Duri dan Beludru
Sinopsis
"Tolong jangan dipecat dulu, tapi mangkuk pesanan restoran bintang lima itu baru saja berubah jadi asbak raksasa karena tangan gue gemetar." Aruna "Runa" Dewanti adalah seorang perajin keramik independen di Bandung yang menyembunyikan kecemasan sosial dan rasa tidak percaya dirinya di balik tumpukan tanah liat basah di studionya, 'Lumpur Hangat'. Bagi Runa, tanah liat adalah satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan sepenuhnya di dunia ini; berbeda dengan hubungan manusia yang selalu terasa rapuh, membingungkan, dan siap pecah kapan saja. Ketika ia tidak sengaja merusak pesanan penting akibat serangan panik, Runa mengira kariernya yang seumur jagung akan segera berakhir dalam kehancuran sosial yang biasa ia takuti. Namun, takdir mempertemukannya dengan Gibran Alhasan, seorang fotografer kuliner berjiwa bebas yang justru melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan keramik retak buatan Runa. Gibran yang berisik, spontan, dan tampak tidak memiliki beban hidup, memesan koleksi piring kustom yang mengekspos tekstur kasar—sesuatu yang bertolak belakang dengan obsesi Runa terhadap kesempurnaan yang aman. Lewat kolaborasi paksa yang diwarnai oleh komedi situasi, salah paham yang konyol, dan makan malam darurat di pinggir jalan, Gibran perlahan-lahan mulai mengikis dinding pertahanan tebal yang dibangun Runa. Di tengah tekanan dari keluarga Runa yang menuntutnya mencari pekerjaan kantoran yang 'stabil' dan bayang-bayang kegagalan hubungan masa lalu, Runa harus belajar menghadapi ketakutan terbesarnya: penolakan. Melalui setiap goresan kuas, tawa canggung di bawah rintik hujan Bandung, dan konfrontasi emosional yang jujur, Runa menyadari bahwa mencintai dan dicintai tidak membutuhkan kesempurnaan tanpa cela, melainkan keberanian untuk merangkul setiap retakan dalam diri mereka.
Tanah Liat dan Tangan yang Gemetar
Satu pecahan tajam menusuk ujung ibu jari gue, tapi rasa perihnya kalah jauh dibanding gemuruh yang mendadak runtuh di dalam dada. Gue berlutut di atas semen berdebu yang menusuk lutut tanpa alas kaki, menatap nanar pada tumpukan tanah liat abu-abu yang kini hancur berkeping-keping. Di sekitar gue, lima puluh mangkuk pesanan Bistro Dago Bellevue—yang seharusnya dikirim sore ini jam empat—berubah menjadi puing-puing menyedihkan.
Gue mengepalkan tangan, berusaha menghentikan tremor yang masih merayap di sepanjang jemari. Getaran sialan ini. Semuanya bermula setengah jam lalu saat dada gue mendadak sesak, membuat paru-paru gue serasa menyusut seukuran kantong teh. Saat memindahkan baki pembakaran dari oven besar, tangan gue kehilangan dayanya. Satu sentakan panik, satu tarikan napas yang tersangkut di tenggorokan, dan... prak!
Suara keramik pecah itu adalah bunyi kegagalan paling nyaring yang pernah gue dengar.
"Selamat, Aruna," bisik gue pada diri sendiri, menatap debu putih yang menempel di ujung celemek kanvas cokelat gue yang penuh noda. "Hari ini lo resmi jadi badut paling gagal di seluruh Jawa Barat."
Pintu kaca studio 'Lumpur Hangat' berderit kencang, disusul suara entakan sepatu bot yang sangat gue kenal. Tari Amalia melangkah masuk dengan kacamata bulat besarnya yang melorot di hidung, membawa kantong plastik berisi dua gelas es kopi susu.
Langkah Tari mendadak terkunci. Matanya yang dilapisi maskara tebal melebar sempurna. Satu tetes air kondensasi dari gelas plastik di tangannya jatuh, membasahi ujung sepatu kuning terangnya yang mencolok.
"Demi apa, Run?" Suara Tari naik satu oktav, bergema di antara langit-langit studio yang tinggi dan penuh jaring laba-laba.
