
Gema di Antara Struktur
Sinopsis
Kala gemuruh konstruksi baja menjadi latar belakang detak jantungnya, Talitha Ishana menyadari bahwa keberhasilannya sebagai Kepala Estimator Biaya di sebuah firma konstruksi multinasional adalah pedang bermata dua. Ia terbiasa menghitung risiko hingga desimal terkecil, namun ia gagal memprediksi keretakan yang muncul di meja makan rumahnya sendiri. Ketika suaminya, Satya Nugraha, seorang peneliti mikrobiologi yang tenang namun perfeksionis, mulai kehilangan pijakan atas maskulinitasnya akibat kesenjangan pendapatan yang semakin lebar, rumah mereka berubah menjadi medan pertempuran hening yang dipenuhi subteks. Ketegangan memuncak saat Talitha mendapatkan promosi besar yang mengharuskannya pindah ke luar negeri, sementara Satya baru saja menerima penolakan dana hibah untuk proyek riset impiannya. Konflik ini bukan sekadar tentang siapa yang menghasilkan lebih banyak, melainkan tentang bagaimana ego yang terluka bersinggungan dengan cinta yang masih tersisa. Talitha harus memilih antara memangkas ambisinya demi keutuhan 'pilar' rumah tangganya atau mendefinisikan ulang makna kemitraan yang selama ini dianggapnya mutlak. Perjalanan emosional mereka membawa keduanya ke sebuah titik di mana kata-kata tidak lagi cukup. Di antara tumpukan cetak biru bangunan dan mikroskop laboratorium, mereka dipaksa untuk meruntuhkan tembok pertahanan diri masing-masing. Ini adalah kisah tentang pencarian identitas di tengah ekspektasi sosial yang kolot, membuktikan bahwa fondasi yang paling kuat dalam sebuah hubungan bukanlah kemapanan finansial, melainkan kerentanan untuk saling membutuhkan tanpa rasa rendah diri.
Garis Batas di Atas Meja
Dentuman bass dari speaker Lounge Sky-High bergetar sampai ke tumit Talitha Ishana. Bukan dentuman yang membuatnya ingin menari, melainkan ritme kemenangan yang berdegup di sepanjang pembuluh darahnya. Tangan kanannya, yang baru saja mencengkeram erat pena mahal untuk menorehkan tanda tangan pada lembar kontrak triliunan rupiah, kini memegang gelas sparkling wine dingin. Gelembung-gelembung kecil itu menari di permukaan, seperti refleksi keriangan yang sedang ia rasakan.
Di sekelilingnya, rekan-rekan kerja bersorak, menepuk punggungnya dengan euforia yang sama. Lampu kota Jakarta membentang di bawah, jutaan titik cahaya yang tampak seperti taburan intan dari ketinggian lantai 50. Talitha melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul sepuluh malam. Seharusnya ia sudah di rumah, berbagi makan malam dengan Satya. Tapi malam ini, meja makan di apartemennya terasa jauh, seperti dimensi lain yang tak bisa dicapai oleh gemuruh kegembiraan ini.
“Chief, you’re a legend!” seru Bimo, Kepala Proyek yang selalu tampil necis. Suaranya agak teredam musik, tapi senyum lebarnya tak salah lagi. Ia mengangkat gelas, mengisyaratkan ‘cheers’ yang dijawab oleh semua orang di meja. “Proyek Patung Garuda Terbesar di Asia Tenggara. Siapa sangka, angka-angkanya bisa masuk. Kau membuat mustahil jadi mungkin.”
Talitha membalas senyum Bimo. Bukan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan di hadapan klien, melainkan seringai puas seorang ahli strategi perang yang baru saja memenangkan pertempuran. “Semua ada hitungannya, Bim. Risiko terkecil, keuntungan terbesar. Itu rumus dasar.” Ia memang selalu begitu. Mengukur, menghitung, memprediksi. Angka adalah bahasanya, presisi adalah senjatanya. Di sinilah ia perkasa, di sinilah ia merasa mutlak.
Cairan anggur itu terasa manis dan sedikit masam di lidahnya, seperti cita rasa sukses yang selalu datang dengan konsekuensi. Sejak pagi tadi, adrenalin memompa di setiap sel tubuhnya. Presentasi maraton di hadapan para pemegang saham, negosiasi alot dengan konsultan pemerintah, dan tatapan skeptis dari para direktur senior yang meragukan prediksi biaya konstruksi yang ia ajukan. Tapi ia berhasil. Angka-angkanya akurat. Prediksinya tepat. Dan sekarang, proyek raksasa itu ada dalam genggamannya, atau setidaknya, dalam cakupan tanggung jawabnya.
