TANPA PENA
Pilar Luka, Fondasi Cinta

Pilar Luka, Fondasi Cinta

149 Menit Baca
0 Suka
15 Bab

Sinopsis

Keisha Adelia, seorang desainer grafis berbakat dengan jiwa bebas, terjerat dalam pernikahan paksa dengan Raihan Azka, seorang pengusaha properti terkemuka. Bukan karena desakan harta, melainkan karena bayang-bayang utang kehormatan keluarga yang tak terucapkan dari masa lalu, mengikatnya pada sebuah ikatan yang ia anggap sebagai penjara. Bagi Keisha, pernikahan adalah simbol pengkhianatan dan kehancuran, cerminan pahit dari trauma masa kecil akibat perceraian orang tuanya yang traumatis. Ia mendapati dirinya terkunci dalam sangkar emas, dipaksa hidup berdampingan dengan seorang pria yang, tanpa ia sadari, telah lama mengamati dan menaruh hati padanya dalam diam. Raihan, di sisi lain, menerima pernikahan ini dengan keteguhan hati yang penuh harap. Ia tahu Keisha membencinya, menganggapnya bagian dari takdir buruk yang tak diinginkan, namun keyakinannya pada cinta dan kesabarannya tak tergoyahkan. Di balik façade-nya yang tenang dan karismatik, Raihan menyimpan alasan-alasannya sendiri untuk pernikahan ini—sebuah janji lama dan keinginan tulus untuk menyembuhkan luka Keisha yang telah ia saksikan dari jauh. Namun, dinding penolakan Keisha yang tebal, diperparah oleh kemunculan kembali mantan tunangannya, Andra, yang berusaha memanfaatkan situasi, menjadi tantangan terbesarnya. Perjalanan mereka adalah anyaman rumit antara penolakan pahit dan kasih sayang gigih. Setiap pertengkaran, setiap momen keheningan yang canggung, secara perlahan mengikis prasangka Keisha, memaksa dia untuk menghadapi trauma masa lalunya dan melihat Raihan bukan sebagai penjerat, melainkan sebagai pilar kokoh yang siap menopangnya. Ketika rahasia masa lalu Raihan terkuak dan ancaman eksternal memuncak, Keisha harus memutuskan apakah ia akan tetap bersembunyi dalam bayang-bayang luka atau membangun fondasi cinta yang tak terduga bersama pria yang, diam-diam, telah menjadi takdirnya.

Bab 1
published

Janji di Atas Luka

Gaun pengantin itu terasa seperti belenggu, bukan jubah kebahagiaan. Kain brokat putih gading yang mewah, dihiasi ribuan manik-manik, menekan dada Keisha Adelia hingga napasnya terasa dangkal. Cermin di depannya memantulkan bayangan asing: seorang wanita dengan riasan sempurna, bibir merah muda yang dipulas hati-hati, dan mata yang—meski mencoba terlihat tegar—tak bisa menyembunyikan kehampaan di dalamnya.

"Sempurna, Nona Keisha. Raihan pasti akan terkesima," suara perias itu melengking, memecah keheningan yang menyesakkan. Jemarinya sibuk merapikan tiara kecil yang bertengger di atas sanggul Keisha. Aroma hairspray bercampur parfum mahal memenuhi ruangan. Keisha hanya mengangguk tipis, seolah bibirnya terlalu berat untuk digerakkan.

Terkesima? Ia sangsi. Raihan Azka adalah pria yang terlalu kalkulatif untuk terkesima hanya dengan penampilan. Ia adalah arsitek dari sangkar emas ini, pria yang diam-diam telah mengikatnya, bukan dengan cinta, melainkan dengan janji-janji usang dan utang kehormatan keluarga yang tak terucap. Seharusnya ini adalah hari paling bahagia dalam hidup seorang wanita, namun bagi Keisha, ini adalah pemakaman. Pemakaman mimpinya, kebebasannya, dan mungkin, hatinya.

Sejak kecil, pernikahan baginya adalah mimpi buruk. Bayangan pertengkaran orang tuanya yang memekakkan telinga, piring-piring pecah, dan air mata ibunya yang tak kunjung kering, masih terekam jelas di benaknya. Kemudian perpisahan yang dingin, tanpa kata, membelah dunianya menjadi dua. Ayahnya pergi, ibunya hancur. Cinta adalah ilusi, pernikahan adalah kehancuran. Titik. Ia telah bersumpah untuk tidak akan pernah mengulang kesalahan itu. Ia ingin hidup bebas, berkreasi, terbang tinggi dengan setiap guratan desain grafisnya. Namun, takdir punya rencana lain.