Gue memaksakan sudut bibir gue berkedut naik, membentuk kurva masam yang gagal terlihat santai. "Gue lagi coba konsep baru, Tar. Estetika dekonstruksi ekstrem. Menurut lo, koki bintang lima di Dago itu bakal menghargai seni nihilisme ini nggak?"
Tari mengabaikan candaan gue. Dia meletakkan es kopi di atas meja kerja kayu yang berantakan, lalu berjongkok di samping gue. Dia memungut satu kepingan mangkuk yang setengah matang, mengamati retakan kasarnya. "Ini pesanan Chef Adrian, Aruna Dewanti. Chef yang terkenal bisa memotong karier orang cuma lewat satu jentikan jari. Dan lo menghancurkannya tujuh jam sebelum tenggat waktu?"
"Nggak sengaja," cicit gue, mendadak merasa sangat kecil. Gue menarik lutut ke dada, memeluk kaki gue erat-erat untuk menyembunyikan tangan yang masih bergetar di balik kain kanvas. "Tangan gue... mendadak nggak bisa diajak kerja sama tadi."
Tari mengembuskan napas panjang, membuat poni depannya tertiup ke atas. Dia menatap gue dengan sorot mata yang melunak, kehilangan semua nada sarkas yang biasanya dia pakai untuk menutupi rasa peduli. "Kumat lagi?"
Gue tidak menjawab. Gue hanya menatap ujung sepatu gue yang kotor oleh sisa-sisa tanah liat basah. Rasa malu itu datang lagi, menyumbat tenggorokan gue seperti gumpalan lumpur kering. Mengapa mengendalikan tubuh sendiri harus sesulit ini? Mengapa otak gue selalu mendeteksi bahaya di tempat yang paling aman sekalipun?
"Gimana kalau kita bohong aja?" tanya gue cepat, mencoba mencari jalan keluar instan dari kepungan kecemasan ini. Pikiran gue mulai meracik skenario-skenario absurd. "Kita bilang... studio kita diserang kawanan monyet liar dari Babakan Siliwangi. Mereka masuk lewat ventilasi atas, mengamuk karena mengira mangkuk-mangkuk abu-abu ini adalah pisang purba yang membatu. Masuk akal, kan?"
Tari menoyor dahi gue dengan ujung jarinya yang bebas dari noda tanah. "Monyet purba mbah lo. Chef Adrian itu lulusan Paris, Run, bukan pawang kebun binatang. Dia bakal tahu lo bohong dalam waktu tiga detik."
"Atau kita bilang gue kena penyakit langka?" Gue bersikeras, suara gue mulai meninggi seiring dengan detak jantung yang kembali berpacu. "Sesuatu yang membuat jari-jari gue mendadak kaku kayak ranting kering. Tolonglah, Tar, cariin alasan apa aja. Gue nggak sanggup nelepon dia. Gue nggak sanggup dengar dia teriak dan bilang kalau gue perajin amatir yang nggak bertanggung jawab."
Tari menghela napas, lalu menyodorkan satu gelas es kopi yang sudah mulai berembun ke dekat wajah gue. "Minum dulu. Otak lo udah mulai geser ke mode fiksi ilmiah."
Gue menerima gelas plastik itu. Permukaannya yang basah terasa mendinginkan telapak tangan gue yang panas. Gue meneguk cairan manis bin pahit itu cepat-cepat, membiarkan sensasi dinginnya menjalar ke kerongkongan, memaksa fokus gue kembali ke dunia nyata. Suara bising knalpot motor dari jalanan Cihapit di luar studio mendadak terdengar lebih jelas, memecah kepanikan yang sempat mengurung kepala gue.
"Hanya ada delapan yang selamat," kata Tari setelah memeriksa rak pengering di sudut ruangan. "Delapan dari lima puluh. Sisanya... yah, selamat menjadi asbak raksasa di lantai."
"Jangan diingetin," gerutu gue, menyandarkan punggung pada kaki meja kayu yang kokoh. "Gue mau menghilang aja dari muka bumi. Menurut lo, ada lowongan kerja jadi pertapa di Gunung Manglayang nggak? Yang persyaratannya cuma perlu diam dan nggak usah ketemu manusia?"
