan luka baru, melainkan sebuah tato lama yang diukir ulang dengan benda tajam. Simbol itu… ia pernah melihatnya. Tapi di mana?

“Skenario pembunuhan yang terencana, Rinjani,” ujar Adara, tanpa menoleh. Ujung jarinya bergerak menyentuh dagunya, kebiasaannya saat berpikir keras. “Ini bukan tentang siapa yang mati, tapi mengapa ia harus mati dengan cara ini. Pelaku bermain-main dengan psikologi. Membuat pernyataan.”

***

Di sudut kota yang lain, di kantor redaksi 'Berita Sudut Kota' yang sempit dan berantakan, Langit Bhaskara menjejakkan sepatu botnya di atas meja. Sebuah tablet tergeletak di pangkuannya, menampilkan berita utama pagi ini: “Pengusaha Properti Bramantyo Ditemukan Tewas Secara Misterius.” Jemarinya mengusap bekas luka kecil di alis kanannya, sebuah kebiasaan lama saat perasaannya campur aduk.

Kasus Bramantyo. Nama itu terasa berat di lidahnya. Ada sesuatu yang janggal. Ada resonansi. Bukan hanya karena kekejaman modus operandinya, tetapi karena… simbol yang disebutkan di siaran berita singkat tadi. Ukiran di dahi. Ini terlalu mirip dengan kasus yang menghantuinya bertahun-tahun, kasus yang merenggut kedua orang tuanya.

Langit beranjak, melangkahi tumpukan koran dan buku arsip yang nyaris menutupi lantai. Matanya menyapu deretan berkas di rak dinding, ratusan lembar kertas kuning yang berisi fragmen-fragmen kehidupan lama. Kasus dingin. Kasus yang dianggap kepolisian sudah tertutup rapat, namun baginya masih menganga lebar.

“Bramantyo…” bisiknya lagi, meraih jaket kulit usangnya dari gantungan. Wajahnya yang biasanya dipenuhi semangat, kini mengeras. Ada campuran tekad dan kesedihan yang mendalam di sana. Dia tidak bisa membiarkan ini. Tidak bisa pura-pura bahwa ini hanyalah berita lain yang perlu ia liput.

Ia meraih kamera usang yang setia menemaninya. Bukan hanya sekadar liputan. Ini adalah panggilan takdir. Ini adalah kesempatan untuk menarik benang merah yang hilang, untuk mencari jawaban yang selama ini terkubur. Ia harus ke TKP. Sekarang juga.

***

Adara masih berjongkok, mengamati pola serat karpet di bawah tubuh korban, mencari anomali yang mungkin terlewat oleh mata telanjang. Ruangan itu telah dipenuhi cahaya lampu forensik, membuat setiap sudut tampak telanjang. Udara terasa tipis, dipenuhi wacana teknis dari para penyidik dan suara kamera yang sesekali berkedip.

“Pola ukiran itu, Adara, apa maknanya menurutmu?” Rinjani bertanya, mendekat. “Penyidik lain sedang mencoba melacak tato yang serupa, tapi sejauh ini nihil.”

“Pola itu adalah kunci. Bentuknya… seperti simpul yang melilit,” Adara menjawab pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Ini menunjukkan obsesi dan kepemilikan. Pelaku ingin korban menjadi bagian dari sesuatu, atau mungkin membayar utang yang tak terlunasi.” Ia mengalihkan pandangannya ke jendela besar yang menghadap kota. Tidak ada indikasi pembobolan. Pelaku mungkin dikenal korban, atau setidaknya memiliki akses mudah.

Tiba-tiba, keributan kecil di ambang pintu menarik perhatian Adara. Ia melirik, mengerutkan kening. Seorang pria dengan rambut ikal berantakan dan jaket kulit usang sedang berdebat sengit dengan seorang petugas polisi yang menjaga garis batas. Wajahnya keras, matanya memancarkan determinasi yang mengganggu ketenangan tempat itu. Terlalu emosional, pikir Adara, merasa terganggu oleh intrusi yang jelas-jelas tidak profesional itu.

“Maaf, Pak. Anda tidak bisa masuk. Ini TKP tertutup,” petugas itu berkata, mencoba menahan pria tersebut.

“Saya jurnalis dari Berita Sudut Kota. Saya punya hak untuk meliput!” desis pria itu, berusaha menerobos. Tangannya sudah sigap memegang kamera.

Rinjani mendesah. “Ah, jurnalis independen itu lagi. Langit Bhaskara. Selalu merepotkan.”

Adara berdiri tegak. Ia tidak suka ada yang mengganggu konsentrasinya. Apalagi seorang jurnalis yang jelas-jelas berniat mencari sensasi. Dengan langkah mantap, ia menghampiri keributan itu, auranya yang dingin seolah menciptakan batas tak terlihat di sekelilingnya.

“Petugas, mohon amankan area ini lebih ketat,” suara Adara memecah ketegangan, dingin dan penuh otoritas. Matanya yang tajam menatap langsung ke arah Langit Bhaskara. “TKP ini adalah area sakral bagi kebenaran. Bukan panggung untuk drama pribadi Anda.”

Langit menoleh, tatapannya yang membara bertemu dengan mata Adara yang membeku. Ia melihat seorang wanita berwajah tanpa emosi, mengenakan seragam keangkuhan profesionalisme yang tebal. Sekejap, Langit merasa ada yang tak beres. Wanita ini, dengan segala logikanya, mungkin akan melewatkan apa yang benar-benar penting. Matanya tertuju pada ukiran samar di dahi korban, yang dapat ia lihat dari tempatnya. Simbol itu. Benar saja.

“Dan Anda,” sahut Langit, suaranya dipenuhi tantangan, “jelas-jelas seorang teknokrat yang buta hati. Terlalu fokus pada teori, sampai lupa bahwa di sini ada nyawa yang hilang dan keluarga yang berduka. Atau mungkin, ada kebenaran lain yang sengaja disembunyikan.”

Kata-kata Langit menusuk Adara, membakar lapisan es yang selalu ia jaga. Bukan karena ia merasa terhina, melainkan karena ada kebenaran pahit dalam ucapannya yang menyentil luka lama. Tapi ia menolaknya. Ia menatap Langit dengan tatapan setajam pisau. Ini bukan tentang perasaan. Ini tentang keadilan yang bersih, yang hanya bisa ditemukan melalui logika murni.

Rinjani maju selangkah, merasakan ketegangan yang menguar di antara keduanya. “Baiklah, baiklah. Bapak jurnalis, mohon mundur. Ini area penyelidikan serius.”

Langit mendengus, namun tidak mundur. Matanya masih terpaku pada Adara, dan sebaliknya. Dua dunia yang berbeda, bertemu di tengah kekacauan, masing-masing dengan kebenaran yang diyakini. Titik konvergensi pertama mereka, bukan dalam damai, melainkan dalam ketegangan yang menjanjikan badai.

Memuat komentar...