TANPA PENA
Sisa Peraduan di Pesisir Galuh

Sisa Peraduan di Pesisir Galuh

9 Menit Baca
0 Suka
25 Bab

Sinopsis

Gendis Ismaya menghabiskan hari-harinya di antara tumpukan garam yang mengkristal dan bau laut yang menyengat, bekerja sebagai seorang Penguji Kadar Salinitas Tradisional di sebuah desa pesisir yang terisolasi. Kehidupannya yang monoton adalah sebuah pelarian dari trauma masa kecil di mana ia menyaksikan kehancuran bisnis maritim keluarganya akibat pengkhianatan internal yang membuatnya diasingkan oleh kerabatnya sendiri. Gendis memilih hidup dalam kesunyian, meyakini bahwa keterasingan adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri dari kekecewaan yang lebih dalam. Ketentangan Gendis terusik ketika seorang pria bernama Baskara Jati, seorang Penyelam Arkeologi Forensik, datang ke desanya dengan misi rahasia untuk mencari bangkai kapal kargo yang membawa bukti sejarah kelam masa lalu keluarga Gendis. Pertemuan ini bukan sekadar urusan profesional; kehadiran Baskara memaksa Gendis menghadapi ingatan yang selama ini ia kubur rapat di bawah lapisan garam. Gendis yang awalnya menutup diri perlahan menyadari bahwa Baskara membawa potongan puzzle yang dapat membersihkan nama baik ayahnya, namun hal itu berarti ia harus kembali ke pusat badai yang pernah menghancurkannya. Perjalanan mereka menjadi sebuah navigasi emosional yang intens di mana cinta tumbuh di antara kecurigaan dan rasa takut. Gendis harus memilih untuk tetap menjadi pengamat yang aman di pinggir pantai atau menyelam ke dalam arus masa lalu yang berbahaya demi menemukan kebenaran. Di tengah intrik perebutan lahan pesisir dan rahasia yang terpendam di dasar laut, mereka berdua belajar bahwa penyembuhan sejati hanya bisa terjadi ketika luka lama dibuka dan dibersihkan, bukan sekadar ditutupi oleh waktu.

Bab 1
published

Kristal Pahit di Ujung Lidah

Ujung lidahku mengecap. Bukan asin yang biasa. Ada jejak getir yang tertinggal, sebuah anomali yang terasa asing di antara ribuan rasa garam yang sudah kukenal.

Aku menunduk. Tangan bersarung karetku masih memegang pipet kaca, meneteskan setitik air dari kolam penjemuran nomor tujuh belas ke atas lempengan mikroskop. Udara di ladang garam Pesisir Galuh menusuk, campuran panas menyengat dari matahari pagi dan kelembapan laut yang pekat. Permukaan air di kolam itu memantulkan siluetku, membengkokkan figur kurus yang selalu menyembunyikan diri di balik kemeja longgar dan topi anyaman.

Ini aneh. Kadar salinitasnya, jika diukur secara tradisional dengan lidah, terasa salah. Mengapa ada kegetiran? Aku mengulanginya. Kali ini dari kolam nomor delapan. Hasilnya sama. Getir, nyaris seperti ada residu tembaga yang tertinggal di permukaan kristal. Bukan rasa garam murni yang seharusnya mengendap.

Otakku bekerja cepat, membandingkan data sensorik ini dengan ribuan catatan yang ada dalam memori fotografisku. Sepuluh tahun aku di sini, mengamati setiap perubahan cuaca, setiap siklus pasang surut, setiap nuansa rasa yang muncul dari proses kristalisasi garam ini. Tidak pernah ada yang seperti ini.

Peluh menetes dari pelipisku, menelusuri garis rahang. Panas. Bukan hanya panas matahari, melainkan panas ingatan yang mendadak menyeruak. Getir di lidah ini, rasanya terlalu mirip dengan rasa pahit yang kutelan saat diusir dari rumah megah Ayah sepuluh tahun lalu. Sebuah tragedi yang membuatku percaya bahwa semua yang indah bisa hancur dalam semalam. Bisnis maritim keluarga kami, yang Ayah bangun dengan keringat dan kejujuran, runtuh. Bukan karena badai. Tapi karena tangan-tangan pengkhianat yang bersembunyi di balik senyum.

Aku menarik napas dalam, merasakan paru-paru terisi udara asin yang berat. Kenangan itu. Selalu datang seperti gelombang pasang, menarikku kembali ke dasar laut masa lalu. Aku mengenyahkan pikiran itu. Fokus. Ada anomali. Ini berarti ada sesuatu yang tidak beres di sumber air, atau mungkin di tanah tempat ladang garam ini dibangun.

Dengan gerakan sigap, aku mengumpulkan sampel air dari beberapa titik lain, memasukkannya ke dalam botol-botol kaca berlabel. Debu garam menempel di lengan bajuku, kilau putihnya seperti sisa-sisa mimpi yang belum sempat terwujud. Pekerjaanku sebagai Penguji Kadar Salinitas Tradisional adalah sebuah pelarian. Sebuah cara untuk menyederhanakan hidup, menjauh dari intrik dan pengkhianatan yang pernah menghancurkan nama Ismaya. Keterasingan ini, kupikir, adalah satu-satunya perisai.