Pintu terbuka perlahan. Ayahnya berdiri di sana, dalam setelan jas hitam yang rapi. Wajahnya yang keriput terlihat lebih pucat dari biasanya. Ada sorot penyesalan di matanya, sebuah pengakuan tanpa suara atas peran dirinya dalam semua ini. Tapi penyesalan saja tidak cukup. Tidak akan pernah cukup.

"Sudah siap, Nak?" Suaranya parau. Jeda sesaat. "Raihan sudah menunggu."

Raihan sudah menunggu. Kalimat itu bagai mantra yang mengikatnya. Keisha menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa tebal dan berat. Namun, yang terhirup hanya aroma melati dari buket bunga di tangannya, aroma yang dulu ia kaitkan dengan keindahan, kini terasa memuakkan. Dingin. Keisha merasakan dingin merayapi jemarinya yang menggenggam erat buket itu. Jemarinya sendiri terasa kaku, tidak yakin akan bisa menerima cincin yang sebentar lagi akan disematkan.

Ia melangkah maju, kakinya terasa berat, seolah setiap pijakan adalah pemberat yang menariknya ke dasar jurang. Koridor panjang menuju altar dipenuhi karangan bunga mawar putih dan lilin-lilin tinggi yang redup, menciptakan ilusi romansa yang menyesakkan. Di sisi kanan dan kiri, wajah-wajah familiar—kerabat yang dulu ia kenal—tersenyum simpul, entah tulus atau hanya basa-basi. Suara bisik-bisik yang samar, denting garpu pada piring yang belum tersaji, dan alunan musik biola yang sendu, semua bercampur menjadi simfoni kepalsuan yang menusuk. Hatinya mencelos, berteriak ingin lari, namun kakinya seolah terpaku.

Di ujung sana, di bawah lengkungan bunga yang megah, Raihan berdiri. Tinggi, tegap, dalam balutan setelan jas biru dongker yang sempurna. Rambutnya disisir rapi, menampilkan garis wajahnya yang tegas. Ia terlihat tenang, bahkan mungkin sedikit berwibawa. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Keisha. Tatapan itu. Tatapan yang selalu membuat Keisha tak nyaman. Bukan tatapan penuh gairah seperti yang sering ia lihat di film romantis, melainkan tatapan yang terlalu dalam, terlalu penuh arti, seolah Raihan bisa melihat langsung ke dalam jiwanya yang bergejolak.

Keisha menunduk, menghindari kontak mata. Jika saja tatapan bisa membakar, ia sudah lama hangus menjadi abu. Ayahnya menggandeng lengannya, genggamannya erat, seolah menyalurkan kekuatan, atau mungkin, menahannya agar tidak melarikan diri. Dingin. Lagi-lagi rasa dingin itu menjalari kulit Keisha, menembus gaun mewahnya. Bukan dinginnya AC yang menusuk, melainkan dingin dari kekosongan yang ia rasakan. Kosong dan sendirian.

Langkah demi langkah. Setiap gesekan sepatu pada karpet merah terasa seperti detik-detik menuju eksekusi. Trauma perceraian orang tuanya kembali menghantamnya seperti gelombang pasang. Rasa sakit, pengkhianatan, dan kehancuran. Mengapa ia harus mengulang siklus ini? Mengapa ia harus masuk ke dalam perangkap yang sama?

Akhirnya, mereka sampai di altar. Ayahnya melepaskan tangannya, menyerahkannya pada Raihan. Telapak tangan Raihan terasa hangat dan kokoh, kontras dengan jemari Keisha yang dingin dan gemetar. Keisha mencoba menarik tangannya, namun genggaman Raihan tak goyah. Kuat. Teguh. Seperti benteng yang tak bisa ia robohkan.

Ia mengangkat pandangannya. Raihan tersenyum tipis, senyum yang nyaris tak terlihat, namun entah mengapa, terasa seperti tamparan. Apakah ia puas? Puas karena berhasil menjebaknya? Raihan berbisik, suaranya rendah dan pelan, hanya untuk didengar oleh mereka berdua, "Kamu terlihat cantik, Keisha."

