
Siklus Pijar Terakhir
Sinopsis
Di distrik bawah tanah yang pengap oleh uap industri, Elian hidup sebagai 'Pembersih Sinyal'—seorang pemuda dengan kemampuan regenerasi seluler yang dipercepat namun dibayar dengan penuaan dini akibat paparan radiasi foton. Elian menyimpan rahasia kelam: setiap luka yang ia sembuhkan memperpendek sisa umurnya secara drastis. Hidupnya yang tenang dan penuh penyangkalan terusik ketika ia ditugaskan menjadi pelindung rahasia bagi Rhea, putri seorang menteri korup yang menjadi target pembunuhan karena data peretasan yang ia miliki tentang proyek pemurnian genetik.
Debu di Sektor Jelaga
Kilatan memori itu datang tiba-tiba, seperti sengatan listrik di antara sinapsis, lalu lenyap. Bukan kilatan visual, melainkan sensasi, aroma tanah basah dan tawa yang asing. Elian menekan pelipisnya, seolah bisa meremas kembali potongan ingatan yang baru saja terbakar. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena adrenalin, tapi detak tak beraturan yang semakin sering menyapa. Ini tanda. Tanda yang tak bisa ia abaikan, meski ia selalu berusaha. Ada pijar yang menyala, tapi setiap pijar adalah pengkhianatan.
Di pantulan cermin yang buram, tertutup debu industri dan embun kondensasi di lorong servis tingkat tiga belas, matanya memancarkan cahaya aneh. Irisnya, yang biasanya berwarna abu-abu kehijauan transparan, kini berkedip dengan kilau oranye samar di sekitar pupil, seperti bara yang tersembunyi. Siklus Pijar. Sistem regeneratifnya entah bagaimana baru saja memicu diri sendiri tanpa cedera eksternal, dan sebagai imbalannya, bagian dari dirinya telah terhapus. Sebuah tawa? Sebuah nama? Ia tidak tahu lagi. Dan itu yang paling menakutkan.
Udara di Sektor Jelaga selalu terasa padat, sebuah campuran lengket dari uap mesin diesel, logam berkarat, dan bau asam dari unit daur ulang limbah yang terus mendengung di kejauhan. Di tempat ini, cahaya alami adalah mitos, digantikan oleh jaring-jaring kabel neon yang berkedip tak sinkron, memulas lorong-lorong sempit dengan spektrum warna yang menyakitkan mata. Elian sudah terbiasa. Dua puluh dua tahun hidupnya, yang terasa seperti enam puluh, dihabiskan di antara bayang-bayang mesin raksasa dan dinding beton yang meneteskan air korosif.
Ia mengalihkan pandangannya dari cermin, fokus pada layar perangkat genggamnya. 'Signal Sweep' berwarna hijau cerah, kontras dengan latar belakang hitam pekat dan garis-garis data yang merayap. Pekerjaannya sebagai 'Pembersih Sinyal' adalah membersihkan sisa-sisa energi foton liar yang tak terkendali, residu dari transmisi data ilegal dan anomali jaringan yang mengalir bebas di bawah Neo-Veridia yang gemerlap. Residulah yang melahirkan penyakitnya, radiasi foton yang merangsang regenerasi tak terkendali, memakan usianya. Ironis, ia menyapu sampah yang melahirkan umurnya.
Gerakannya lambat, terencana. Setiap kabel yang ia sentuh terasa dingin dan licin. Permukaan logam di sekitarnya terasa lengket di bawah telapak tangan bersarung tipisnya, meninggalkan sisa debu jelaga yang tak pernah bisa benar-benar dibersihkan. Keheningan yang tidak pernah sejati di Sektor Jelaga adalah keheningan yang dipenuhi oleh suara mekanis yang konstan: desisan uap dari pipa-pipa panas di atas, denyutan generator yang menggetarkan lantai, dan kadang-kadang, jeritan logam yang bergesekan dari sabuk konveyor di lantai yang lebih rendah. Semua itu menembus tulang, menjadi irama hidupnya, dan seringkali, irama yang mencegahnya untuk tidur.
