
Di Balik Arsip Malam
Sinopsis
Seorang perempuan bernama Svara Mahesri hidup dengan dua denyut yang saling bertentangan: kesetiaannya pada kebenaran dan rasa bersalah yang tak pernah selesai. Sebagai auditor logistik forensik, ia terbiasa membaca jejak kesalahan dalam angka dan pergerakan barang. Namun kematian adiknya—yang secara resmi dinyatakan sebagai kecelakaan—menyisakan celah sunyi yang terus berdenyut di dadanya. Ketika ia menerima tawaran kerja dari sebuah keluarga berpengaruh yang terhubung secara tak langsung dengan kasus itu, Svara memilih masuk ke pusat pusaran, menyamar bukan sebagai orang lain, melainkan sebagai versi dirinya yang lebih dingin dan patuh. Di dalam rumah besar penuh aturan tak tertulis dan pertemuan malam beraroma kekuasaan, Svara bertemu kembali dengan Arka Niralangit, pria yang dulu pernah mengisi masa mudanya sebelum sebuah peristiwa membuat ingatan mereka terputus dan terdistorsi. Kini Arka menjadi bagian dari lingkaran keluarga itu—bukan sebagai pewaris, melainkan sebagai pengelola jaringan internal yang terperangkap antara loyalitas dan rasa muak. Ketertarikan mereka tumbuh dari kehati-hatian, dipenuhi jeda, tatapan, dan percakapan yang menyimpan lebih banyak makna daripada kata. Saat Svara mulai menyusun ulang potongan data, ia menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah keluarga berkuasa itu, melainkan kontradiksi dalam dirinya sendiri: keinginan untuk menghukum versus kebutuhan untuk menyembuhkan. Hubungannya dengan Arka memaksanya memilih apakah kebenaran akan ia gunakan sebagai senjata atau jembatan. Pada akhirnya, pengungkapan yang terjadi bukan hanya membongkar korupsi sistemik, tetapi juga membuka ruang bagi rekonsiliasi, cinta yang matang, dan keadilan yang tidak meninggalkan luka baru.
Undangan yang Tidak Netral
“Kalau kamu tolak sekarang, penawaran ini tidak akan datang dua kali.”
Svara Mahesri belum duduk ketika kalimat itu dijatuhkan di meja. Bukan nada ancaman. Terlalu rapi untuk disebut tekanan. Lebih seperti fakta cuaca—dingin, tak peduli, dan sudah diputuskan.
Kursi kulit di depannya terasa panas ketika ia akhirnya menariknya. Pendingin ruangan terlalu lambat bekerja. Atau tubuhnya saja yang bereaksi berlebihan. Telapak tangannya lembap. Ia menyelipkan jari ke bawah map tipis berlogo perusahaan holding yang namanya sudah ia kenal sejak bertahun-tahun lalu. Terlalu kenal.
“Saya belum bilang ya,” jawab Svara. Suaranya stabil. Ia sendiri sedikit terkejut.
Lelaki di seberang meja—Direktur Operasional, rambutnya dipotong terlalu presisi—tersenyum tipis. Senyum yang dilatih di ruang rapat, bukan di depan cermin rumah. “Justru itu. Kami ingin keputusan yang cepat. Proyek ini sensitif.”
Sensitif. Kata itu menggelinding di kepala Svara seperti baut longgar di lantai logam.
Ia membuka map. Hanya tiga lembar. Ringkasan audit. Jalur distribusi. Penugasan sementara sebagai auditor logistik eksternal untuk sebuah keluarga industri yang namanya jarang muncul di berita, tapi selalu ada di kaki halaman laporan ekonomi. Tidak pernah di headline. Selalu di balik.
Detak jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Setiap detik seperti ditekan ke tulang rusuknya.
“Kenapa saya?”
“Kamu tidak terafiliasi. Rekam jejakmu bersih. Kamu tidak banyak bertanya di luar data.” Lelaki itu berhenti sejenak. “Dan kamu dikenal bisa diam.”
Kalimat terakhir itu yang menusuk.
Svara menutup map. Bunyi kertas bertemu kertas terdengar seperti keputusan yang belum diucapkan. Dalam kepalanya, angka-angka berderet rapi. Gaji. Akses. Reputasi. Semua bergerak ke kolom plus. Logis. Bersih.
Tapi ada denyut lain. Lebih tua. Lebih liar.
Wajah adiknya muncul sebentar. Terpotong. Tidak lengkap. Selalu begitu. Sejak laporan akhir ditandatangani enam bulan lalu. Kecelakaan kerja. Kesalahan prosedur. Tidak ada tindak lanjut.