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kulit mahal. Sesosok bayangan kelelahan mulai merayapi bahunya, tapi euforia kemenangan masih terlalu kuat untuk dilawan. Ia membayangkan bagaimana Satya akan bereaksi. Mungkin tidak segegap gempita ini. Satya adalah tipe orang yang merayakan keberhasilan dengan bisikan, dengan sentuhan ringan di punggung, atau mungkin secangkir teh herbal hangat yang ia racik sendiri. Tidak ada dentuman musik, tidak ada sorakan. Dunianya lebih sunyi, lebih teratur, dan kadang, terlalu sepi untuk ukuran Talitha.
Pukul sebelas malam. Lampu-lampu Jakarta masih berpendar, tapi energinya sudah terkuras. Kepala Estimator Biaya itu berdiri, memohon diri dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Baiklah, semuanya. Saya harus pulang. Satya pasti sudah menunggu.”
“Pulang? Kenapa tidak ikut merayakan sampai pagi, Chief?” goda Santi, juniornya yang selalu bersemangat. “Pasti Satya akan bangga, kan? Dengan bonus yang kau dapat, bisa beli mobil baru!”
Kata-kata Santi melesat ke udara, disambut tawa renyah dari yang lain. Bonus. Ah, ya, bonus. Dua digit yang menggiurkan, setara dengan gaji tahunan Satya, bahkan mungkin lebih. Sebuah angka yang, di benak Talitha, hanyalah penanda validasi atas kerja kerasnya. Tapi, entah mengapa, mendengar Santi mengucapkannya dengan ringan, tiba-tiba menciptakan ganjalan yang tipis di hati Talitha. Ganjalan itu terasa seperti pasir halus yang menyelip di antara giginya, mengganggu namun tak bisa ia singkirkan.
Talitha hanya tersenyum samar. “Selamat malam, semuanya. Sampai jumpa besok.”
Di dalam taksi premium yang membelah jalanan Kuningan, Talitha menyandarkan kepalanya ke jendela. Kaca itu terasa dingin, kontras dengan panas yang masih menjalar di pipinya. Jalanan masih ramai, mobil-mobil berderet membentuk ular raksasa yang bergerak pelan. Gedung-gedung tinggi di kanan-kirinya memancarkan cahaya, menonjolkan arsitektur modern yang menjulang angkuh. Ia tahu setiap detail di baliknya: beton yang dicampur agregat apa, berapa ton baja yang dibutuhkan, berapa perkiraan biaya pengerjaan fondasi. Angka-angka itu selalu ada di kepalanya, menari-nari seperti kode rahasia yang hanya ia pahami.
Namun, angka-angka itu tidak bisa menghitung sesuatu yang lebih rumit: dinamika di dalam empat dinding rumah tangganya. Sudah berapa lama ia dan Satya tidak berbagi cerita tanpa terinterupsi ponsel atau laptop? Sudah berapa lama sentuhan mereka terasa lebih seperti kebiasaan daripada gairah? Pertanyaan-pertanyaan itu menggerogoti, membuat rasa manis kemenangan di lidahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa masam yang lebih pekat.
Apartemen mereka di lantai dua belas terasa sunyi saat Talitha mendorong pintu. Bunyi ‘klik’ kunci yang membuka terdengar terlalu keras dalam keheningan yang menyambutnya. Aroma masakan Satya — sup ayam dengan kuah bening, khas masakannya — menguar tipis, bercampur dengan bau buku-buku lama yang selalu menenangkan, seperti aroma kulit dan kertas lapuk. Satya selalu memasak jika Talitha pulang larut. Itu adalah bentuk perhatiannya, cara diam-diam ia menunjukkan bahwa ia peduli. Dulu, aroma itu selalu terasa seperti pelukan hangat. Malam ini, ia terasa seperti pengingat akan sesuatu yang tak terpenuhi.
