
Permainan Hati di Ujung Gang
Sinopsis
Alina Kirana, seorang remaja putri yang piawai dalam arena e-sports dan terbiasa dengan kemudahan hidup di tengah gemerlap kota metropolitan, mulai merasakan kehampaan di balik layar kemenangannya. Orang tuanya, yang prihatin dengan isolasi sosial dan kurangnya empati Alina, memberinya 'tantangan musim panas' yang tak terduga: menjadi sukarelawan di sebuah sanggar permainan tradisional di perkampungan padat penduduk. Syaratnya, ia harus menyembunyikan identitasnya sebagai gamer profesional dan berpura-pura tidak memiliki keahlian digital sama sekali, seolah-olah ia adalah 'pemula' yang polos. Di sana, ia bertemu Bayu, seorang pemuda lokal yang bersemangat dan berdedikasi tinggi melestarikan permainan rakyat. Bayu, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerendahan hati dan gotong royong, awalnya melihat Alina dengan skeptis—gadis kota yang canggung, sombong, dan tak punya 'rasa' untuk tradisi. Konflik nilai antara Alina yang materialistis dan individualistik dengan Bayu yang komunal dan sederhana tak terhindarkan. Alina harus berjuang melawan rasa frustrasi, harga diri yang terluka, dan canggungnya berinteraksi langsung dengan dunia nyata yang keras dan tak terprediksi. Seiring waktu, Alina mulai merasakan keindahan persahabatan sejati dan nilai kebersamaan yang ia rindukan. Namun, rahasia identitasnya menjadi beban, terutama saat sanggar tempat ia bernaung menghadapi kompetisi festival permainan rakyat tahunan. Alina tahu bahwa keahlian strateginya dari dunia e-sports bisa sangat membantu, namun pengungkapan identitasnya bisa menghancurkan kepercayaan yang sudah susah payah ia bangun. Kisah ini adalah tentang bagaimana sebuah penyamaran dapat menguak nilai sejati, menumbuhkan kerendahan hati, dan mengubah perspektif tentang arti kemenangan dan kebahagiaan.
Arena Virtual, Kehampaan Nyata
Deru sorakan itu mati. Bukan perlahan mereda, melainkan terpotong brutal, seolah ada tangan tak terlihat yang mencabut sumbu keramaian tepat di puncaknya. Layar OLED 34 inci di depan Alina masih memancarkan kilauan kemenangan. Animasi ‘MVP’ berputar angkuh di atas avatar digitalnya, ‘The Empress’, sang penakluk arena virtual. Nama timnya, ASCENSION, terpampang besar, dihiasi efek partikel keemasan yang menari-nari. Musik latar kemenangan, yang sedetik lalu menggelegar melalui headset Arctis Pro Wireless-nya, kini tinggal desisan samar yang beradu dengan embusan pendingin udara.
Alina tidak merasakan apa-apa. Tidak ada lonjakan adrenalin yang memabukkan, tidak ada euforia yang menggetarkan dada. Hanya ada kekosongan, hampa seperti kerongkongan yang baru saja menelan butiran pasir. Rasa pahit yang tak terdefinisi mengendap di dasar lidahnya, bercampur dengan sisa-sisa energi yang terkuras habis. Ia mengira, kali ini akan berbeda. Kemenangan ke-37 di turnamen internasional, piala dengan desain unik yang berkilau di tayangan langsung, hadiah uang tunai yang bahkan ia tak tahu harus dihabiskan untuk apa lagi. Tapi nyatanya sama. Persis sama dengan kemenangan ke-36, ke-35, dan seterusnya.
“GGWP, Empress!” Suara berat Ken, salah satu rekan timnya, memecah keheningan di kanal suara. Terdengar napasnya yang terengah, seolah baru saja lari maraton. “Gila, itu tadi clutch banget! Lo emang monster, Lin.”