Insomnia kronis telah mengukir lingkaran hitam permanen di bawah matanya yang seharusnya masih muda. Kulitnya, yang seharusnya kenyal, terasa tipis, hampir transparan, menampakkan samar-samar jaring-jaring pembuluh darah di bawahnya. Elian tahu itu. Ia melihatnya setiap hari. Seperti melihat peta jalan menuju kepunahan dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam, bau oli dan ozon menusuk hidungnya. Udara kental ini adalah napas Sektor Jelaga, dan napasnya sendiri semakin menipis.
Tiba-tiba, sebuah titik merah berkedip di layar. Bukan anomali kecil, bukan residu biasa. Ini adalah sebuah anomali stabil, tidak biasa untuk energi foton liar yang cenderung pecah dan menghilang. Titik itu berdenyut, seolah memiliki denyut nadi sendiri, bergerak perlahan ke arah selatan, menjauhi area yang padat penduduk. Ini berarti semakin sulit diakses, semakin terisolasi. Dan kemungkinan besar, semakin berbahaya.
Elian menajamkan pandangannya, otot-otensinya menegang. Perasaan waswas menggelitik di punggung tangannya, seolah kulitnya bisa merasakan radiasi yang tak terlihat. Ia memperbesar peta, melihat koordinat. Anomali itu sedang menuju Zona Penumpukan Sampah Fotonik C-7. Zona itu adalah kuburan raksasa bagi perangkat keras usang dan limbah energi yang terlalu berbahaya untuk didaur ulang sepenuhnya. Area itu juga adalah tempat yang dijauhi semua orang, bahkan oleh para pemulung paling nekat sekalipun.
“Zona C-7?” bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya serak. Ada desiran rasa takut yang familiar, namun juga rasa lelah yang lebih dalam. Setiap deteksi adalah potensi ancaman. Setiap ancaman adalah potensi pemicu Siklus Pijar. Setiap Pijar adalah potongan nyawanya yang hilang. Ia menghela napas, uap tipis keluar dari bibirnya yang kering. Tidak ada pilihan. Tugasnya adalah membersihkan. Ia mengencangkan pegangan pada perangkat supresor di ikat pinggangnya, perangkat hitam matte yang terasa dingin dan berat, jaminan perlindungan sekaligus janji kematian yang lebih cepat.
Perjalanannya menuju Zona C-7 adalah sebuah ode bisu untuk Sektor Jelaga. Ia melewati lorong-lorong yang semakin sempit, di mana dindingnya ditutupi grafiti pudar, janji-janji kosong dari revolusi yang tak pernah datang. Setiap celah di dinding beton meneteskan air keruh, membentuk genangan-genangan di lantai yang memantulkan cahaya neon yang kusam. Terkadang, ia bertemu dengan bayangan lain: para pekerja shift malam yang lelah, mata mereka cekung, atau pemulung yang bergerak seperti hantu, tas mereka menggembung dengan barang rongsokan. Tidak ada yang saling menyapa. Di Sektor Jelaga, semua orang adalah bayangan bagi satu sama lain, hanya peduli pada kelangsungan hidup.
Ia melewati area pasar gelap yang sudah tutup, baunya masih menusuk hidung: rempah busuk, rokok sintetik, dan keringat yang mengering. Bangku-bangku logam terbalik, menyisakan jejak kotoran. Sebuah kucing kurus dengan mata bersinar hijau melesat di antara puing-puing, menghilang ke dalam kegelapan. Elian hampir tak memedulikannya. Kehidupan di sini rapuh, dan ia adalah salah satu kerapuhan itu.
Sampai di sebuah persimpangan, ia harus melewati jembatan servis gantung yang bergoyang pelan. Di bawahnya, jurang kegelapan yang tak berdasar, hanya diterangi oleh kilatan sesekali dari mesin-mesin yang beroperasi di kedalaman. Elian menatap ke bawah. Rasa pusing menyergapnya, bukan karena ketinggian, tapi karena kelelahan kronis yang menggerogoti. Ia merasa seperti melayang di atas ambang batas, antara keberadaan dan ketiadaan. “Teruslah berjalan,” bisiknya pada dirinya sendiri, menyemangati bayangan dirinya di sana.
