TANPA PENA
Cinta Dalam Do'a

Cinta Dalam Do'a

42 Menit Baca
1 Suka
1 Bab

Sinopsis

Dinginnya ubin marmer di koridor Gedung Dakwah, yang sesekali merayapi telapak kakiku yang tertutup kaus kaki tipis, adalah satu-satunya sensasi fisik yang nyata di hari pertamaku sebagai mahasiswa baru UMMI Sukabumi. Udara sejuk dari pendingin ruangan yang berhembus samar beradu dengan panasnya terik matahari di luar, menciptakan kontras tajam yang sama seperti perasaanku: cemas, namun dipenuhi secuil harapan. Di antara keramaian wajah-wajah baru dan bisik-bisik perkenalan, ada satu kehadiran yang membeku waktu, memecah fokus indraku dari segala hiruk pikuk. Itu adalah dia. Seorang mahasiswi dengan cadar yang menutupi separuh wajahnya, namun matanya memancarkan keteduhan dan keanggunan yang tak terbantahkan. Pakaian gamisnya yang longgar dan syar'i bergerak lembut mengikuti langkahnya yang tenang, seperti bisikan kain sutra di pagi hari. Sejak pandangan pertama itu, duniaku yang sebelumnya hanya berpusat pada layar monitor dan sketsa desain, kini memiliki titik fokus baru yang tak terduga. Namun, bagi Arif Hidayat, seorang introvert akut yang selalu berjuang melawan rasa tidak aman dan ketakutan akan penolakan, sosok Imani Zahira adalah misteri yang memikat sekaligus menakutkan, sebuah tantangan yang membangkitkan badai batin yang selama ini terpendam. Perjalanan Arif untuk mendekati Imani bukanlah tentang menaklukkan, melainkan tentang menaklukkan dirinya sendiri. Setiap interaksi, sekecil apapun, terasa seperti langkah berani yang dipenuhi keraguan. Ketakutan akan kesalahpahaman, kecanggungan yang tak terhindarkan, dan pergulatan untuk mempercayai niat baik orang lain menjadi medan perangnya. Akankah ia mampu meruntuhkan dinding-dinding pertahanan yang dibangunnya sendiri selama bertahun-tahun, ataukah rasa tidak aman akan selamanya menjadi jeda tak berkesudahan antara dirinya dan cinta yang mungkin?

Bab 1
published

Jeda Pertama

Suara gemuruh mahasiswa baru yang memantul dari dinding aula Gedung Dakwah, UMMI Sukabumi, terasa seperti gelombang pasang yang siap menelan habis. Udara di sekitarku dipenuhi bisik-bisik perkenalan yang riuh, tawa renyah, dan seruan antusiasme yang asing bagiku. Aku, Arif Hidayat, merasa diri ini begitu kecil di tengahnya. Punggungku sedikit membungkuk, kebiasaan lama yang muncul setiap kali aku berusaha bersembunyi dari tatapan mata orang lain. Rasanya aku ingin menyatu saja dengan sandaran kursi plastik berwarna biru yang kududuki; permukaannya yang kaku dan sejuk menusuk tipis melalui kemeja katunku, menenangkan sekaligus mengingatkanku pada ketidaknyamanan posisi ini.

Telapak tanganku terasa lembap, lengket oleh keringat dingin yang tak henti-hentinya. Napasku tertahan, setiap hembusan terasa berat seolah paru-paruku sedang berjuang melawan tekanan tak kasat mata. Ini reaksi otomatis tubuhku, alarm internal yang selalu berbunyi nyaring setiap kali aku berada di tengah keramaian. Aku benci keramaian. Aku benci semua mata yang, aku yakin, sedang mengamatiku, menilai setiap gerak-gerikku, dan mungkin, menertawakan kekikukanku.

Aku mengalihkan pandanganku dari sepatu kanvasku yang usang, membiarkannya berkelana secara acak, berharap tidak bertemu tatap dengan siapapun. Aku hanya ingin sesi perkenalan ini cepat selesai. Biarkan aku kembali ke dunia monitor dan sketsa desain, tempat garis dan warna lebih jujur daripada sorot mata manusia. Namun, di tengah puluhan wajah yang membaur menjadi satu kabut buram, pandanganku mendadak tersangkut. Melalui celah sempit di antara kerumunan kepala yang bergerak, aku melihatnya.

Seorang mahasiswi. Ia mengenakan gamis berwarna pastel yang lembut, kainnya jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya yang tak terlihat jelas. Sebuah cadar menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan hidung dan bibirnya, namun matanya yang teduh menjadi satu-satunya jendela yang terbuka. Mata itu, dengan bingkai yang sempurna, memancarkan ketenangan yang hampir tidak nyata di tengah hiruk pikuk ini. Langkahnya teratur, perlahan, seolah tak terburu-buru, tak terpengaruh oleh gelombang energi di sekelilingnya. Gerakannya begitu halus, hampir seperti bisikan kain sutra yang melayang pelan.

