
Kidung Rahim Terlarang
Sinopsis
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, Candramaya Kirana, seorang restorator naskah kuno yang berhati lembut namun jiwanya rapuh, menemukan hidupnya terperangkap dalam jaring ekspektasi sosial dan keluarga. Pernikahannya dengan Adinata Wijaya, arsitek konservasi bangunan bersejarah yang sibuk dan acuh, terasa hampa tanpa kehadiran anak. Tekanan dari keluarga Wijaya yang konservatif, terutama dari sang ibu mertua, Saraswati "Wati" Wijaya, yang terobsesi pada kelangsungan garis keturunan, semakin mencekik Kirana. Rasa putus asa dan kegagalan yang memilukan menggerogoti harga dirinya, mendorongnya ke tepi jurang keputusasaan yang membuka celah bagi sebuah perjanjian gelap. Perjanjian terlarang itu datang dari Wiratama "Wirya" Wijaya, ayah mertua yang berkarisma namun menyimpan agenda tersembunyi. Sebagai pengusaha komoditas langka yang berpengaruh, Wirya menawarkan "solusi" di balik tabir kesepakatan yang kejam dan manipulatif, dengan restu pasif Wati. Kirana yang putus asa, demi memenuhi tuntutan keluarga dan keinginan batinnya akan seorang anak, terpaksa menuruti. Ikatan moralnya terkoyak, ia terjebak dalam hubungan rahasia yang mengerikan, di mana kenikmatan yang terpaksa bercampur aduk dengan rasa bersalah dan jijik. Kehamilan yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menjadi simbol kehancuran diri dan pengkhianatan yang mendalam, menghantuinya setiap saat. Hingga akhirnya, kebenaran tentang infertilitas Adnan dan intrik keluarga yang memuakkan perlahan terkuak, memicu badai konflik yang tak terhindarkan. Kirana harus menghadapi konsekuensi pahit dari keputusannya, berjuang untuk melepaskan diri dari belenggu manipulasi dan membangun kembali identitasnya yang hancur. Ini adalah kisah tentang seorang wanita yang mencari kebebasan di tengah reruntuhan moral, menemukan kekuatan untuk mencintai anaknya yang lahir dari kepahitan, dan memulai babak baru hidupnya sebagai ibu tunggal yang tangguh, meskipun dengan luka yang tak akan pernah sepenuhnya sembuh.
Bayangan Rahim Hampa
Jemari Candramaya Kirana, terlatih untuk merasakan setiap bisikan serat di naskah-naskah kuno, tiba-tiba menegang. Bukan karena tegangnya kerja, melainkan oleh sensasi gatal yang tiba-tiba menusuk pangkal ibu jari kanannya. Tepat di sana, di mana sarung tangan katun tipisnya mulai menipis, sebuah retakan mikroskopis di serat kain itu terasa seperti membelah konsentrasinya yang rapuh. Ia menahan napas, mata tetap terfokus pada serpihan papirus yang tengah ia rekatkan dengan pinset berujung emas, keasliannya berumur lebih dari delapan abad. Udara di dalam studio restorasi itu terasa stagnan, berat, dan dipenuhi aroma asam dari lem konservasi yang ia gunakan dan debu wangi dari ribuan lembar sejarah yang ia berikan napas kedua. Di luar jendela kedap suara, raungan Jakarta tak pernah henti, namun di sini, di balik dinding kaca tebal, waktu terasa membeku, hanya bergerak mengikuti irama detak jantung Kirana yang berdetak lambat.
Retakan di sarung tangannya semakin terasa mengganggu. Gatal itu menjalar, mengabaikan disiplin diri yang selama ini ia bangun. Kirana menghela napas, akhirnya menyerah. Dengan gerakan perlahan, ia meletakkan pinset di atas lap bertekstur halus, menggeser kaca pembesar dari pandangannya, dan menarik lepas sarung tangan kanannya. Kulitnya yang pucat kini memerah. Ia menggaruknya pelan, lalu menatap naskah yang belum selesai. Sebuah syair Jawa kuno yang mengisahkan tentang sebuah janji yang dilanggar, tentang sebuah keturunan yang hilang. Ironi yang menusuk. Ia merasakan perih yang tak kasat mata di ulu hatinya, perih yang sama yang selalu muncul saat ia berhadapan dengan cerita tentang kelanjutan garis keturunan, sebuah tema abadi yang entah mengapa selalu menemukan jalannya ke dalam setiap naskah yang ia tangani.