Alina hanya bergumam. “Ya.” Suaranya sendiri terdengar datar, nyaris berbisik. Jauh berbeda dengan sorakan-sorakan penuh semangat yang selalu ia lontarkan di setiap sesi latihan atau momen-momen krusial di tengah pertandingan. Sekarang, hanya ada keletihan yang membelenggu. Otot-otot di bahunya terasa kaku, lehernya pegal, dan matanya perih, efek dari tatapan intens selama berjam-jam ke arah piksel-piksel yang berkedip di layar.
Ia melepas headset-nya. Bantalan telinga yang empuk terasa basah oleh keringat. Begitu dilepas, ruangan apartemennya yang luas dan hening seketika menyergap. Bau ozon tipis dari perangkat elektronik yang menyala terus-menerus, bercampur dengan aroma samar pengharum ruangan mewah berbau lavender vanilla yang sengaja dipasang Ibunya, mengisi indra penciumannya. Ruangan itu didominasi warna abu-abu monokrom, perabot minimalis yang dirancang untuk kenyamanan maksimal, namun anehnya, justru menambah kesan dingin dan steril. Deretan lampu LED tersembunyi memancarkan cahaya biru lembut, menyoroti rak berisi berbagai piala dan plakat dari kaca akrilik yang berjejer rapi. Semuanya bukti kemenangan, namun terasa begitu mati.
Alina memutar kursinya, kursi gaming ergonomic berlapis kulit mahal yang menyangga punggungnya dengan sempurna, menjauh dari meja berisi tiga monitor dan deretan perangkat periferal berteknologi tinggi. Pandangannya beralih ke jendela besar yang membentang dari lantai ke langit-langit. Di luar sana, Kota Jakarta malam itu adalah samudera cahaya, ribuan bintang buatan manusia berkerlap-kerlip tak berujung. Dari ketinggian lantai ke-30 ini, kemacetan lalu lintas tampak seperti jejak-jejak cacing pijar yang bergerak lambat. Suara klakson dan hiruk-pikuk kota tidak menembus kaca kedap suara. Hanya keheningan. Keheningan yang menekan.
“Cuma ini?” gumamnya, bibirnya membentuk sebuah garis tipis. Bukan pertanyaan pada siapapun, melainkan pada dirinya sendiri. Pada hidupnya. Pada seluruh realitas yang ia bangun dengan susah payah di balik layar.
Ia menghela napas, panjang dan berat. Jemarinya, yang baru saja menari lincah di atas tombol-tombol keyboard mekanikal berlampu RGB, kini terasa hampa. Mencoba mencari sesuatu untuk digenggam, ia meraih botol minumnya yang sudah kosong di atas meja samping. Dingin. Hanya itu yang ia rasakan. Dinginnya kaca di telapak tangan.
Alina tahu ia seharusnya bahagia. Ayahnya akan mentransfer uang bonus yang jauh lebih besar dari hadiah turnamen. Ibunya akan memesan katering mewah dari restoran bintang lima untuk perayaan kecil di rumah. Maya, sahabatnya, akan menelepon untuk mengucapkan selamat, mungkin dengan nada iri yang terselip halus. Dunia e-sports akan membicarakan ‘The Empress’ lagi selama seminggu ke depan. Tapi semua itu terasa seperti rutinitas, sebuah skrip yang berulang tanpa jiwa. Ia sudah mencapai puncak. Berkali-kali. Lalu, apa lagi?
Perutnya berkeroncongan. Sudah hampir tengah malam, dan ia belum makan malam. Rasa lapar adalah salah satu sensasi nyata yang masih bisa ia rasakan dengan jelas, meski seringkali ia abaikan demi sesi latihan atau turnamen yang tak ada habisnya. Ia bangkit, meregangkan tubuhnya yang pegal. Tulang belakangnya berbunyi ‘krek’ di beberapa tempat. Punggungnya terasa nyeri, efek dari postur duduk yang buruk, tidak peduli seberapa mahal kursi gaming yang ia gunakan.