Saat ia mendekati Zona C-7, udara berubah. Semakin pekat dengan bau logam terbakar dan ozon yang tajam, seperti udara setelah sambaran petir. Dinding-dinding di sini jauh lebih tebal, baja berlapis beton, dirancang untuk menahan radiasi yang mematikan. Pintu masuk ke zona itu adalah sebuah gerbang baja raksasa yang setengah terbuka, bergerigi di bagian bawah, seolah pernah dipaksa terbuka oleh sesuatu yang sangat besar. Di atasnya, sebuah tanda peringatan digital berkedip-kedip, teksnya buram: BAHAYA RADIASI TINGGI. AKSES TERLARANG.
Elian mengabaikannya. Tentu saja. Ia melangkah masuk, merasakan sensasi kesemutan di kulitnya. Indikator radiasi di perangkatnya melonjak tajam, berteriak-teriak dengan warna merah. Anomali itu sekarang jauh lebih jelas. Sebuah pusaran energi berwarna ungu gelap, berdenyut pelan di tengah lautan puing-puing elektronik. Itu bukan hanya sisa energi; itu adalah konsentrasi yang berbahaya, sebuah simpul yang memuntahkan gelombang foton liar ke sekitarnya. Ini jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Sebuah sumber, bukan hanya tumpahan.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Sebuah ritual yang sudah dihafalnya: mendekat, memasang perisai foton mini dari perangkatnya, lalu menembakkan gelombang supresor untuk melumpuhkan dan menyerap anomali tersebut. Semakin besar anomali, semakin besar daya serap yang dibutuhkan. Dan semakin besar pula risiko bagi dirinya.
Saat Elian melangkah lebih dekat, setiap serat di tubuhnya terasa berteriak. Udara di sekitarnya terasa panas, meskipun suhu di zona itu dingin. Ada desing rendah yang memenuhi telinganya, seperti ribuan lebah di dalam tempurung kepalanya. Jantungnya berdebar, memompa darah dengan kecepatan gila. Adrenalin. Kekuatan pemicu Siklus Pijar. Ia bisa merasakan energi itu bergejolak di dalam, menuntut untuk dilepaskan.
Matanya beralih ke pusaran ungu itu, mencari titik lemahnya, mencari inti yang bisa ia lumpuhkan. Puing-puing di sekitarnya berguncang pelan, beberapa bagian bahkan terangkat sedikit dari tanah oleh resonansi energi. Ini bisa meledak. Dan jika meledak, radius kehancuran akan mencapai seluruh Sektor Jelaga. Ribuan nyawa yang tak ia kenal, tak ia pedulikan, namun entah kenapa terasa terikat padanya.
“Baiklah, Elian,” ia bergumam. “Waktunya berdansa dengan api.”
Ia mengaktifkan perisai foton. Sebuah medan energi transparan muncul di sekelilingnya, membiaskan cahaya ungu anomali menjadi pelangi yang menyimpang. Suara desing semakin keras, menembus perisai. Tangannya terasa dingin, namun dahinya berkeringat. Ia mengangkat perangkat supresor, mengarahkannya ke jantung pusaran ungu. Jempolnya menekan tombol tembak.
Sebuah gelombang energi biru memancar dari supresor, menghantam pusaran. Terdengar suara dengungan yang memekakkan telinga, seperti besi yang digesek. Pusaran energi ungu itu berdenyut lebih cepat, melawan. Gelombang radiasi foton menghantam perisai Elian, menyebabkan retakan mikro yang terlihat seperti jaring laba-laba di bidang energi. Panas menjalar ke lengannya, ke dadanya, seolah ia memegang bara api telanjang.
Ini melampaui ambang batas normal. Radiasi ini merangsang regenerasinya secara paksa. Ia bisa merasakannya. Sensasi terbakar di setiap selnya, seperti percepatan metabolisme ke tingkat yang tak wajar. Jantungnya berdetak kencang, terlampau kencang. Dan kemudian, rasa sakit itu datang. Bukan rasa sakit fisik akibat cedera, tapi rasa sakit yang lebih dalam, lebih mengerikan: rasa sakit akan kehilangan. Seolah ada tangan tak terlihat yang mencabut memori dari akarnya.