Meja kerjanya adalah sebuah altar. Di atasnya, berbagai perkakas konservasi tertata rapi: kuas berbulu lembut, spatula mikro, botol-botol kecil berisi larutan penstabil, lampu UV, dan lembar-lembar kertas Jepang super tipis yang digunakan untuk menambal robekan. Setiap alat memiliki tempatnya, setiap gerakan memiliki tujuannya. Keteraturan ini adalah satu-satunya benteng pertahanannya di tengah kekacauan batin yang tak berkesudahan. Seolah-olah, jika ia bisa mengendalikan setiap detail di ruang ini, ia juga bisa mengendalikan puing-puing perasaannya sendiri. Namun, itu hanyalah ilusi. Sebuah alarm berbunyi pelan dari jam digital di sudut meja, menandakan pukul lima sore. Waktunya pulang. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Pulang berarti kembali ke realitas, kembali ke bayangan rahim hampa yang menghantuinya.
Ia membereskan mejanya dengan cekatan, menutupi naskah yang rapuh dengan kain muslin khusus, mematikan lampu UV. Studio itu perlahan kembali ke dalam remang-remang senja. Aroma lem yang tajam mulai mereda, digantikan oleh aroma samar-samar kayu jati yang sudah berumur dari rak-rak buku dan tumpukan kertas yang menunggu giliran. Kirana berdiri di ambang pintu, memandang sekeliling. Tempat ini, studio ini, adalah satu-satunya ruang di mana ia merasa benar-benar utuh, di mana identitasnya bukan hanya sebatas 'istri Adinata' atau 'menantu Keluarga Wijaya'. Di sini, ia adalah Candramaya, penjaga jejak masa lalu, penyelamat kata-kata yang hampir lenyap. Di luar sana, di luar dinding ini, ia adalah sosok lain, sosok yang perlahan terkikis oleh ekspektasi dan kekecewaan.
Perjalanan pulang melewati kemacetan Jakarta selalu terasa seperti ritual penyiksaan. Klakson yang berteriak, asap knalpot yang menyesakkan, dan wajah-wajah lelah di balik kemudi. Semua itu berpadu menjadi simfoni keputusasaan yang asing, namun entah mengapa, akrab di telinganya. Kirana mengemudi dengan tatapan kosong, tangannya mencengkeram kemudi mobilnya yang mewah namun terasa begitu sempit. Ia mencoba memutar radio, mencari pengalihan, namun setiap stasiun radio seolah hanya memutar lagu-lagu tentang cinta yang hilang atau harapan yang pudar. Ia mematikannya, membiarkan keheningan menguasai ruang kecil di dalam mobil, hanya ditemani suara deru mesin.
Setibanya di rumah, kediaman megah keluarga Wijaya menyambutnya dengan kemegahan yang dingin. Arsitektur klasik modern yang dirancang oleh Adnan, suaminya, terasa seperti pernyataan, bukan sebuah rumah. Pilar-pilar tinggi, marmer yang mengilap, dan lukisan abstrak mahal tergantung di dinding. Semuanya sempurna, steril, dan—bagi Kirana—hampa. Ia melepas sepatu hak tingginya di ambang pintu, langkahnya berjejak ringan di lantai marmer. Hening. Sepertinya Adnan belum pulang, atau sudah tenggelam dalam dunianya sendiri di ruang kerja.