Saat melangkah keluar kamar, ia melihat secercah cahaya menembus celah pintu kamar orang tuanya. Tidak biasanya mereka masih terjaga di jam segini. Alina berhenti, ragu. Ia ingin langsung ke dapur, mengambil sesuatu untuk dimakan, lalu kembali ke sarang amannya. Tapi sesuatu menahannya. Insting, mungkin. Atau mungkin harapan bahwa ada sesuatu yang ‘berbeda’ menunggunya di luar skrip yang telah ia hafal.
Ia mengetuk pelan pintu kayu jati solid itu. Suara ketukan yang nyaris tak terdengar, namun cukup untuk menarik perhatian. “Masuk, Sayang,” suara Ibunya terdengar dari dalam, lembut namun terdengar sedikit lelah.
Alina membuka pintu. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur di samping tempat tidur ukuran king. Ayahnya, Pak Dharma, sedang duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya. Ibunya, Bu Kirana, sedang menyandarkan punggung di kepala ranjang, memegang tablet di tangannya. Keduanya mengenakan piyama sutra, wajah mereka tampak serius. Ada aura ketegangan yang tipis di udara, tidak seperti sambutan gembira yang biasa ia terima setelah kemenangan.
“Selamat, Nak,” ucap Pak Dharma, mendongak. Senyumnya dipaksakan, cepat menghilang. “Ayah dengar kamu juara lagi.”
“Iya, Yah.” Alina berjalan masuk, duduk di sofa tunggal di sudut ruangan. Pandangannya menyapu dekorasi minimalis yang sama elegannya dengan kamarnya, hanya dengan sentuhan warna yang lebih hangat. “Ada apa, Yah, Bu? Kok belum tidur?”
Bu Kirana menurunkan tabletnya. Matanya menatap Alina lurus-lurus, tatapan yang Alina kenal betul: tatapan yang ingin mengatakan sesuatu yang berat. “Ada yang ingin kami bicarakan, Alina. Tentang kamu.”
Jantung Alina sedikit berdegup. Bukan karena takut, lebih karena penasaran. “Tentang aku? Kan aku baru menang, Bu.” Ada nada defensif yang tak sengaja terselip di suaranya.
“Justru itu,” sahut Pak Dharma, menghela napas. Ia menunjuk ke arah piala-piala di kamar Alina dengan gerakan dagu. “Kamu sudah mencapai semuanya di sana. Di dunia virtual itu.”
Alina mengerutkan kening. “Bukankah itu yang Ayah dan Ibu inginkan? Aku berhasil, aku mandiri secara finansial di usia sembilan belas.”
“Tentu saja kami bangga,” kata Bu Kirana, nadanya melunak. “Tapi... kami melihat kamu, Nak. Kamu menang, tapi kamu tidak terlihat bahagia. Atau, paling tidak, kebahagiaan itu tidak bertahan lama.”
Alina terdiam. Kata-kata Ibunya menusuk tepat pada kehampaan yang baru saja ia rasakan. Ia tidak bisa membantah. Sejak kapan kebahagiaan itu menjadi transien, sekilas kilat yang menghilang begitu hujan badai mereda?
“Kamu selalu di kamar,” lanjut Pak Dharma. “Berinteraksi dengan siapa? Layar? Robot-robot di game? Teman-teman timmu, ya, tapi hanya sebatas taktik dan strategi. Kapan terakhir kamu ngobrol tatap muka dengan orang lain selain kami? Atau Maya?”
“Aku ada komunitas online, Yah,” kilah Alina, mencoba membela diri. “Banyak teman di sana. Kami saling mendukung.”
“Mendukung di balik username anonim, di mana setiap orang bisa bersembunyi di balik persona yang mereka inginkan,” potong Bu Kirana, suaranya kini tegas. “Alina, kami melihat kamu semakin jauh. Jauh dari dunia nyata. Jauh dari orang-orang. Kami tidak ingin kamu tumbuh menjadi seseorang yang hanya bisa berkomunikasi lewat teks dan mikrofon. Kamu kehilangan empati, Sayang. Kamu kehilangan sentuhan manusia.”