“Lokasinya?” tanya Svara akhirnya.
Senyum itu kembali. Lebih lebar. “Rumah pusat. Kamu akan mulai dengan pertemuan keluarga.”
Kata rumah membuat tengkuk Svara menegang.
Ia berdiri. Menjulurkan tangan. Jabatannya singkat. Kering. Profesional. Ketika pintu kaca menutup di belakangnya, napas yang ia tahan sejak awal pertemuan akhirnya lolos. Terlalu cepat. Terlalu dalam.
Di lift, ia menyandarkan kepala ke dinding logam. Getarannya merambat sampai ke gigi. Lantai-lantai turun satu per satu. Ia menekan rahang. Tidak ada alasan untuk ragu. Ini hanya pekerjaan.
Hanya pekerjaan.
***
Gerbang itu tidak dibuka dengan tombol. Seorang penjaga berseragam gelap mengangguk setelah memindai kartu. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Gerbang besi bergerak perlahan, mengeluarkan suara berat seperti hembusan napas makhluk besar.
Svara duduk tegak di kursi belakang mobil. Tas kerjanya ia peluk di pangkuan, bukan karena takut, tapi karena itu memberi tekanan nyata. Sesuatu yang bisa ia rasakan.
Pekarangan luas. Lampu taman rendah, teratur. Tidak ada sudut yang benar-benar gelap. Rumah itu sendiri berdiri sedikit lebih jauh dari yang ia perkirakan. Fasadnya bersih. Tidak berlebihan. Kekuasaan yang tidak perlu membuktikan apa pun.
Begitu pintu mobil dibuka, udara malam menyentuh wajahnya. Dingin tipis. Wangi rumput basah. Sepatu haknya menyentuh kerikil halus, menghasilkan bunyi kecil yang terasa terlalu keras di telinganya sendiri.
Ia melangkah masuk.
Di dalam, suara berubah. Lebih tertahan. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu gantung yang besar tapi tidak mencolok. Dinding dihiasi lukisan-lukisan yang tidak diberi keterangan. Tidak perlu.
Svara merasakan bahunya menegang ketika seorang staf mendekat, berbicara pelan, mengarahkannya ke ruang tamu utama. Ada beberapa orang di sana. Percakapan terpotong-potong. Tawa singkat. Gelas kristal bertemu pelan.
Ia menyadari detak jantungnya tidak seirama dengan langkah kakinya.
“Mbak Svara?”
Suara itu datang dari samping. Rendah. Tenang. Ia menoleh.
Untuk sesaat, dunia menyempit.
Lelaki itu berdiri tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jasnya sederhana. Rambutnya disisir rapi tanpa usaha berlebihan. Matanya—itu yang membuat dada Svara terasa seperti ditekan dari dalam.
Ia mengenali cara tatapan itu berhenti setengah detik lebih lama dari yang sopan.
“Saya Arka,” katanya. “Saya yang diminta mendampingi selama di sini.”
Svara menelan ludah. Tenggorokannya kering.
“Svara,” jawabnya. Namanya sendiri terdengar asing.
Mereka berjabat tangan. Kulit Arka hangat. Sentuhannya singkat, tapi cukup untuk memicu sesuatu yang tidak punya nama. Svara menarik tangannya lebih cepat dari yang ia rencanakan.
“Silakan,” Arka menunjuk ke arah ruang dalam. “Keluarga sudah menunggu.”
Mereka berjalan berdampingan. Tidak saling menyentuh. Tapi jarak itu terasa penuh.
Svara mencium aroma kayu tua. Parfum ringan. Sesuatu yang pernah ia kenal. Kepalanya berdenyut pelan. Ia fokus pada langkah. Satu. Dua.
Di ambang pintu, Arka berhenti. Menoleh sedikit.
“Kalau ada yang membuat tidak nyaman,” katanya pelan, hampir seperti catatan samping, “bilang.”
Svara mengangguk. Tidak percaya pada suaranya sendiri.
Di dalam ruangan, tatapan-tatapan mengarah padanya. Menilai. Mengukur. Ia berdiri tegak. Bahunya lurus. Wajah profesional terpasang sempurna.
Di bawah itu semua, ada getaran halus. Gelisah yang baru mulai tumbuh.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia menerima penugasan itu, Svara bertanya pada dirinya sendiri—bukan apakah ia bisa menjalani pekerjaan ini, tetapi apakah ia sanggup keluar tanpa kehilangan sesuatu yang tidak ia sadari masih ia miliki.