Ia berjalan menuju dapur, meneguk segelas air dingin. Tenggorokannya terasa kering, bukan hanya karena haus, tetapi juga karena beban yang ia bawa sepanjang hari. Sebuah notifikasi berkedip di ponselnya. Dari Ibu Wati. Hanya sebuah pesan singkat, ‘Jangan lupa makan malam bersama pukul delapan.’ Tidak ada embel-embel, tidak ada pertanyaan tentang bagaimana harinya. Begitulah Ibu Wati. Selalu lugas, selalu fokus pada apa yang perlu dilakukan, terutama jika itu menyangkut jadwal keluarga. Di balik setiap kesopanan yang dijaga rapi, Kirana bisa merasakan tekanan yang tak pernah pudar.
Ia naik ke lantai dua, memasuki kamarnya. Kamar tidur mereka terlalu besar, terlalu mewah. Ranjang berkanopi dengan tirai sutra, jendela-jendela besar yang menghadap taman terawat, dan lemari pakaian raksasa yang menyimpan koleksi pakaian desainer. Semua itu terasa asing. Ia duduk di pinggir ranjang, menghela napas. Di atas meja rias, bingkai foto pernikahan mereka terpajang. Adnan tersenyum tipis, Kirana tampak anggun dalam balutan kebaya putihnya. Sebuah ilusi kebahagiaan sempurna. Tujuh tahun. Tujuh tahun pernikahan, dan potret itu terasa seperti saksi bisu dari janji-janji yang perlahan menguap.
Adnan pulang saat Kirana baru selesai mandi. Suara mobilnya yang masuk ke garasi, lalu derap langkahnya yang tegas di koridor. Ia masuk ke kamar dengan tas kerja di tangan, kemeja putihnya sedikit kusut, dasinya longgar. Bau kopi dan lembaran cetak biru masih menempel di tubuhnya. Ia menatap Kirana sekilas, senyum kecil, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya. “Sudah pulang?” tanyanya, retoris. Kirana mengangguk, melilitkan handuk lebih erat di tubuhnya. Adnan tak menunggu jawaban. Ia langsung menuju kamar mandi, pintu tertutup dengan bunyi berbisik.
Ini adalah ritme mereka. Sebuah simfoni kehidupan yang teratur, namun tanpa emosi. Adinata Wijaya, arsitek konservasi bangunan bersejarah yang brilian, selalu tenggelam dalam proyek-proyeknya. Bangunan tua yang rapuh, peninggalan masa lalu, mendapatkan perhatian detail yang luar biasa darinya. Ironis, pikir Kirana, bagaimana suaminya bisa begitu peduli pada struktur yang memudar, namun begitu acuh tak acuh pada kehancuran yang terjadi di rumahnya sendiri, di dalam diri istrinya.
Malam itu, meja makan keluarga Wijaya dipenuhi hidangan mewah. Sup buntut, tumis asparagus, sate lilit, dan nasi kuning. Aroma rempah memenuhi ruang makan yang luas, namun Kirana hanya merasakan kekosongan di perutnya. Ibu Wati duduk di ujung meja, anggun dalam balutan kaftan sutra berwarna marun, rambutnya disanggul rapi. Di sebelahnya, Bapak Wirya, ayah mertua Kirana, tersenyum hangat, tatapan matanya tajam namun menenangkan. Adnan duduk di seberang Kirana, sesekali membalas sapaan dari ibunya, namun pikirannya jelas masih melayang di antara cetak biru dan struktur bangunan.
“Adnan, bagaimana proyek renovasi Balai Kota?” tanya Ibu Wati, suaranya lembut namun penuh otoritas. “Semuanya berjalan sesuai rencana, Bu. Tinggal finalisasi detail fasad,” jawab Adnan, tanpa mengangkat pandangan dari piringnya. Ibu Wati mengangguk puas. “Bagus. Jangan sampai ada kendala. Nama keluarga kita bergantung pada kualitas kerjamu.”