Sentuhan manusia? Alina menatap jari-jarinya. Jari-jari yang cekatan menekan tombol, memutar mouse, tidak pernah menyentuh tanah, tidak pernah menggenggam tangan orang lain dalam makna yang sebenarnya. Ia merasa tuduhan itu tidak adil. Ia selalu sopan, selalu profesional.
“Kami punya rencana untuk musim panas ini,” kata Pak Dharma, menyambung. Ia mencondongkan tubuh ke depan, kedua sikunya bertumpu pada paha. Wajahnya yang biasanya kaku karena urusan bisnis, kini terlihat melunak, lebih serius. “Kami ingin kamu mencoba sesuatu yang benar-benar baru. Sesuatu yang akan membawamu keluar dari kamar ini, keluar dari zona nyamanmu.”
Alina merasakan firasat buruk menyelimuti. Sebuah kegelisahan kecil mulai merayap di dadanya. Ia tidak suka kejutan. Ia lebih suka semua terkontrol, terprediksi, seperti algoritma game yang ia kuasai.
“Apa itu, Yah?” tanyanya, suaranya sedikit serak.
Bu Kirana tersenyum kecil, senyum yang entah mengapa terasa menakutkan bagi Alina. “Kamu akan menjadi sukarelawan.”
Alina melongo. Sukarelawan? Itu adalah kata yang sangat asing di kamusnya. Ia pernah menyumbang sejumlah besar uang untuk amal, pernah ikut kampanye lingkungan virtual. Tapi terjun langsung? Ke lapangan? “Sukarelawan di mana? Aku bisa bantu dari rumah, Bu. Aku bisa jadi admin media sosial mereka, atau membantu desain grafis—”
“Tidak, Nak,” potong Pak Dharma cepat. “Bukan yang seperti itu. Kamu akan menjadi sukarelawan di sebuah sanggar permainan tradisional. Di perkampungan padat penduduk.”
Alina terdiam. Kata-kata itu seperti bom yang meledak di kepalanya. Sanggar permainan tradisional? Perkampungan padat penduduk? Rasanya seperti ditarik dari planet lain dan dijatuhkan ke gurun yang asing. Pikirannya melayang membayangkan jalanan sempit, bau sampah yang menyengat, anak-anak ingusan yang berteriak-teriak, dan permainan-permainan kuno yang bahkan tidak ia mengerti aturan mainnya. Kontrasnya dengan apartemennya yang bersih, ber-AC, dan selalu hening, terasa begitu menjijikkan.
“Dan ada satu syarat lagi,” tambah Bu Kirana, sebelum Alina sempat memprotes. Nadanya tidak main-main. “Kamu tidak boleh membawa laptop atau perangkat gaming-mu. Kamu juga tidak boleh mengatakan kamu ini seorang gamer profesional. Apalagi, ‘The Empress’.”
“Apa?” Alina berdiri dari sofa, kaget. “Kenapa? Itu kan identitasku! Itu keahlianku!”
“Justru itu,” kata Pak Dharma tegas. “Kami ingin kamu memulai dari nol, Alina. Berpura-puralah tidak tahu apa-apa tentang teknologi. Jadilah ‘pemula’ yang polos. Kami ingin kamu merasakan bagaimana rasanya berinteraksi tanpa ‘keunggulan’ virtualmu. Kami ingin kamu belajar kerendahan hati. Belajar beradaptasi. Belajar merasakan dunia nyata, bukan cuma yang ada di layar.”
Alina menatap kedua orang tuanya, bergantian. Mata mereka memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Bukan hukuman, bukan lelucon. Ini serius. Sangat serius. Ini seperti sebuah misi penyamaran, tapi untuk tujuan yang sama sekali tidak ia mengerti. Meninggalkan kenyamanan kamarnya, melupakan identitas ‘The Empress’, dan berpura-pura menjadi seseorang yang ia benci: seorang pemula yang tidak tahu apa-apa?