Keisha menelan ludah. Cantik? Omong kosong. Ia merasa seperti boneka porselen yang dipajang, kehilangan semua jiwanya. Perutnya bergejolak. Aroma lilin bercampur aroma parfum dari para tamu yang kini duduk rapi, terasa semakin menyesakkan. Ini semua sandiwara. Sebuah sandiwara mahal yang harus ia mainkan.

Pendeta memulai khotbahnya, suara beratnya memenuhi ruangan yang mendadak hening. Kata-kata tentang cinta, komitmen, janji suci, dan hidup bersama selamanya, hanya menjadi desingan kosong di telinga Keisha. Ia berusaha fokus, berusaha memahami, tetapi pikirannya terus berputar, kembali ke masa lalu, ke alasan ia berdiri di sini. Utang. Utang keluarga yang tak terucapkan. Sebuah janji yang dibuat oleh kakeknya, sebuah kehormatan yang kini harus ia bayar. Sebuah pengorbanan yang diminta, tanpa pernah bertanya apakah ia bersedia.

"Raihan Azka, bersediakah engkau menerima Keisha Adelia sebagai istrimu yang sah, untuk saling mencintai dan menghormati, baik dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

Suara Raihan jelas, tanpa ragu sedikit pun. "Saya bersedia."

Kata-kata itu bagai palu godam yang menghantam jantung Keisha. Mengapa begitu mudah baginya? Mengapa ia begitu yakin? Apakah ini semua bagian dari rencananya? Keisha memandang Raihan, mencoba membaca sesuatu di wajahnya. Namun, Raihan seperti buku tertutup, hanya menunjukkan ketenangan dan keteguhan hati yang tak terpatahkan.

Kini giliran Keisha. "Keisha Adelia, bersediakah engkau menerima Raihan Azka sebagai suamimu yang sah, untuk saling mencintai dan menghormati, baik dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"

Tenggorokannya tercekat. Udara di sekitarnya terasa menipis. Pandangannya berputar, melihat ke arah ibunya yang duduk di barisan depan, matanya berkaca-kaca, namun ada senyum tipis di bibirnya. Senyum yang Keisha tahu adalah senyum lega, karena beban keluarga akhirnya terangkat. Lalu ia melihat ayahnya, yang tatapannya tak bisa ia artikan. Di antara mereka berdua, adalah wajah-wajah lain, penuh harapan, penuh ekspektasi. Beban itu. Beban itu menimpanya begitu kuat.

"Bersedia." Suaranya hampir tidak terdengar, hanya bisikan samar yang keluar dari bibirnya yang kering. Sebuah janji yang terasa pahit di lidahnya. Sebuah janji di atas luka yang menganga.

"Sah!"

Suara pendeta bergema, diikuti tepuk tangan riuh dari para tamu. Keisha merasakan pening. Semuanya terasa kabur. Jari Raihan menyentuh jari manisnya, menyematkan cincin platinum dingin. Sebuah ikatan yang nyata. Sebuah penjara yang tak terlihat. Keisha hanya bisa mematung, menatap cincin yang kini melingkari jemarinya, simbol yang dulu ia benci, kini menjadi realitasnya.

Pesta resepsi adalah siksaan lain. Senyum palsu, pelukan basa-basi, dan ucapan selamat yang terasa hampa. Keisha merasa seperti robot yang diprogram untuk tersenyum dan mengangguk. Raihan di sampingnya, adalah tuan rumah yang sempurna. Ia berbicara dengan tenang, tertawa renyah, dan sesekali meletakkan tangan di punggung Keisha, isyarat kepemilikan yang membuat Keisha muak. Sentuhannya terasa seperti kobaran api di punggungnya, namun ia menahannya, mempertahankan wajah datarnya.

"Keisha, selamat ya. Akhirnya nikah juga!" Sebuah suara renyah menyapanya. Maya, sahabat karibnya, memeluknya erat. Keisha membalas pelukan itu, merasakan sedikit kehangatan yang tulus di tengah lautan kepalsuan. "Lo tahu kan kalau gue nggak pernah pengen nikah?" bisik Keisha lirih, hanya untuk didengar Maya.

Maya melepaskan pelukan, menatapnya prihatin. "Gue tahu. Tapi ini... ini beda, Kei. Raihan baik kok."