Tiba-tiba, suara-suara di sekitarku lenyap. Gemuruh aula meredup menjadi senyap yang memekakkan. Waktu seolah membeku. Aku hanya bisa melihat dia, bergerak dalam gerakan lambat yang elegan, seperti adegan di sebuah film yang hanya diputar untukku. Jantungku berdesir, sebuah jeda tiba-tiba terjadi dalam ritme kecemasanku yang berantakan. Rasa dingin di telapak tanganku menghilang, digantikan oleh kehangatan aneh yang merayapi sampai ke ujung jemari.

Panik. Seketika panik menyergap, menusukku kembali ke realitas. 'Apakah dia melihatku menatap?' Pikiran itu berkelebat dengan kecepatan cahaya, memicu rentetan reaksi berlebihan di kepalaku. Aku tidak tahu mengapa, tapi sepasang mata teduh itu membuatku merasa telanjang, seolah semua ketidaknyamanan dan kegelisahanku terpampang jelas. Buru-buru aku menundukkan pandanganku, kembali ke sepatu usang yang kini terasa seperti satu-satunya jangkar. Pipi kiriku terasa panas, menjalar ke telinga. Aku yakin, bahkan dari jarak sejauh ini, cadar itu tidak akan mampu menyembunyikan semburat merah di wajahku. Bodoh sekali, Arif. Kenapa harus menatap seperti itu?

Aku mencoba menarik napas, tapi yang kudapatkan hanya udara hambar yang terasa menyesakkan. Ini bukan sekadar kecanggungan biasa. Ini adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih aneh. Sosok itu, yang hanya kulihat sepersekian detik, berhasil merobohkan dinding pertahananku yang sudah bertahun-tahun kubangun dengan susah payah. Matanya. Aku bisa bersumpah bahwa ada semacam kekuatan yang memancar dari sana, kekuatan yang tidak menuntut, tidak menghakimi, hanya... ada. Atau mungkin itu hanya imajinasiku, rekayasa pikiran overthinker-ku yang tak pernah istirahat.

Seharusnya aku kembali fokus pada pembawa acara yang sedang berbicara tentang kurikulum PAI atau DKV. Seharusnya aku mendengarkan, mencatat. Tapi kepalaku berputar, terus-menerus memutar ulang adegan singkat itu. Gamis pastel, cadar, mata teduh. Aku bahkan tidak tahu ia mengambil jurusan apa. Pasti PAI, pikirku. Pakaian syar'i-nya sudah cukup menjadi indikasi. Tapi apa peduliku? Aku di sini untuk belajar, untuk menyelesaikan kuliah, dan kemudian menghilang ke balik layar monitor yang sudah jadi duniaku.

Aku meremas ujung kemejaku, mencoba menenangkan detak jantung yang masih saja berpacu. Keringat dingin kembali muncul di telapak tanganku, kali ini disertai sensasi geli di perut. Ini tidak baik. Sama sekali tidak baik. Selama ini, interaksiku dengan orang lain sudah cukup sulit. Sekarang, ada kehadiran baru yang entah bagaimana berhasil membuat kekacauan lebih besar di dalam diriku. Sebuah misteri. Misteri yang memikat sekaligus menakutkan, membangkitkan badai batin yang selama ini kuanggap sudah terkubur dalam-dalam.

Aku melirik sedikit ke samping, mencari keberadaan Rizky. Ia pasti sedang sibuk mengobrol atau tertawa dengan seseorang. Rizky, sahabatku sejak SMA, adalah kebalikan total dariku. Ekstrover, ceria, dan dengan mudah bergaul. Aku berharap ia tidak menyadari betapa kacau diriku saat ini. Aku hanya ingin menghilang. Ingin agar semua orang lupa bahwa aku ada di sini. Tapi di tengah keinginan kuat untuk tak terlihat itu, ada bisikan lain, lirih namun gigih, yang bertanya: siapa dia? Dan mengapa dia memiliki efek sebesar ini padaku?

Aku menutup mata sesaat, mencoba mengenyahkan bayangan sepasang mata teduh itu. Sia-sia. Bayangan itu menempel kuat, menari-nari di balik kelopak mataku yang terpejam. Ini hari pertamaku. Hari pertama yang seharusnya hanya diwarnai kecemasan biasa, bukan gejolak aneh seperti ini. Ini adalah awal dari sesuatu yang tidak kuinginkan, sesuatu yang aku tahu akan menguji setiap serat ketidakamananku yang paling dalam. Dan aku sudah merasa kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai.

Memuat komentar...