Talitha melepas sepatu hak tingginya di dekat pintu, merasakan kelegaan menjalar ke seluruh kakinya yang pegal. Ia menaruh tas kerjanya di meja konsol, lalu melangkah perlahan ke ruang tengah. Lampu di sana hanya menyala remang-remang, menciptakan suasana temaram yang menenangkan sekaligus agak suram. Di sudut ruangan, dekat rak buku mahoni yang menjulang tinggi, Satya duduk terpaku. Bukan di sofa, melainkan di kursi kerja lamanya yang dilapisi kulit. Punggungnya membungkuk, kepalanya condong ke depan, matanya terpaku pada mikroskop vintage berbahan kuningan yang diletakkan di atas meja kecil.
Mikroskop itu adalah harta karun Satya. Hadiah dari mendiang ayahnya. Benda itu selalu mengilap, terawat sempurna, seolah waktu tak mampu menggerogoti keindahannya. Cahaya kuning redup dari lampu meja kecil menyoroti lensa okular mikroskop, memantul di kacamata Satya, menciptakan lingkaran cahaya yang menyelimuti wajahnya. Jemarinya yang panjang dan kurus memutar tombol fokus dengan presisi, seolah ada seluruh alam semesta yang sedang ia selami di bawah lensa.
“Satya?” bisik Talitha, tidak ingin mengagetkannya. Suaranya terdengar serak, menipis di tengah keheningan.
Satya tersentak. Bahunya menegang, lalu perlahan ia menegakkan punggungnya. Ia melepas kacamata, mengusap pelipisnya. Di matanya, Talitha melihat jejak kelelahan yang lebih pekat dari miliknya. “Oh, Talitha. Kau sudah pulang.” Nada suaranya datar, tanpa emosi berlebihan. Ia tidak bertanya bagaimana presentasinya, tidak menyinggung soal kontrak besar yang baru saja ia tandatangani.
“Sudah,” jawab Talitha, melangkah mendekat. Aroma antiseptik dan cairan kimia tipis menempel di baju Satya. Aroma yang selalu mengingatkan Talitha pada labnya yang steril, tempat Satya mengurung diri bersama jutaan bakteri dan virus.
Ia mendekat ke arah Satya, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan yang dulu selalu menyambutnya. Ia melirik ke bawah lensa mikroskop. Di situ, di bawah cahaya kuning, ada cawan petri berisi koloni bakteri yang tampak seperti titik-titik kecil tak beraturan. “Sedang apa?”
Satya menghela napas, sebuah tindakan yang jarang sekali ia lakukan di depan Talitha. “Hanya... mencoba lagi. Ulang dari awal.” Ada kekecewaan yang kentara dalam suaranya, meski ia berusaha keras menyembunyikannya. “Dana hibah kemarin, ditolak. Alasannya kurang inovatif. Padahal, Talitha, aku sudah mengerjakan ini selama hampir dua tahun.”
Talitha menarik sebuah kursi kayu di dekatnya dan duduk. Ia menatap Satya, melihat garis-garis lelah di sudut matanya yang selalu tenang. Hatinya mencelos. Ia tahu betapa berartinya proyek riset itu bagi Satya, bagaimana ia mencurahkan seluruh idealismenya ke dalam dunia mikroba yang tak terlihat. Ia ingat berbulan-bulan Satya begadang, lembur di lab kampusnya, pulang dengan mata merah dan aroma reagen yang menempel kuat.
“Oh, Satya... aku turut sedih mendengarnya,” ucap Talitha tulus. Tangannya terulur, ingin menyentuh tangan Satya, tapi ia menahan diri. Ia tahu Satya tidak suka menunjukkan kelemahan, apalagi jika ia sedang dalam mode 'menyendiri' seperti ini.
“Tidak apa-apa,” kata Satya, mengibaskan tangannya pelan, seolah mengusir kesedihan itu. “Sudah biasa. Dunia riset memang kejam. Satu kegagalan bisa menenggelamkan ribuan jam kerja.” Ia bangkit, melangkah ke dapur. “Kau pasti lapar. Aku sudah menghangatkan sup ayamnya.”
Talitha mengikutinya ke dapur. Meja makan sudah tertata rapi. Sup ayam mengepulkan uap tipis dari mangkuk porselen putih. Nasi putih hangat tersaji di piring, dan sebuah teko berisi teh melati. Satya memang perfeksionis, bahkan dalam hal menyiapkan makan malam. Ia selalu memastikan semuanya sempurna, teratur, tanpa cela. Seperti labnya yang steril, seperti alur risetnya yang penuh perhitungan.