Baik? Kata itu terdengar asing. Kebaikan macam apa yang menjebak seseorang dalam pernikahan yang tidak diinginkannya? Keisha hanya menghela napas, tak ingin berdebat. Ia memaksakan senyum tipis. Aroma beraneka ragam makanan, dari sushi hingga hidangan western, menguar di udara, namun Keisha tidak merasakan lapar sedikit pun. Perutnya perih, seperti baru saja dihantam bertubi-tubi.

Malam merangkak lambat. Ketika akhirnya lampu-lampu di aula pesta mulai meredup dan tamu-tamu mulai pulang, Keisha merasakan sedikit kelegaan. Tetapi kelegaan itu hanya sesaat, digantikan oleh gelombang kecemasan yang baru. Malam pertama. Rumah ini. Dengan Raihan.

Mobil mewah Raihan melaju pelan membelah jalanan Jakarta yang lengang. Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat, menekan indra pendengaran Keisha. Ia duduk tegang di kursi penumpang, pandangannya lurus ke depan, menghindari pantulan wajah Raihan di kaca spion. Ia bisa merasakan tatapan Raihan sesekali mencuri pandang ke arahnya, namun Keisha pura-pura tidak menyadarinya.

Raihan memarkirkan mobil di garasi sebuah rumah besar dengan arsitektur modern minimalis. Rumah itu berdiri kokoh di balik pagar tinggi, terkesan megah sekaligus dingin. Lampu-lampu taman yang remang menyoroti fasad rumah, menciptakan siluet yang dramatis. Begitu pintu mobil terbuka, aroma tanah basah dan dedaunan yang baru disiram memenuhi indra penciumannya. Udara malam terasa segar, namun tidak cukup untuk meredakan ketegangan di dadanya.

"Ayo masuk." Suara Raihan memecah keheningan. Ia sudah berdiri di samping pintu Keisha, tangannya terulur. Keisha ragu sejenak, namun akhirnya menerima uluran tangan itu. Tangannya kembali terasa hangat, sebuah kontras yang membuat Keisha semakin tidak nyaman. Genggaman Raihan terasa menenangkan, namun Keisha justru merasakan amarah dan kebencian.

Mereka masuk. Interior rumah itu luas, dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Warna-warna monokrom – abu-abu, hitam, putih – mendominasi, menciptakan kesan elegan namun steril. Sebuah lampu gantung kristal besar menggantung di tengah ruang tamu, memancarkan cahaya lembut yang membasuh seluruh ruangan. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada sentuhan personal yang mencerminkan siapa penghuninya. Rumah ini terasa seperti galeri seni yang megah, bukan sebuah rumah yang ditinggali.

"Ini rumah kita," kata Raihan, suaranya tenang. "Kamu bisa mengubah apa pun yang kamu mau."

Keisha hanya mengangguk, tanpa minat. Ini bukan rumahnya. Ini adalah sangkar emas yang baru. Ia melangkah maju, kakinya terasa pegal, tubuhnya lelah. Ada aroma lilin aromaterapi samar yang menguar, mungkin untuk menciptakan suasana relaks. Tapi yang Keisha rasakan justru aroma palsu, seperti topeng yang dikenakan rumah ini.

Raihan menunjuk ke arah tangga spiral besar di sudut ruangan. "Kamarmu di atas, di ujung koridor."

Kamarmu? Bukan kamar kita? Keisha terkejut, namun ia segera menyembunyikan ekspresinya. Sedikit lega, tetapi juga terluka. Ia tidak tahu mengapa, namun ia mengharapkan sesuatu yang lebih dari Raihan. Meskipun ia membencinya, namun ia mengharapkan sesuatu yang lebih dari pernikahan ini. Harapan itu, betapa bodohnya.

"Baiklah," jawab Keisha datar. Ia bergegas menaiki tangga, tanpa menoleh ke belakang. Setiap anak tangga terasa seperti beban, mendorongnya menjauh dari Raihan, dan semakin dalam ke dalam sangkarnya sendiri. Suara langkah kakinya bergema di ruangan yang hening. Suara itu terasa begitu nyaring, menyoroti kesendiriannya.

