
Jejak Pulang di Antara Kota Asing
Sinopsis
Aksara Wening tumbuh dengan satu keyakinan yang diam-diam membebaninya: mimpi pribadinya selalu berada satu langkah di belakang harapan keluarga. Ketika ia dipaksa melakukan perjalanan lintas kota dan negara untuk menyelesaikan urusan keluarga yang tertunda, perjalanan itu terasa seperti hukuman—bukan petualangan. Ia membawa koper berisi pakaian, tetapi juga beban emosi yang selama ini disembunyikannya: rasa bersalah, penolakan, dan ketakutan akan menjadi versi dirinya yang tidak diinginkan siapa pun. Di kota-kota asing dengan bahasa, aroma, dan ritme hidup yang berbeda, Aksara justru dipertemukan dengan sisi dirinya yang lama terkubur. Setiap langkah perjalanan memaksanya berhadapan dengan memori keluarga, pilihan hidup yang ia hindari, serta pertemuan tak terduga dengan seseorang yang mencerminkan kegelisahannya sendiri. Hubungan ini tumbuh bukan dari romansa instan, melainkan dari percakapan canggung, diam yang panjang, dan keberanian kecil untuk jujur pada diri sendiri. Puncak perjalanan Aksara bukan terletak pada tujuan geografis, melainkan pada keputusan batin: apakah ia akan terus hidup sebagai pantulan ekspektasi orang lain, atau menerima warisan keluarganya dengan caranya sendiri. Di akhir perjalanan, rekonsiliasi tidak hadir sebagai jawaban sempurna, melainkan sebagai kesediaan untuk memulai—dengan luka yang masih ada, namun dengan harapan yang akhirnya terasa miliknya sendiri.
Koper yang Tak Pernah Benar-Benar Kosong
Pengumuman keberangkatan itu terdengar datar, seperti tidak peduli pada siapa pun yang mendengarnya. Aksara Wening berhenti melangkah sejenak di lorong bandara, tangannya masih menggenggam gagang koper. Rodanya berdecit pelan. Ia tidak menoleh ke papan jadwal. Ia sudah hafal nomor penerbangannya. Ia juga hafal perasaan yang muncul setiap kali suara itu terdengar: ingin pulang, padahal belum pergi.
Ia menarik napas. Tidak dalam-dalam. Napas pendek. Seperti orang yang takut kalau udara terlalu banyak justru akan membuat dada semakin sesak. Bahunya terasa kaku. Jaket tipis yang ia kenakan tidak cukup menghalau dingin pendingin ruangan. Atau mungkin dingin itu datang dari tempat lain.
Koper itu tidak berat. Isinya pakaian seadanya. Satu pasang sepatu cadangan. Buku catatan hitam. Laptop yang baterainya sering bocor. Tidak ada yang berlebihan. Tapi Aksara tahu, koper itu tidak pernah benar-benar kosong. Ada hal-hal yang ikut terbawa tanpa diminta. Rasa bersalah. Keengganan. Dan satu pertanyaan yang terus berulang sejak ia bangun pagi tadi: kenapa harus aku?
Telepon genggamnya bergetar di saku jaket. Ia tahu siapa pengirimnya bahkan sebelum layar menyala. Ia tidak langsung mengambilnya. Ia melanjutkan langkah, melewati deretan kursi tunggu, melewati pasangan yang berpegangan tangan, melewati keluarga yang sibuk menghitung dokumen. Semua terlihat punya tujuan yang jelas. Ia tidak.
Pesan itu tetap ada ketika akhirnya ia berhenti di dekat jendela besar yang menghadap landasan. Nama Ibu Ratmi muncul di layar. Satu pesan. Belum dibuka. Aksara menekan layar, lalu membalikkan ponsel menghadap ke bawah, seolah itu bisa membuat pesan tersebut berhenti ada.
Ia menatap pesawat yang terparkir. Badannya besar. Diam. Seperti menunggu orang-orang yang ragu untuk akhirnya naik. Aksara merasa bodoh memproyeksikan perasaannya pada mesin. Tapi pagi itu, hampir semua hal terasa personal.
“Cuma berangkat,” gumamnya pelan. “Bukan diusir.”
Kata-kata itu tidak membuatnya lebih ringan.
Beberapa jam sebelumnya, di apartemen kecilnya di Kemang, ia berdiri terlalu lama di depan lemari. Bukan karena bingung memilih baju, tapi karena ia menunda momen menutup koper. Menutup koper berarti mengakui bahwa ia benar-benar pergi. Bahwa ia menyetujui perjalanan ini. Bahwa ia sekali lagi mengalah.
Ia menutup koper itu akhirnya. Resleting berbunyi nyaring. Terlalu nyaring untuk pagi yang masih gelap. Saat itu, ia berharap ada seseorang yang mengetuk pintu dan berkata semuanya dibatalkan. Tidak ada yang datang.