Rasa panas mulai merayap naik dari perutnya, bercampur dengan frustrasi yang membuncah. Harga dirinya terasa seperti ditampar. Ia, ‘The Empress’, yang selalu selangkah di depan, yang punya strategi tak terkalahkan, yang menguasai setiap algoritma, sekarang harus berpura-pura bodoh? Di hadapan orang-orang yang bahkan ia tak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan mereka? Di lingkungan yang sama sekali asing?
“Ini tidak adil,” bisiknya, suaranya nyaris tidak keluar. “Aku sudah melakukan semua yang kalian minta. Aku berprestasi. Aku menghasilkan uang. Apa lagi yang kurang?”
Bu Kirana bangkit, berjalan menghampiri Alina. Ia memegang kedua bahu putrinya, tatapan matanya melembut, dipenuhi kekhawatiran yang tulus. “Yang kurang adalah Alina yang dulu, Nak. Alina yang bisa tertawa lepas tanpa harus menang, Alina yang peduli pada orang lain, Alina yang merasakan hidup. Kami tidak memintamu meninggalkan duniamu selamanya. Kami hanya meminta kamu keluar sebentar. Lihatlah dunia dengan mata yang berbeda. Rasakan kehidupan di luar monitor.”
Pak Dharma ikut bangkit, berdiri di samping istrinya. “Anggap saja ini tantangan musim panas. Tapi bukan tantangan untuk menaklukkan musuh di game. Ini tantangan untuk menaklukkan dirimu sendiri, Alina. Menaklukkan kehampaan yang kamu rasakan.”
Kehampaan. Kata itu lagi. Alina menunduk, tidak bisa membantah. Mereka benar. Kehampaan itu memang ada. Menggerogoti dirinya dari dalam, bahkan di balik sorakan kemenangan. Tapi apakah caranya harus seperti ini? Terjun ke dunia yang ia anggap kotor, berisik, dan penuh ketidakpastian?
Bayangan dirinya di perkampungan kumuh, dikelilingi anak-anak yang bau matahari, bermain lumpur, dan berlari mengejar ban bekas, melintas di benaknya. Sekejap, ia merasa mual. Ia terbiasa dengan lantai marmer yang dingin, udara yang bersih dari polusi, dan kesenyapan yang hanya terpecah oleh desisan kipas PC-nya. Bagaimana ia bisa bertahan di sana?
“Kapan aku harus mulai?” tanyanya, suaranya pasrah. Sebuah bagian dari dirinya tahu, perdebatan ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Keputusan sudah bulat. Mereka tidak akan mundur.
Bu Kirana tersenyum, kali ini senyum lega. “Besok pagi. Barang-barangmu sudah kami siapkan. Jangan khawatir. Ini akan jadi pengalaman yang tak terlupakan, Alina. Percayalah.”
Pengalaman tak terlupakan? Alina hanya bisa menelan ludah. Ia tidak yakin apakah ‘tak terlupakan’ itu berarti baik atau buruk. Yang ia tahu, mulai besok, ia tidak lagi ‘The Empress’. Ia akan menjadi orang lain. Sebuah peran yang harus ia mainkan di arena nyata, tanpa strategi virtual yang bisa membantunya, tanpa peta yang jelas, dan tanpa kemampuan untuk respawn jika ia gagal.
Ia kembali ke kamarnya, melewati lorong yang kembali hening. Layar monitornya kini sudah padam, hanya menyisakan pantulan samar lampu LED di rak piala. Ruangan itu terasa lebih gelap, lebih dingin, lebih kosong dari sebelumnya. Keheningan yang tadi menenangkan kini terasa mencekik. Ia menatap ke arah piala-pialanya yang berjejer. Mereka tampak dingin, berjarak, seolah mengejek kehampaan yang baru saja ia sadari begitu dalam. Sebuah babak baru dalam hidupnya akan segera dimulai, dan Alina, sang ratu virtual, merasa sepenuhnya tidak siap.