Mereka duduk berhadapan. Bunyi sendok beradu dengan mangkuk memecah keheningan yang canggung. Talitha berusaha mencari topik pembicaraan yang ringan, sesuatu yang bisa mengusir awan mendung di antara mereka. Ia ingin berbagi kabar baiknya, tapi setelah mendengar tentang dana hibah Satya, lidahnya terasa kelu.
“Jadi... tadi aku sempat mampir ke Sky-High Lounge. Merayakan sedikit,” Talitha memulai, mencoba terdengar santai. Ia mengambil napas, mengumpulkan keberanian. “Kontrak proyek Patung Garuda… akhirnya berhasil. Triliunan rupiah, Satya. Ini proyek terbesar di Asia Tenggara. Dan aku… aku yang bertanggung jawab sebagai Kepala Estimator.”
Satya berhenti menyendok sup. Matanya menatap Talitha, tapi senyum tipis yang tersungging di bibirnya tidak sampai ke matanya. Senyum itu terasa kaku, seperti topeng. “Itu bagus, Talitha. Selamat. Aku tahu kau pasti bisa.”
“Dan… bonusnya juga cukup besar,” Talitha melanjutkan, tidak tahu mengapa ia merasa perlu menambahkan detail ini. Mungkin ia ingin Satya melihat angka-angka itu sebagai bukti nyata kerja kerasnya, sebagai sesuatu yang bisa mereka rayakan bersama, lepas dari masalah dana hibah itu. “Bisa untuk beli mobil baru, atau mungkin kita liburan panjang ke Jepang, seperti yang dulu kita impikan.”
Keheningan kembali menggantung. Kali ini terasa lebih tebal, lebih berat. Talitha melihat mata Satya bergeser, dari matanya ke mangkuk supnya, lalu ke tangannya yang memegang sendok. Ia bisa merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul, seperti tembok tak kasat mata yang berdiri tegak di antara mereka. Aroma sup ayam yang tadi terasa hangat kini terasa hambar.
Satya meletakkan sendoknya. Bunyinya terlalu nyaring di telinga Talitha. “Oh, mobil baru. Jepang. Kedengarannya bagus. Tapi aku… aku mungkin harus membeli beberapa alat lab baru. Mikroskopku ini sudah terlalu tua. Dan reagen-reagen penting juga semakin mahal. Mungkin aku harus menunda riset ‘Alpha-7’ itu lagi.” Suaranya pelan, tapi setiap kata terdengar seperti batu yang dijatuhkan ke dalam air tenang, menciptakan riak yang tak terlihat namun terasa.
Talitha terdiam. Ia menatap Satya, mencoba membaca ekspresi di balik wajah tenangnya. Tidak ada marah, tidak ada cemburu yang gamblang. Hanya… semacam penerimaan yang dingin, sebuah pengakuan pahit atas sesuatu yang tidak bisa ia penuhi. Kata-katanya tentang ‘membeli alat lab baru’ dan ‘menunda riset’ terasa seperti tamparan halus. Itu adalah sebuah pengingat akan kesenjangan yang kini terbentang lebar di antara pendapatan mereka, di antara mimpi-mimpi mereka.
“Satya, aku tidak bermaksud—”
“Tidak apa-apa, Talitha,” potong Satya. Ia mengangkat kepalanya, menatap Talitha lagi. Senyumnya sudah hilang. Wajahnya datar. “Aku hanya realistis. Kau tahu, di dunia sains, uang adalah segalanya. Tanpa dana, ide sebesar apa pun hanya akan jadi catatan di buku usang.” Ia bangkit, mengambil piring kotornya dan membawanya ke wastafel. Bunyi piring beradu dengan piring lain terdengar seperti sebuah finalitas. Sebuah garis batas telah ditarik, tidak dengan spidol di atas kertas, tapi dengan kata-kata dan keheningan di atas meja makan mereka.
Talitha menatap sup ayamnya yang kini sudah dingin. Ia kehilangan nafsu makan. Kemenangan besar yang ia raih sore itu, semua euforia yang ia rasakan di Lounge Sky-High, kini terasa seperti abu yang jatuh. Di rumah ini, di antara dinding-dinding yang seharusnya menjadi tempatnya menemukan ketenangan, ia malah menemukan gema sunyi dari sebuah keretakan yang semakin dalam. Ia menyadari, fondasi paling kokoh yang ia kenal—angka-angka, kepastian—tak berguna di sini. Dan ia tidak tahu, dengan apa ia harus membangunnya kembali.