Kamar tidur utama itu lebih besar dari apartemen Keisha sebelumnya. Ranjang berukuran king dengan seprai satin putih bersih mendominasi ruangan. Jendela lebar menampakkan pemandangan kota Jakarta di malam hari, dengan kerlipan lampu-lampu gedung pencakar langit. Sebuah meja rias minimalis, sofa kecil di sudut, dan sebuah lemari pakaian built-in yang sangat besar. Ada pintu lain di sisi kanan, yang ia duga adalah kamar mandi.

Keisha masuk, menutup pintu dengan pelan. Ia bersandar di pintu, dadanya naik turun dengan cepat. Aroma parfumnya sendiri, kini bercampur dengan aroma ruangan yang asing, menempel di hidungnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wanita dengan gaun pengantin mewah, tiara berkilauan, dan mata kosong. Ia tidak mengenali dirinya sendiri.

Ia melepaskan gaun itu perlahan, dengan gerakan kaku. Setiap kancing yang terbuka, setiap tarikan resleting, terasa seperti melepaskan lapisan pelindung yang ia kenakan seharian. Ketika gaun itu melorot jatuh ke lantai, ia merasakan kelegaan. Namun, kelegaan itu semu. Luka di hatinya masih menganga.

Ia mandi. Air hangat membasuh tubuhnya, membersihkan sisa-sisa riasan dan aroma pesta, namun tidak mampu menghapus pahit di hatinya. Setelah itu, ia memakai piyama satin yang terasa lembut di kulitnya. Kain itu membelai, namun tidak memberikan kenyamanan. Ia merasa telanjang, bukan karena tidak berbusana, melainkan karena jiwanya terasa terekspos, rentan.

Ketika ia keluar dari kamar mandi, Raihan sudah ada di dalam kamar. Ia duduk di sofa kecil di dekat jendela, membaca buku. Ia mengenakan piyama abu-abu gelap, rambutnya sedikit berantakan. Ia terlihat lebih santai, lebih manusiawi, namun tetap saja, ada dinding tak terlihat di antara mereka.

Jantung Keisha berdebar kencang. Ia mencoba bersikap acuh tak acuh, berjalan menuju ranjang. Aroma udara yang dingin memasuki paru-parunya. Kemeja Raihan yang terbuka memperlihatkan sedikit dadanya. Pikirannya melayang, teringat sentuhan tangan Raihan di altar. Keisha buru-buru menepis bayangan itu.

"Kamu sudah selesai?" tanya Raihan, suaranya rendah, tak mengalihkan pandangan dari bukunya. Ia tidak menatap Keisha.

"Sudah." Keisha menjawab singkat. Ia menarik selimut hingga ke dagu, mencoba menciptakan benteng perlindungan. Dingin. Ruangan itu terasa dingin, padahal AC sudah diatur pada suhu sedang. Dinginnya menyeruak dari dalam dirinya.

Keheningan kembali melingkupi mereka. Suara detak jam dinding di nakas terdengar begitu jelas. Deru napas Keisha yang teratur, dan sesekali lembaran buku yang dibalik oleh Raihan, adalah satu-satunya suara di antara mereka. Keisha memejamkan mata, berharap bisa tertidur dan melarikan diri dari kenyataan. Namun, otaknya terlalu aktif, memutar ulang kejadian hari itu, menganalisis setiap tatapan, setiap kata, setiap sentuhan.

Raihan masih di sofa. Membaca. Tidak ada desakan, tidak ada paksaan. Hanya keheningan yang canggung, sebuah jarak emosional yang terasa begitu luas, seolah mereka berada di dua benua yang berbeda. Keisha membuka mata sedikit, melirik Raihan. Ia masih membaca, seolah kehadiran Keisha di ranjang tidak memengaruhinya sedikit pun. Keisha merasakan sakit, sebuah sengatan aneh di dadanya. Ironis. Ia membenci pria ini, namun entah mengapa, ia merasa terluka oleh sikapnya yang terlalu acuh tak acuh.

Ia membalikkan badan, memunggungi Raihan. Mencoba tidur. Mencoba menghilang. Udara terasa berat, menekan dada. Ia ingin menangis, menjerit, melepaskan semua kekesalan dan kepahitan yang menumpuk. Namun, air mata itu tak kunjung datang. Hanya kekosongan yang tersisa. Kekosongan yang dingin. Malam pertama mereka, adalah malam yang dipenuhi keheningan. Sebuah janji yang diucapkan di atas luka, dan kini, sebuah jarak yang tercipta di atas ranjang.

Memuat komentar...