Percakapan kemudian bergeser. Wati selalu punya cara untuk mengarahkan pembicaraan ke topik yang paling peka bagi Kirana. “Tadi siang Ibu bertemu dengan Tante Ratih,” katanya, mengaduk supnya dengan sendok perak. “Anaknya, Sari, baru saja melahirkan cucu kedua. Laki-laki. Betapa beruntungnya mereka. Garis keturunan keluarga mereka terjamin.” Kirana merasakan dadanya sesak. Ia mencoba tersenyum, mengangguk kecil, seolah-olah topik itu tidak menyentuh inti jiwanya. Ia menatap piringnya, membelah sepotong asparagus yang terasa seperti karet.
“Ya, beruntung sekali,” gumam Bapak Wirya, suaranya rendah dan penuh simpati. Ia menatap Kirana, pandangannya lebih lama dari yang seharusnya. Bukan tatapan menghakimi seperti Ibu Wati, melainkan tatapan yang seolah melihat langsung ke dalam jiwanya, merasakan setiap perih yang ia sembunyikan. Tatapan itu hangat, namun juga penuh teka-teki, seolah menjanjikan pemahaman atau—lebih mengerikan lagi—sebuah solusi. Kirana merasakan getaran aneh di tulang punggungnya. Tatapan Wirya selalu memiliki kekuatan untuk menembus pertahanannya, untuk membuatnya merasa dilihat dan, pada saat yang sama, telanjang.
“Candramaya, kenapa diam saja?” Ibu Wati bertanya, alisnya sedikit terangkat. “Apa naskah kuno hari ini begitu menyita pikiranmu?” Ia tertawa kecil, tawa yang tak sampai ke matanya. “Atau kau sedang memikirkan hal lain?” Nada suaranya jelas mengandung pertanyaan yang tak terucapkan: kapan giliranmu memberi kami seorang cucu?
“Tidak, Bu. Hanya lelah sedikit,” Kirana mencoba menjawab dengan suara setenang mungkin. Ia melirik Adnan, berharap suaminya akan mengatakan sesuatu, apa saja, untuk membela atau setidaknya mengalihkan pembicaraan. Tapi Adnan hanya sibuk dengan makanannya, seolah-olah ia tuli terhadap percakapan yang terjadi di sekelilingnya. Ia adalah pria yang bisa membangun kembali struktur bangunan megah, namun tak bisa membangun jembatan komunikasi di rumahnya sendiri.
Bapak Wirya lagi-lagi menimpali, memecah keheningan yang terasa berat. “Candramaya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Itu bagus, Nak. Passion itu penting.” Ia tersenyum pada Kirana, dan kali ini, senyumnya terasa lebih gelap, lebih dalam. Ada sesuatu di balik tatapannya yang menenangkan itu, sebuah kilatan licik yang Kirana tangkap sekilas. Kilatan yang seolah mengatakan, Aku tahu apa yang kau butuhkan, dan aku punya jawabannya.
Jantung Kirana berdebar kencang. Firasat buruk merayap naik. Ia merasakan dinding pertahanan dirinya, yang selama ini ia bangun dengan begitu kokoh, mulai menunjukkan retakan halus. Retakan itu bukan karena tekanan Ibu Wati atau keacuhan Adnan, melainkan karena tatapan dan senyum Bapak Wirya yang terlalu pengertian, terlalu menjanjikan. Sebuah janji yang terasa seperti jebakan. Sebuah janji yang, entah bagaimana, akan meminta bayaran yang jauh lebih mahal daripada yang bisa ia bayangkan.
Malam berlanjut dengan percakapan formal, namun bagi Kirana, suasana sudah berubah. Kecemasan halus mulai menggantikan keputusasaan melankolisnya. Matanya sesekali melirik Wirya, yang kini tampak biasa saja, sibuk mengobrol santai dengan Adnan tentang proyek-proyek terbaru. Tapi Kirana tahu, ada sesuatu yang telah bergeser. Sebuah pintu telah terbuka, atau setidaknya, sebuah celah kecil telah tercipta. Dan di balik celah itu, ia bisa merasakan bayangan yang gelap, panjang, dan mematikan, yang siap menelan dirinya bulat-bulat. Bayangan itu bukan lagi tentang rahimnya yang hampa, melainkan tentang janji terlarang yang mungkin sebentar lagi akan ditawarkan.