Di bandara, Aksara duduk di kursi tunggu. Koper di antara kedua kakinya. Ia merapatkan lutut, posisi defensif yang bahkan tidak ia sadari. Ia membuka buku catatan hitamnya, lalu menutupnya lagi. Halaman pertama kosong. Sudah berbulan-bulan kosong.
Menulis seharusnya mudah. Setidaknya itu yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri. Tapi setiap kali ia mulai, suara lain muncul. Suara yang tidak pernah benar-benar ia bantah.
Itu bukan hidup yang pasti, Sa.
Ia mendengar suara ibunya, meski Ibu Ratmi tidak ada di sana. Suara itu tidak keras. Tidak marah. Justru tenang. Seperti keputusan yang sudah dipikirkan matang-matang tanpa perlu persetujuannya.
Aksara menggeser posisi duduk. Punggungnya terasa pegal. Ia melihat sekeliling. Di kursi seberang, seorang pria seusianya sibuk mengetik di laptop. Wajahnya serius. Mungkin pekerjaannya penting. Mungkin hidupnya rapi. Aksara bertanya-tanya bagaimana rasanya yakin pada pilihan sendiri.
Teleponnya bergetar lagi. Pesan kedua. Ia menghela napas lebih panjang kali ini, lalu akhirnya mengangkat ponsel.
Sudah sampai bandara?
Pertanyaan sederhana. Tidak ada tanda seru. Tidak ada tambahan. Tapi Aksara tahu, di balik kalimat itu ada daftar harapan yang panjang. Tentang perjalanan ini. Tentang apa yang seharusnya ia lakukan. Tentang bisnis peternakan yang selalu disebut sebagai “masa depan keluarga”.
Jarumnya terasa menusuk ketika ia membalas.
Sudah.
Satu kata. Ia menatapnya lama sebelum mengirim. Ia tidak menambahkan apa pun. Tidak menanyakan kabar. Tidak menjelaskan perasaannya. Ia menekan kirim, lalu langsung mengunci layar.
Rasa bersalah datang seperti gelombang kecil tapi terus-menerus. Tidak menghantam. Menggerogoti. Ia ingat bagaimana ibunya berdiri di depan kandang terakhir kali ia pulang ke kampung. Sepatu bot kotor. Wajah lelah. Tetap berkata bahwa semua ini demi keluarga.
Aksara tidak pernah membantah secara langsung. Ia hanya pergi. Ke Jakarta. Ke tulisan-tulisan yang tidak selesai. Ke mimpi yang selalu ia simpan di tempat aman agar tidak terlalu sering dipertanyakan.
“Penumpang dengan tujuan penerbangan internasional, harap segera menuju ruang tunggu,” suara itu terdengar lagi.
Kali ini, Aksara berdiri. Kakinya terasa berat. Seperti ada jeda kecil antara niat dan gerakan. Ia menarik koper. Rodanya kembali berbunyi. Setiap langkah terasa seperti keputusan yang tidak sepenuhnya ia setujui, tapi tetap ia jalani.
Ia menyerahkan tiket. Memindai paspor. Semua berjalan lancar. Terlalu lancar untuk perjalanan yang ia benci. Saat melewati pemeriksaan terakhir, tangannya gemetar ketika mengancingkan kembali jaket. Ia menekan jari-jarinya satu sama lain sampai rasa dingin sedikit berkurang.
Di ruang tunggu internasional, Aksara duduk di dekat jendela. Langit mulai terang. Warna oranye tipis muncul di balik awan. Ia biasanya suka momen seperti ini. Hari baru. Awal. Kali ini tidak.
Ia membuka buku catatan lagi. Menulis satu kalimat.
Aku tidak yakin ke mana aku pulang.
Ia berhenti. Menatap kalimat itu. Lalu menutup bukunya tanpa menambahkan apa pun.
Ketika akhirnya panggilan boarding terdengar, jantungnya berdegup lebih cepat. Bukan karena antusias. Karena resah. Ia berdiri bersama penumpang lain, mengantre, bergerak pelan ke arah pintu pesawat.
Di ujung lorong, sebelum menyerahkan tiket terakhir, Aksara berhenti sebentar. Ia menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa yang ia cari. Tidak ada yang melambai. Tidak ada yang menahannya.
Ia menoleh ke depan lagi. Menyerahkan tiket. Melangkah masuk.
Di dalam pesawat, ia duduk di kursinya. Mengencangkan sabuk pengaman. Tangannya masih sedikit gemetar. Ia meletakkan koper kecil di kompartemen atas. Saat ia duduk kembali, ia menyadari satu hal dengan jelas: perjalanan ini sudah dimulai, dan ia belum siap dengan apa pun yang akan ia temui—di luar, maupun di dalam dirinya sendiri.