
Rumah yang Retak oleh Cahaya
Sinopsis
Pernikahan bagi Raka Pradipta dan Kirana Maheswari bermula sebagai pencapaian paling matang dalam hidup mereka—sebuah rumah kecil di pinggir kota, pagi yang tenang, dan keyakinan bahwa cinta cukup untuk menutup segala celah. Namun setelah status berubah, realitas mulai menyusup lewat detail-detail kecil: laporan keuangan yang ditunda, kelelahan emosional yang disembunyikan, dan percakapan yang semakin sering berakhir dengan diam. Cinta tetap ada, tetapi tidak lagi sederhana. Tekanan demi tekanan memaksa keduanya berhadapan dengan versi diri yang tak pernah mereka akui. Raka terjebak antara ambisi dan rasa tanggung jawab yang menyesakkan, sementara Kirana mulai mempertanyakan identitasnya sendiri di tengah tuntutan menjadi pasangan yang ‘ideal’. Campur tangan keluarga besar, luka psikologis yang tak terucap, serta godaan untuk mencari pelarian emosional memperlebar jarak yang sudah rapuh. Ketika pengkhianatan emosional terungkap bukan sebagai kesalahan tunggal, melainkan sebagai akumulasi pilihan kecil, mereka dipaksa memilih: mempertahankan pernikahan sebagai simbol, atau membangunnya ulang dengan kejujuran yang menyakitkan. Perjalanan ini tidak menjanjikan akhir yang manis, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih jujur—harapan yang realistis, dewasa, dan layak diperjuangkan.
Janji di Antara Dinding Baru
Raka membuka pintu dengan kunci yang masih terasa asing di tangannya. Bunyi klik itu singkat, tapi membuat dadanya mengembang. Rumah ini akhirnya milik mereka. Bukan rumah orang tua. Bukan kontrakan. Rumah sendiri.
Kirana masuk lebih dulu. Ia melepas sepatu, lalu berdiri di ruang tamu yang masih kosong. Dindingnya putih. Lantainya dingin. Ada bekas cat di sudut-sudut yang belum rapi. Ia tersenyum kecil.
“Gema, ya,” katanya.
Raka menutup pintu. Ia menaruh kardus terakhir di dekat jendela. “Nanti juga biasa.”
Mereka tertawa. Tertawa yang ringan. Tertawa karena lelah angkat kardus sejak pagi. Tertawa karena belum ada sofa, belum ada tirai, dan mereka duduk di lantai beralaskan koran.
Kirana membuka salah satu kardus. Isinya piring, mangkuk, dan dua gelas keramik hadiah dari kantor. Ia mengangkat satu gelas. Ada retak kecil di pinggirnya.
“Yang ini jangan dipakai ya,” katanya.
“Kenapa?”
“Takut bocor.”
Raka mengangguk. Ia menaruh gelas itu terpisah. Ia selalu mengangguk untuk hal-hal kecil. Itu lebih mudah.
Siang merambat pelan. Cahaya masuk dari jendela depan. Debu-debu halus terlihat melayang. Raka berdiri, mengukur dinding dengan langkah. Dua belas langkah dari pintu ke dapur. Ia membayangkan meja makan. Empat kursi. Cukup.
“Nanti kalau ada anak, sempit nggak?” tanya Kirana sambil melipat koran.
Raka berhenti. “Masih lama.”
“Aku cuma nanya.”
Ia tahu nada itu. Nada bercanda yang menyimpan harap. Raka tersenyum. Ia mendekat, duduk di samping Kirana.
“Kalau sempit, kita pindah,” katanya.
Kirana menatapnya. “Serius?”
“Serius.”
Ia percaya kalimat itu saat mengucapkannya.
Sore hari, mereka keluar membeli makanan. Warung padang di ujung kompleks. Raka memesan rendang, Kirana ayam pop. Mereka makan di lantai rumah baru. Tanpa alas. Tanpa sendok cadangan.
“Rasanya beda,” kata Kirana.
“Apanya?”
“Makan di sini.”