Langkahku terasa berat menuruni gundukan tanah ladang garam menuju laboratorium kecilku. Bangunan itu berdiri di pinggir pantai, dindingnya kusam oleh hantaman angin laut dan garam. Aromanya khas: campuran garam, alkohol laboratorium, dan bau jamur tua dari rak-rak kayu yang sudah lapuk. Di dalam, tumpukan botol reagen berjejer rapi di atas meja kerja yang terbuat dari kayu jati. Lampu pijar tunggal menggantung rendah, memancarkan cahaya kuning redup ke arah mikroskop tua yang menjadi saksi bisu hari-hariku yang monoton.

Aku meletakkan botol-botol sampel dengan hati-hati. Udara di dalam terasa lebih sejuk, namun ingatan pahit itu masih membakar. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan debar jantung. Bayangan Paman Handoko, yang dulu kukira pelindung, kini muncul dengan wajah buram, seperti bayangan yang disaring air laut.

Aku membuka mata, lalu meraih botol reagen berwarna biru. Ini akan memakan waktu. Analisis kimiawi akan mengkonfirmasi apa yang lidahku sudah rasakan. Proses ini selalu mendamaikanku. Rutinitas, angka, data. Sebuah dunia yang lebih bisa dipercaya daripada janji manusia.

Saat aku hendak memulai pengujian pH, sebuah ketukan keras terdengar di pintu kayu yang sudah berlumut itu. Ketukan yang tidak biasa. Penduduk desa tidak pernah mengetuk seperti itu. Mereka tahu aku tidak suka diganggu saat bekerja. Firasat buruk merayap, seperti dinginnya air Teluk Kelam yang menusuk tulang.

Aku berbalik, melangkah mendekati pintu, merasakan lantai kayu berderit di bawah kakiku. Setiap derit seperti menunda kenyataan. Aku memegang gagang pintu, dingin dan kasar di telapak tanganku. Siapa?

Pintu terbuka. Di ambang sana, berdiri seorang pria tinggi tegap. Ia mengenakan jaket selam hitam yang basah, rambutnya yang gelap sedikit acak-acakan oleh angin laut. Di tangan kirinya, ia memegang helm selam canggih. Di tangan kanannya, sebuah kotak alat yang tampak berat. Matanya, yang berwarna gelap seperti dasar laut, menatapku lurus. Ada ketenangan di sana, namun juga intensitas yang tidak bisa kusangkal.

“Maaf mengganggu,” suaranya berat, namun ramah. “Saya Baskara Jati. Penyelam Arkeologi Forensik. Saya mencari Gendis Ismaya, Penguji Kadar Salinitas. Saya dengar Anda yang terbaik di pesisir ini.”

Lidahku kelu. Namaku. Nama Ismaya. Sudah bertahun-tahun aku tidak mendengarnya disebut oleh orang asing dengan nada setegas itu. Penyelam Arkeologi Forensik? Kata-kata itu berputar di kepalaku, membawa serta bayangan bangkai kapal dan rahasia yang terkubur di dasar laut. Di belakang pria itu, terhampar Teluk Kelam, dengan airnya yang gelap dan ombaknya yang bergemuruh pelan. Tempat kapal Ayahku tenggelam. Tempat yang penduduk desa yakini terkutuk. Namun bagiku, itu adalah kuburan rahasia.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Baskara?” tanyaku, mencoba menjaga suaraku agar tetap netral, meskipun di dalam, seluruh sarafku tegang seperti senar biola yang ditarik kencang. Aroma logam basah dan air laut yang tajam dari pakaiannya menyebar di labku, menggeser bau garam dan reagen yang selama ini kukenal.

Baskara mengangguk. Ia mengangkat kotak alatnya sedikit. “Saya butuh analisis sampel air dari Teluk Kelam. Kami menemukan sesuatu di sana. Sesuatu yang sangat tua.”

Teluk Kelam. Jantungku berdebar lebih kencang. Ia tahu. Atau ia akan segera tahu. Rahasia yang selama ini berusaha kukubur, kini seolah ditarik ke permukaan oleh kehadirannya. Rasa waspada mencengkeram. Pertemuan ini bukan kebetulan. Aku tahu itu.

Pandanganku beralih dari wajahnya, ke laut di belakangnya. Ombak bergulung, seolah mencoba menelan apa pun yang berani mengusik dasarnya. Di sana, di antara karang dan lumpur, tersembunyi kebenaran yang tidak ingin kubuka.

“Untuk apa?” tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih tajam. Aku tidak bisa membiarkan kegetiran masa lalu kembali meracuni hidupku lagi.

Baskara menatap mataku, seolah mencoba membaca apa yang tersembunyi di baliknya. “Untuk kebenaran, Nona Gendis. Hanya itu.”

Kebenaran. Kata itu bergaung, memantul di dinding lab yang lembap, mengusik ketenangan yang selama ini kubangun. Aku menelan ludah, merasakan sisa getir di lidahku. Rasanya tidak akan pernah hilang.

Memuat komentar...