Tari bangkit berdiri, membersihkan debu tanah dari lutut celana jinsnya. Dia bersedekap, menatap gue dengan ekspresi menilai yang membuat gue tidak nyaman. "Masalah lo itu bukan cuma mangkuk pecah ini, Run. Masalah lo itu ketakutan setengah mati sama apa yang bakal diomongin orang kalau lo gagal. Lo selalu membangun benteng setinggi ini," dia menggerakkan tangannya ke udara, "biar nggak ada yang bisa lihat kalau lo bisa bikin salah."
"Gue cuma pengen semuanya sempurna," gumam gue defensif. "Keramik itu... kalau lo salah tekan sedikit aja waktu mutar roda, dia bakal cacat setelah dibakar. Sekali retak, dia nggak akan bisa menampung air lagi. Sama kayak reputasi."
"Tapi manusia bukan keramik, Aruna," sela Tari dengan nada gemas yang khas. Dia berjalan ke arah meja kerjanya, mengambil sebungkus permen karet dan memasukkan satu ke dalam mulutnya. "Manusia itu fleksibel. Dan omong-omong soal manusia, mungkin lo butuh distraksi yang lebih sehat dibanding meratapi tanah liat hancur ini."
Gue menyipitkan mata penuh curiga. "Distraksi apa?"
"Pacar," jawab Tari enteng, mengunyah permen karetnya dengan ritme yang menyebalkan. "Gue serius. Lo udah dua puluh enam tahun, hidup lo cuma muter-muter di antara lumpur, oven, sama omelan gue. Coba deh sesekali cari cowok. Biar ada yang meluk pas lo panik kayak gini, bukan cuma meluk ember tanah liat tiap malam."
Gue mendengus kencang, nyaris tersedak es kopi gue sendiri. "Pacaran? Tolong ya, Tari Amalia yang terhormat, hubungan manusia itu adalah sistem paling tidak stabil di alam semesta. Lebih mending gue ngurusin oven suhu seribu derajat dibanding harus dengerin cowok bilang 'kamu terlalu baik buat aku' pas dia ketahuan selingkuh. Setidaknya oven punya tombol kontrol yang jelas."
"Itu karena mantan lo yang terakhir emang spesies kadal gurun," balas Tari tanpa beban. "Nggak semua cowok kayak gitu."
"Sama aja. Mereka semua punya potensi merusak yang sama besar," kata gue, bangkit berdiri dengan susah payah. Kaki gue terasa kesemutan, namun gue memaksa diri untuk berjalan mendekati tumpukan pecahan mangkuk. Gue berjongkok kembali, mulai memunguti pecahan-pecahan tajam itu satu demi satu, memasukkannya ke dalam ember plastik hitam di sudut ruangan.
Setiap bunyi gesekan keramik retak itu seolah mengejek gue. Di luar, rintik hujan Bandung mulai turun perlahan, mengetuk-ngetuk kaca jendela studio dengan irama yang monoton. Kehangatan yang biasanya gue rasakan di dalam studio 'Lumpur Hangat' mendadak menguap, digantikan oleh kecemasan dingin yang merayap naik dari ujung kaki.
Gue tahu gue harus menghadapi Chef Adrian. Gue tahu gue harus meneleponnya dan menanggung segala konsekuensi, termasuk kemungkinan nama 'Lumpur Hangat' akan di-blackat dari daftar vendor kuliner terkemuka di kota ini. Namun, bayangan akan suara kecewa dan kemarahan di ujung telepon membuat dada gue kembali menyempit.
"Terus sekarang gimana?" tanya Tari, bersandar pada kusen pintu, menatap gue yang sibuk membersihkan puing-puing ego gue sendiri.
Gue terdiam sejenak, menatap pecahan terbesar di tangan gue. "Gue bakal nelepon Chef Adrian. Tapi nanti... setelah gue berhasil mengumpulkan cukup keberanian dari dasar ember ini."
Tari hanya menghela napas, tahu betul bahwa 'nanti' bagi gue bisa berarti beberapa jam penuh siksaan mental yang tidak perlu. Tapi sebelum dia sempat membuka mulut untuk menceramahi gue lagi, suara dering telepon genggam di atas meja kerja memotong keheningan di antara kami. ID penelepon menampilkan nama yang paling gue takuti saat ini: Bistro Dago - Chef Adrian.
Gue membeku. Pecahan keramik di tangan gue mendadak terasa seringan kapas, sementara jantung gue berdentum begitu keras hingga gue yakin Tari pun bisa mendengarnya dari tempatnya berdiri.