Raka mengangguk lagi. Ia merasakan hal yang sama. Ada rasa tenang. Ada rasa bangga. Ada rasa takut yang belum diberi nama.
Telepon Raka bergetar di saku. Ia melihat layar. Notifikasi bank. Ia mematikan layar tanpa membuka.
Kirana tidak bertanya. Ia sedang sibuk menata rencana di kepalanya. Cat dinding ruang tidur. Lemari kecil. Tanaman di depan rumah.
Malam datang. Mereka mandi bergantian. Air masih dingin. Raka keluar kamar mandi sambil mengusap rambut.
“Besok aku masuk agak pagi,” katanya.
“Kenapa?”
“Ada meeting.”
Kirana mengangguk. Ia duduk di kasur tanpa ranjang. Sprei digelar di lantai. Ia membuka ponsel, memotret sudut kamar.
“Aku mau kirim ke Mama,” katanya.
Raka menahan napas sejenak. Ia teringat Satria. Tatapan ayah mertuanya saat melihat rumah ini pertama kali. Tidak mengejek. Tidak memuji. Hanya diam.
“Mama pasti senang,” kata Raka.
Kirana tersenyum. “Papa belum tentu.”
Raka ikut tersenyum. Senyum yang tipis.
Mereka berbaring. Lampu dimatikan. Suara serangga terdengar dari luar. Kompleks ini belum ramai. Masih banyak rumah kosong.
Kirana memeluk lengan Raka. “Capek?”
“Sedikit.”
“Tapi senang?”
Raka terdiam. Ia menatap langit-langit gelap. “Senang.”
Itu tidak bohong. Hanya tidak lengkap.
Di kepalanya, angka-angka berputar. Cicilan rumah. Cicilan motor. Uang muka yang baru saja menghabiskan tabungan. Gaji bulan depan yang belum tentu cukup jika proyek tertunda.
Ia memejamkan mata. Ia tidak ingin merusak malam pertama di rumah ini dengan kekhawatiran. Ia memilih diam.
Kirana menarik selimut tipis. Napasnya mulai teratur. Raka masih terjaga. Ia meraih ponsel. Membuka notifikasi bank tadi.
Saldo terlihat. Lebih kecil dari yang ia ingat.
Ia menghitung cepat. Di kepalanya. Ia menutup ponsel lagi. Meletakkannya terbalik.
Besok, pikirnya. Besok saja.
Pagi datang terlalu cepat. Matahari masuk dari sela jendela. Kirana bangun lebih dulu. Ia duduk, merapikan rambut dengan jari.
Raka sudah bangun. Ia duduk di tepi kasur, mengenakan kemeja kerja.
“Sarapan di luar aja ya,” katanya.
“Kenapa?”
“Belum ada apa-apa.”
Kirana tertawa kecil. “Iya juga.”
Mereka bersiap. Di depan cermin kecil, Kirana berdiri di belakang Raka. Ia membetulkan kerah kemeja suaminya.
“Kita beneran sudah nikah ya,” katanya.
Raka menatap pantulan mereka. Dua orang dewasa. Rumah sendiri. Hidup sendiri.
“Iya,” jawabnya.
Di luar, udara pagi dingin. Raka mengunci pintu. Ia menepuk pintu itu pelan, seperti memastikan sesuatu tetap di tempatnya.
Di mobil, Kirana memutar radio. Lagu lama. Mereka ikut bersenandung.
Raka ikut bernyanyi. Ia tertawa. Ia ingin percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
Di perempatan menuju kantor, Kirana turun. Ia mencium pipi Raka.
“Hati-hati,” katanya.
“Kamu juga.”
Mobil melaju. Raka sendirian. Lagu masih berputar. Ia mematikannya.
Ia memikirkan meeting hari ini. Target yang belum tercapai. Email dari atasan semalam.
Ia menghela napas panjang.
Rumah itu baru. Janji-janji juga baru. Dan di antara dinding putih yang belum bernoda, Raka menyimpan kekhawatiran pertamanya sebagai suami.