Sebuah fragmen memori berkelebat: Sebuah wajah yang tersenyum? Atau mungkin sebuah suara? Sesuatu yang penting, yang entah kenapa ia tahu penting, namun kini buram, kabur, dan pada akhirnya, kosong. Rasa takut itu menusuk. Kali ini, rasa takut akan kehilangan itu lebih kuat dari biasanya. Ia merasa seperti selembar kertas yang ditarik dari buku, meninggalkan lubang kosong yang tak bisa diisi lagi.
Iris matanya. Ia tahu warnanya telah berubah lagi, bukan hanya oranye samar, tapi kini berkedip dengan kilau merah yang lebih intens, seperti nyala api yang siap melahap segalanya. ‘Siklus Pijar’ mencapai puncaknya. Setiap detik, ia kehilangan lebih dari sekadar memori. Ia kehilangan bagian dari dirinya. Setiap detik, ia semakin menua. Kerutan halus di sudut matanya terasa seperti guratan dalam yang baru saja terukir.
Ia mengatupkan giginya, menahan erangan. Ototnya menegang. Ia tidak bisa menyerah. Jika ia menyerah, pusaran itu akan meledak. Dengan sisa kekuatan mentalnya, ia meningkatkan daya supresor. Gelombang biru semakin kuat, mendorong balik pusaran ungu. Anomali itu mulai goyah, berkedip-kedip, seolah melawan takdirnya sendiri.
Akhirnya, dengan sebuah desisan, pusaran ungu itu runtuh. Energi yang terakumulasi ditarik masuk ke dalam supresor dengan suara mengisap yang mengerikan, meninggalkan kehampaan yang dingin di tempatnya. Radiasi mereda. Gerbang baja tidak lagi bergetar. Hening. Hening yang hanya sesaat, sebelum dentuman generator kembali mengambil alih.
Elian menurunkan supresor. Tangannya gemetar. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Perisai foton di sekelilingnya padam, meninggalkan kegelapan dan kehampaan yang nyata. Ia merasakan kelelahan yang luar biasa, seolah ia baru saja berlari maraton ribuan kilometer. Ia merasa lebih tua. Bukan hanya tua secara metaforis, tetapi tua dalam arti sebenarnya, setiap sendi berdenyut, setiap otot terasa nyeri, seolah tubuhnya baru saja menjalani percepatan waktu. Dan memori apa yang hilang kali ini? Ia mencoba mengingat sarapan paginya. Susu sereal basi. Ya. Itu masih ada. Lalu apa? Pembicaraan dengan siapa? Sebuah pesan yang ia baca? Kekosongan.
Ia menatap ke luar, ke arah lorong-lorong Sektor Jelaga yang suram. Rutinitas ini adalah jebakan, sebuah siklus tak berujung dari kerusakan dan perbaikan diri, dari kehilangan dan keberadaan. Ia membersihkan sinyal, tetapi siapa yang akan membersihkan dirinya dari sinyal-sinyal kematian yang tak henti-hentinya bersuara di dalam tubuhnya? Pijar terakhir itu semakin dekat, dan ia bisa merasakannya, mengikis dirinya sedikit demi sedikit.
Ia berbalik, melangkah keluar dari Zona C-7, meninggalkan kuburan energi di belakangnya. Di luar, cahaya neon masih berkedip-kedip, abadi dalam kengeriannya sendiri. Elian berjalan, satu langkah demi satu langkah, bayangannya memanjang dan memendek di bawah cahaya yang tak menentu. Di setiap langkahnya, ia bisa merasakan guratan baru di jiwanya, lubang-lubang yang menganga, janji-janji yang tak akan pernah bisa ia ingat untuk ditepati. Ia hanyalah Elian, Pembersih Sinyal, penunggu kuburan energi dan penjelajah kegelapan. Dan sisa-sisa hidupnya, seperti pijar yang meredup, semakin menipis.
Malam itu, kembali ke bilik sempitnya yang pengap, Elian mencoba tidur. Namun, insomnia adalah teman lamanya, dan kali ini, ia membawa serta ketakutan baru: ketakutan akan apa yang mungkin hilang saat ia terbangun nanti. Bau lembap dari dinding, dengungan mesin dari luar, dan denyutan di pelipisnya adalah satu-satunya melodi yang menemaninya. Ia menatap langit-langit, di mana bayangan uap menari-nari seperti hantu. Pijar terakhir. Akankah ada yang tersisa untuk dikenang ketika ia akhirnya pergi?